Yoga Darsana

Oleh : Ida Bagus Wika Krishna

Maharsi Patanjali merupakan pendiri dari sistem filsafat Yoga yang merupakan tambahan dari filsafat samkhya, namun pendiri dari sistematika yoga adalah Hiranyagarbha. Kata yoga secara etimologi berasal dari kata ‘yuj’ yang berarti menghubungkan, jadi yoga merupakan pengendalian aktivitas pikiran dalam rangka penyatuan roh individual dengan roh tertinggi. Dalam Yoga Sutra disebutkan “ Yogas Citta Wrtti Nirodah ” . Yoga adalah pengekangan /pengendalian benih- benih pikiran ( citta ) dari pengambilan berbagai wujud ( perubahan : Wrtti ).

System filsafat yoga mengakui eksistensi Isvara, sehingga bersifat Sa-Isvara. Isvara (Tuhan) merupakan purusa istimewa yang tidak terpengaruh oleh penderitaan, beliau merupakan asas yang kemahatahuan, yang tidak terpengaruh oleh waktu dan ruang, abadi, terbebas selamanya. Evolusi semesta dalam yoga tetap menerima 25 tattwas dari samkhya, namun menambahkan Isvara (Tuhan) sebagai saksi abadi.

‘Yoga Sutra’ yang ditulis oleh Maharsi terdiri dari 4 bagian terdiri dari 196 sutra ,yang secara garis besar isinya sebagai berikut :
1.Bagian pertama disebut Samadhi- pada. Isinya menerangkan tentang sifat, tujuan dan bentuk ajaran yoga. Pada bagian ini pula dijelaskan adanya perubahan- perubahan pikiran dalam melakukan yoga.
2.Bagian kedua disebut Sadhana- pada. Isinya menjelaskan tentang tahapan- tahapan pelaksanaan yoga, cara mencapai samadhindan pahala yang akan didapat oleh mereka yang telah mencapai samadhi.
3.Bagian ketiga disebut Wibhuti- pada. Isinya mengajarkan tentang hal- hal yang bersifat batiniah, tentang kekuatan gaib yang didapat oleh mereka yang melakukan praktek yoga.
4.Bagian keempat disebut Kaiwalya –pada. Isinya melukiskan tentang alam kelepasan dan keadaan jiwa yang telah dapat mengatasi keterkaitan duniawi.

Pada intinya ajaran yoga bertujuan untuk mengembalikan jiwa individu kepada asalnya yaitu Parama atman dengan jalan membersihkannya dari segala ikatan maya (Triguna). Sehingga ia sadar akan jati dirinya (Atman) ikatan yang diakibatkan oleh perubahan citta yang muncul dari rintangan-rintangan guna, menimbulkan kesusahan dan kesedihan di dalam hidup yang disebut klesa. Klesa ada lima bagian yaitu :

Awidya :Kebodohan.
Asmita : Keakuan.
Raga : Keterikatan.
Dwesa : Kebencian.
Abhiniwesa : Ketakutan dan kematian.

Kelima klesa ini dapat dilenyapkan dengan jalan melaksanakan kriya yoga sehingga dalam proses yoga mampu membantu guna mencapai samadhi dengan jalan melaksanakan Kriya yoga. Adapun mengenai Kriya –Yoga di dalam Yoga Sutra ( II-1 ) disebutkan :

TAPAH SWADHYAYESWARA PRANIDHANANI KRIYA YOGAH
Artinya :
Kesederhanaan (tapah), mempelajari kitab suci (swadhyaya), dan penyerahan hasilnya (pengabdian ) kepada Tuhan, semuanya ini merupakan ‘ disiplin yoga yang disebut Kriya- Yoga.

Apabila kelima klesa tersebut belum dihilangkan, maka ia akan terus-menerus mengganggu citta/ pikiran dalam proses pencapaian samadhi, yang diakibatkan oleh gerakan Tri Guna .Akibatnya didalam proses yoga ada lima tingkatan keadaan mental yang dialami bagi yang melaksanakan yoga tersebut yaitu :
Ksipta : pikiran tidak diam- diam dan selalu mengembara.
Mudha : pikiran itu lamban/ malas.
Wiksipta : pikiran itu bingung /kacau.
Ekagra : pikiran itu terpusat pada satu objek.
Nirudha : pikiran itu tenang terkendali.

Yoga secara umum dipilah menjadi dua bagian yaitu Hatha Yoga (Gratastha Yoga ), dan Samadhi Yoga yang salah satu bentuknya adalah Raja Yoga. Hatha yoga secara spesifik menangani proses latihan fisik guna membentuk jasmani yang kokoh, nantinya menjadi dasar menuju tingkatan Raja Yoga, guna kemampuan untuk mengendalikan gerak pikiran, mengingat didalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang bersih .
Maharsi patanjali memberikan tahap–tahapan dalam pelaksanaan yoga yang lebih dikenal dengan sebutan Astangga Yoga . Adapun pembagiannya diuraikan sebagai berikut :

YAMA NIYAMASANA PRANAYAMA PRATYAHARA DHARANA DHYANA SAMADHA YO’STAW.ANGGANI.
Artinya :
Pengekangan diri (Yama), kepatuhan yang mantap ( Niyama), sikap badan (Asana), pengaturan pernafasan (Pranayama), penyaluran (Pratyahara), pemusatan (konsentrasi: Dharana ), perenungan (Dhyana), penyerapan (Samadhi), semuanya ini adalah bagian (dari disiplin diri dari Yoga ).

1.YAMA.

AHIMSA SATYASTEYA BRAHMACARYAPARIGRAHA YAMAH.
Artinya :
Yama (pengekangan diri) terdiri dari tanpa kekerasan ( Ahimsa ) kebenaran (Satya), tiada mencuri (Asteya), pembujangan (Brahmacari) dan ketiadaan keserakahan (aparigraha ).
Yama merupakan tahapan pengendalian diri ( Moralitas ) awal yang terdiri dari lima prinsip atau ketaatan wajib, yang merupakan kode etik universal (sarwabhauma mahavrata) terdiri dari :

Ahimsa berarti tidak menyakiti atau membunuh mahluk hidup, baik melalui pikiran, perkataan dan perbuatan. Pengertian ahimsa ini hendaknya tidak diterjemahkan secara ekstrem, karena bagaimanapun juga manusia tunduk pada siklus kehidupan yang mengharuskan untuk mengorbankan mahluk guna mempertahankan hidupnya. Hendaknya Ahimsa dilaksanakan dengan landasan Wiweka.
Satya artinya berpegang teguh pada kebenaran baik dalam bentuk pikiran, perkataan dan perbuatan.
Asteya artinya tidak menginginkan dan merebut hak orang lain ( tidak mencuri ).
Brahmacarya artinya menjunjung tinggi kesucian diri dan orang lain dengan tidak melakukan seks bebas.
Aparigraha artinya tidak berlebihan dalam menikmati benda kesenangan guna mempertahankan hidup /hidup puas dengan apa adanya.

2. NIYAMA

SAUCA SAMTOSA TAPAH SWADHYAYESWARA PRANIDHANANI NIYAMAH
Artinya :
Pemurnian internal dan eksternal ( sauca ), kepuasan ( kesejahteraan: Samtosa), kesederhanaan (tapah), belajar sendiri ( swadyaya), dan penyerahan diri pada Tuhan (Iswara pranidhana) semuanya ini termasuk kepatuhan yang mantap (Niyama).

Niyama merupakan pengendalian diri tahap kedua yang terdiri atas :
Sauca artinya meningkatkan kesuciaan, kemurnian lahir batin.
Santosa artinya keadaan yang menyenangkan dan wajar tanpa tekanan dan kepura- puraan sehingga tercapainya keseimbangan mental.
Tapa artinya melakukan usaha yang sungguh- sungguh guna mencapai tujuan.
Svadhyaya artinya mempelajari kitab- kitab suci, sehingga mampu memahami setiap permasalahan spiritual.
Ishvara Pranidhana artinya penyerahan diri sepenuhnya kepada Tuhan.

Pelaksanaan Yama Niyama yang merupakan kode etik universal yang di peruntukkan untuk semua golongan, akan membentuk disiplin etika yang mempersiapkan siswa yoga, guna pelaksanaan yoga selanjutnya. Karena bagaimanapun juga moralitas merupakan dasar spiritual, namun perlu disadari bahwa moralitas bukanlah tujuan akhir dari perjalanan spiritual namun lebih merupakan pondasi yang kokoh guna pencapaian yoga yang baik. Dari kesepuluh pembagian Yama Niyama yang terpenting diantaranya adalah Brahmacarya dan Ishvarapranidhana, sedangkan delapan lainnya merupakan penunjang dari keduanya.

3. ASANA

STHIRA SUKHAM ASANAM
Artinya :
Sikap badan ( hendaknya ) mantap dan nyaman.

Asana artinya sikap tubuh, secara prinsip maharsi patanjali tidak mengharuskan para Yogi untuk menggunakan posisi tertentu. Apapun pilihan asana yang disukai, dipersilahkan asalkan mampu dipertahankan dan membangun kenyamanan guna penguasaan Citta dari pengaruh Guna. Secara umum terdapat 8.400.000 jenis asanas, sesuai dengan jumlah mahluk hidup yang ada di dunia ini, dari sekian banyaknya hanya 1.600 jenis yang terbaik, dan dari antaranya hanya 32 jenis yang sangat berguna bagi manusia, dua di antaranya sangat populer yaitu, Muktapadmasana dan Baddhapadmasana.

4. PRANAYAMA

TASMIN SATI SWASA PRASWASAYOR GATIWICCEDAH PRANAYAMAH.
Artinya :
Pengendalian gerakan nafas masuk dan nafas keluar mengikuti setelah ini

Pranayama merupakan ilmu tentang cara pengendalian nafas melalui pengaliran prana. Sehingga mampu membawa pikiran dalam keadaan tenang (laghawa) dan mudah untuk berkonsentrasi. Kondisi nafas dalam kehidupan secara normal yaitu puraka (nafas masuk), rechaka (nafas keluar) dan kumbhaka (penahanan nafas dia antara dua geraka di atas ). Napas yang dipimpin oleh pikiran, merupakan tenaga yang kuat dalam menghidupkan kembali sel-sel tubuh, yang digunakan untuk pengembangan diri sehingga mampu mengatasi berbagai penyakit dan dengan pranayama maka nadi-nadi akan menjadi bersih sehingga mampu membantu bangkitnya kundalini.

Olah nafas terdiri dari berbagai jenis, yang lebih lanjut diterangkan dalam Yoga Kundalini sebagai contoh, salah satunya yaitu Sukh Purvak. Sukh Purvak merupakan pranayama ringan dan menyenangkan “ Duduk dengan Padmasana atau Siddhasana. Tutup lobang hidung kanan dengan jempol tangan kanan. Menghisap napas ( Purvak) melalui lobang hidung kiri perlahan-lahan dengan menghitung 3 kali OM ( OM, OM, OM ). Pikirkan bahwa kamu lagi menghisap prana dengan memasukkan hawa. Lalu tutup lobang hidung kiri juga dengan jari manis dan kelingking kanan. Tahan nafasmu dengan menghitung 12 kali OM. Tengah menahan nafas, pikirkan bahwa kamu mengalirkan prana kebawah Muladhara Chakra. Bayangkan juga prana itu memukul Muladhara Chakra dan membangunkan kundalini. Lepaskan jempol kananmu dengan menghitung 6 kali OM “. begitulah hendaknya diulang terus-menerus.

5. PRATYAHARA

SWA WISAYASAMPRAYOGE CITTA SWARUPANUKARA IWENDRIYANAM PRATYAHARAH
Artinya :
Pratyahara atau penarikan organ indra, adalah peniruan indra-indra oleh pikiran dengan penarikannya sendiri dari obyek-obyeknya.

Pratyahara merupakan penarikan Indria dari obyek- obyek duniawi di bawah pengawasan pikiran, karena Indria cenderung untuk menikmati obyek- obyek yang disenangi, sehingga menggoyahkan pikiran sehingga perlu untuk mengendalikan dan menariknya dari obyek duniawi.

6. DHARANA
DESA BANDHAS CITTASYA DHARANA
Artinya :
Dharana merupakan pemusatan pikiran dalam satu wilayah mental yang dibatasi.
Dharana artinya pemusatan pikiran secara terfokus pada suatu obyek tertentu sesuai dengan minat seorang sadhaka, salah satunya ialah dengan memilih salah satu Ista Dewata ( Dewa yang disukai ) ataupun kepada Beliau yang bebas bentuk dalam keadaan Nirguna.

7. DHYANA

TATRA PRATYAIKATANATA DHYANAM
Artinya :
Aliran pengetahuan yang terus menerus pada obyek itu, adalah dhyanam

Dhyana artinya terpusatnya pikiran pada suatu obyek secara berkala dan terus-menerus tanpa tergoyahkan, melalui dhyana maka berkembanglah kualitas kesadaran murni.

8. SAMADHI

TAD EWARTHAMATRA NIRBHASAM SWARUPA SUNYAM IWA SAMADHIH
Artinya :
Kontemplasi yang sama bila terdapat hanya kesadaran terhadap objek meditasi itu sendiri dan bukan pikiran, adalah samadhi.

Samadhi merupakan keadaan supra sadar yang didapatkan melalui proses pemusatan pikiran yang sangat kuat dan mendalam, terbebas dari sangkalpa dan keterikatan duniawi sehingga mencapai mukti dan persatuan jiwa dengan Paramatma. Tujuan tertinggi dari keseluruhan sistem yoga adalah keterpisahan mutlak antara purusa dan prakrti, yaitu tercapainya kaiwalya atau kemerdekaan mutlak. Bebasnya purusa kedalam wujud yang sebenarnya (swarupa) tidak lagi bergantung pada apapun didunia ini.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*