WANAKERTIH DI GUNUNG GAMBAR

Gunungkidul, senin 8 Februari 2016 umat Hindu di Kabupaten Gunungkidul melaksanakan upacara Wanakertih. Upacara ini merupakan upacara untuk menjaga alam atau hutan agar tetap lestari dan selalu berdampingan dengan makhluk yang ada disekitarnya. Upacara wanakertih dilaksanakan ketika akan menyambut hari Raya Nyepi yaitu tahun baru Saka. Dimana ritual tersebut oleh umat Hindu yang ada di Gunungkidul khususnya di Kecamatan Ngawen menjadi agenda tahunan.

10329674_837835062993236_4194325153049427399_o 12657815_837835286326547_6610168839154423633_o 12657957_837835132993229_3216534915367726252_o 12716405_837835362993206_3287015747585538877_o

Kegiatan upacara wanakertih bertempat di petilasan Eyang Gading Emas puncak Gunung Gambar. Tahun ini upacara wanakertih mengambil tema “keberagaman mempererta persatuan dan harmoni nusantara. Upacara tersebut diikuti sekitar 1500 an umat Hindu yang ada di wilayah Gunungkidul dan Kabupaten Klaten. Dimana pelaksanaan ritual tersebut di pimpin oleh Pinandita Purwadi. Hadir pada kesempatan tersebut Bimas Hindu Kanwil Kementerian Agama D.I.Yogyakarta, PHDI Kabupaten Gunungkidul, Kadinas Pariwisata Gunungkidul, Camat Ngawen, Kapolsek Ngawen, serta pejabat terkait.

12657444_837835699659839_4295702403865869904_o 12698324_837836152993127_2862504706996404340_o 12657184_837835449659864_5600477677468006567_o 12474002_837836539659755_2115278510959985525_o

Pelaksanaan upacara tersebut diawali dengan arak-arakan diawali Kirab Jempana, sesaji, gunungan, tari dan tetabuhan menuju petilasan Eyang Gading Emas. Setelah itu dilanjutkan dengan seremoni dengan laporan panitia, sambutan dan penanaman pohon. Menurut Ida Bagu Wika Krishna, S.Ag, M.Si dalam sambutannya bahwa upacara Wanakerti ini mempunyai filosofi upaya untuk menjaga kesucian atau kelestarian hutan dan pegunungan. Dalam tata ruang kosmik Hindu ada tiga jenis hutan, yaitu Maha Wana (hutan rimba yang masih asli dan belum tersentuh manusia), Tapa Wana (hutan suci tempat dimana para yogi membuat pusat pertapaan atau pesraman), dan Sri Wana (kawasan hutan yang dimanfaatkan sebagai sumber kemakmuran ekonomi).

Secara sekala, wanakrti dilaksanakan dengan menghormati, menjaga kelestarian dan kealamian hutan-hutan dan gunung, agar tidak rusak ekosistemnya. Ini dilakukan sebagai langkah menyeimbangkan alam dan kehidupan dari perilaku manusia dalam mengekploitasi hutan secara tidak bijak. Secara niskala wanakrti dilaksanakan agar hutan selalu bersahabat dengan makhluk yang ada disekitarnya dan menetralkan pengaruh negative pada makhluk yang ada dilingkungan hutan.

Kemudian dilanjutkan dengan penanaman pohon secara serentak oleh Pembimas, bapak camat, Dinas Pariwisata Gunungkidul, PHDI Gunungkidul dibantu oleh anak – mahasiswa dari KMHD Yogyakarta. Penanaman Pohon tersebut sebagai wujud harmonisasi antara manusia dengan alam lingkungannya.

12710748_837836639659745_6187030818756370003_o 12698693_837836702993072_3922416837809592153_o

Diakhir ritual wanakertih dilakukan acara gerebek Gunungan. Dimana umat Hindu akan berebut gunungan tersebut yang nantinya akan dibawa pulang. Pada acara gerebek inilah yang dinantikan oleh umat Hindu untuk meminta rejeki pada Hyang Widhi Wasa, sebab dengan membawa pulang dari hasil gerebek mereka percaya hasil tersebut apabila ditanam akan mendapatkan tanaman yang bagus dan hasilnya juga berlimpah. Itu sebabnya masyarakat yang ada di Gunungkidul khususnya umat Hindu selalu melaksanakan upacara wanakerti ini.

Semoga harapan kita, dengan adanya upacara wanakertih tersebut akan memberikan kedamaian, kesejukan dan kesejahteraan pada semua mahluk…..

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*