Wedanta Darsana

Oleh: Ida Bagus Wika Krishna

Wedanta yang disebut juga Uttara Mimamsa merupakan sistem filsafat yang bersumber langsung pada Weda. Wedanta berarti “bagian akhir Weda”. Bagian akhir Weda disebut dengan istilah upanisad yang artinya “duduk dekat dengan guru” dalam rangka menerima ajaran-ajaran rahasia Tuhan melalui seorang guru. Sumber filsafat Vedanta dari kitab-kitab; Upanisad, Bhagavad-gita dan Brahma-sutra, yang ketiganya disebut Prastana-traya.

Usaha pertama yang dilakukan untuk menyusun ajaran Upanisad secara sistematis dilakukan oleh Badarayana (Sri Wyasa) di dalam kitabnya yang disebut Wedanta-sutra atau Brahma-sutra (kira-kira 400 Sebelum Masehi). Wedanta-sutra yang terdiri dari 555 sutra dibagi menjadi empat bab, yaitu Bab I, menunjukkan bahwa Brahman adalah realitas tertinggi, dan bahkan segala ayat Weda mengandung Brahman di dalamnya. Bab II, membicarakan keberatan-keberatan yang diajukan oleh orang-orang yang tidak menyetujuainya serta menunjukkan bahwa ajaran-ajaran yang tidak sesuai dengan Wedanta tidak dapat dipertahankan. Bab III, membicarakan tentang cara pencapaian Brahma widya. Bab IV, membicarakan tentang buah dari Brahma widya dan juga uraian tentang bagaimana roh pribadi dapat mencapai Brahman.

Filosofi kehidupan Vedanta merupakan pelengkapan dan penyempurnaan filsafat hidup Mimamsa. Kehidupan bagi mereka yang mengasingkan diri dari aktivitas dunia (sannyasin) termasuk dalam tahap terakhir dari Catur Asrama dan dipandang sebagai kulminasi kehidupan setiap orang.

Berikut adalah rumusan-rumusan dalam konsep Wedanta yang terkenal :

•Ekam Ewa Adwityam : Realitas (Brahman) hanya satu, tiada yang ke dua.
•Brahman Satyam Jagan Mithya, Jiwo Brahmaiwa Na Aparah : Sesungguhnya hanya keberadaan Brahman, dunia hanya khayalan, roh pribadi tiada lain adalah Brahman.
•Sarwam Khalwidam Brahma : Sesungguhnya semua ini adalah Brahman.
•Satya Jnanam Anantam Brahma : Brahman adalah pengetahuan dan tak terbatas
•Brahmawid Brahmaiwa Bhawati : Yang mengetahui Brahman adalah Brahman
•Santam Siwam Adwaitam : Brahman adalah kedamaian , keberuntungan dan tanpa dualitas
•Ayam Atma Santah : Atman ini adalah keheningan
•Asanggo Ayam Purusa : Purusa ini tak tersentuh
•Santam, Ajaram, Amrtam, Abhayam, Param : Brahman ini adalah kedamaian, tanpa usia tua, abadi, tanpa kekuatan, dan tertinggi.

Brahman-Maya-Jiwa

Brahman dalam konsep Wedanta bersifat mutlak dan tunggal adanya, menjadi roh setiap kehidupan. Beliau merupakan penyebab material dan instrumental dari alam semesta, dan diantara Brahman dan alam semesta tidak ada bedanya, beliau adalah alam semesta itu sendiri. Brahman mengembangkan dirinya menjadi alam semesta guna lila dan kridaNya, namun beliau tetap utuh dan tidak berubah. Brahman merupakan paramarthika satta (realitas mutlak), alam dunia adalah wyawaharika satta (realitas relatif), dan obyek-obyek dari mimpi adalah prathibasika satta (realitas yang nyata).

Maya merupakan karana sarira dari Brahman, namun demikian maya merupakan sakti (kekuatan) dari Brahman. Maya memiliki 2 kekuatan, yaitu daya menyelubungi (awarana sakti) dan daya pemantulan (wiksepa sakti). Inilah yang menyebabkan tersembunyinya yang nyata dan membuat yang tidak nampak menjadi nyata. Jiwa atau roh dalam diri manusia diselubungi oleh lima lapisan yang disebut Panca Kosha yaitu : anna maya, prana maya, mano maya, wijnana maya, dan ananta maya ( badan fisik ).

Anna maya kosa merupakan lapisan makanan yang terdiri dari unsur : tanah,air, api, yang berada pada cakra- cakra terbawah yaitu muladhara, swadisthana, dan manipur cakra. Lapisan kedua yaitu prana maya kosha merupakan lapisan nafas (prana) terletak pada anahata dan wisudha cakra. Lapisan berikutnya yaitu manomaya kosha dan wijnana maya kosha merupakan pembentuk jiwa antah karana yang terdiri dari empat kesatuan yaitu jiwa kecerdasan terdiri dari dua aspek yaitu budhi dan manas, kesadaran ego ( Ahamkara ) dan Chitta berada pada Ajna Chakra dan sedikit diatas cakra ini. Dan yang terakhir yaitu ananda maya kosha berada di tengah- tengah kepala ( Sahasram ) cakra yang merupakan tempat atma dari lapisan jiwa terakhir.

Demikianlah panca kosha sebagai selubung dari atma.”Di dalam lapisan pertama Iswara memanifestasikan diri menjadi keanekaragaman kesadaran terhadap wujud misalnya hitam atau putih, pendek atau tinggi, tua atau muda. Di dalam lapisan prana maya kosha, Dia merasa hidup merasa lapar dan haus, sakit dan sehat. Di dalam lapisan mental dia berfikir dan memahami. Dan di dalam lapisan anandam Dia berbahagia dan ingin tinggal di dalam kebahagiaan abadi. Demikianlah Iswara yang mengenakan lima lapisan kain pembungkus walau Dia menembus segalanya kelihatan seperti terbatas dibatasi oleh kelima lapisan selubung jiwa tersebut. Sang jiwa atau roh pribadi harus mengatasi seluruh lapisan ini dengan meditasi dan menjadi satu dengan Roh tertinggi untuk mencapai pembebasan.

Jiwa atau roh pribadi memiliki tiga keadaan kesadaran, yaitu keadaan jaga, mimpi, keadaan tidur terlelap, dan yang terakhir adalah keadaan turiya atau keadaan supra sadar, turiya menjadi saksi dari tiga keadaan lainnya, yang tiada lain adalah Brahman sendiri. Manusia hendaknya mengatasi tiga keadaan lainnya dengan keadaan turiya dan mempersamakan diri dengannya untuk mencapai penyatuan. Melalui filsafat wedanta, wicara (pencarian), perenungan dan meditasi pada Brahman maka semua hayalan akan lenyap.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*