UMAT HINDU YOGYAKARTA IKUTI UPACARA PIODALAN DI PURA JAGADNATHA BANGUNTAPAN

Bantul-(SHD), Rabu 5 April 2017 Pura Jagadnatha Banguntopo melaksanakan upacara Piodalan. Setiap 6 bulan sekali pura Jagadnatha melaksanakan piodalan Pura yang juga bertepatan dengan hari Raya Galungan. Pada acara piodalan kali ini, tampak berbeda dibandingkan piodalan-piodalan yang sudah lewat. Walaupun suasana hujan gerimis mengiringi, semangatdan ketulusan  para penyungsung dalam melaksanakan piodalan sangat jelas terlihat, begitu juga dengan umat yang datang terlihat jelas bahwa setiap orang tidak ingin melewati moment yang sangat penting dan sakral tersebut untuk menghaturkan bhkati dan syukur.

Perbedaan yang terlihat  adalah Lantunan Gambalan Bali dan Jawa yang membuat umat ikut meresapi ke setiap proses piodalan, Tepat pukul 18.30 Upacara Piodalan dibuka oleh pemandu Acara. Diawali dengan pembacaan Wedawakya oleh murid Pasraman Padma Bhuana. Mangala Upacara piodalan Pura Jagadnatha oleh Ratu Begawan Putra Manuaba. Diawali dengan ngelinggihan Ida Betara/Menstanakan Tuhan, kemudian disambut dengan tari sakral Mahapuja,  yang diciptakan oleh Ni Ketut Suriastini (Sanggar Tari Siwa Nataraja) merupakan tarian yang diciptakan untuk memuja Dewa Mahadewa (Siwa), diiringi dengan Karawitan  Pasraman Widya Dharma dan yang terdiri dari 9 penari yang berasal dari dari berbagai Mahasiswi di universitas yang ada di DIY. Kemudian selesai tari Sakral Mahapuja dilanjutkan dengan  Tari Rejang Dewa yang ditarikan oleh anak-anak Pasraman Padma Bhuana atas asuhan dari Ni Kadek Rai (Sanggar Tari Bali Saraswati) dan diiringi oleh tabuh Bali KPB Purantara Yogyakarta.

Pada Piodalan tersebut, Bapak Letkol Sus Made Worda Negara sebagai Dharma Pracaraka menyampaikan begitu banyak peristiwa-peristiwa baik di lingkungan kehidupan masyarakat, di media cetak maupu televisi yang memberitakan berita yang membuat resah dan prihatin. Semua itu dikarenakan masih banyak orang yang belum memiliki pondasi ajaran agama yang kuat. Beliau menyampaikan semetinya kita memahami ajaran Agama secara mendasar, bertahap, dan berkelanjutan untuk dapat menjadi manusia yang memiliki pondasi yang kuat dan moral yang baik. Beliau mangajak untuk memahami dan mempraktekan kembali ajaran-ajaran dasar agama, mamahami dan mengaplikasikan dengan ajaran Tri Pramana Telu, yaitu Tri Pramana I (Agama, Anumana dan Pratiyaksa) , Tri Pramana II (Sastratah, Gurutah dan Swatah)  dan Tri Pramana III (Desa, Kala dan Patra) sehingga dengan demikian manusia akan memiliki pondasi yang kuat dan bisa menyesuiakan dengan lingkungan di sekitar.

Setelah Dharma Wacana, acara selanjutnya adalah prosesi Piodalan diawali dengan penyucian banten kemudian Ngayab Banten/Menghaturkan sesaji. Setelah itu Tari Topeng Sida Karya menjadi pelengkap acara Prosesi Piodalan tersebut. Tari Topeng Sida Karya ditarikan oleh Ir. Ketut Gunawan, MT, dan diringi oleh sekha tabuh KPB Purantara. Selesai tari Topeng Sida Karya dilanjutkan dengan Persembahyangan Piodalan yang dipandu oleh Bapak Wasi Achir A.W. sekitar Pukul 20.45 upacara piodalan pura yang dihadiri sekitar 500 umat selesai dilaksanakan.(Mang Santi**).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*