‘TRI PARARTHA’ Hidup Ideal Umat Hindu

Oleh : Ida Bagus Wika Krishna

Tri Parartha dalam lontar Kamahayanikan 64 disebutkan : Tri Parartha ngaranya asih, punya bhakti, artinya Tri Parartha terdiri dari tiga hal, yaitu 1). Asih, Punya, dan Bakti. Asih berarti kita sebagai manusia yang didudukkan sebagai mahluk yang utama dengan berbekal wiweka hendaknya selalu mencintai dan menjaga semua ciptaan Ida Hyang Widhi Wasa.

Kata Asih juga mempunyai padanan dengan Cinta Kasih, cinta kasih merupakan dua kata yang mengandung arti psikologis yang bersumber dari ungkapan perasaan, dalam kasih sayang terdapat tanggung jawab untuk menciptakan keseimbangan dan kedamaian hidup antar manusia dengan semua mahluk yang ada di dunia ini. Kasih sayang sangatlah sulit untuk di lukiskan dengan rangkaian kata, karena kasih sayang hanya dapat dimengerti dengan bahasa tindakan, kasih sayang yang murni bila dikiaskan bagaikan bunga yang memenuhi pikiran dan perasaan kita dengan kebahagiaan dan tanpa kekerasan atau ahimsa adala bau harum dari bunga tersebut.

Apabila cinta kasih digunakan sebagai dasar dari aktifitas hidup, maka perbuatan kita menjadi Dharma, bila perasaanmu dijiwai oleh cinta kasih maka hatimu akan dipenuhi dengan kebahagiaan dan kedamaian tertinggi, cinta adalah dasar Tuhan menciptakan seluruh isi semesta raya ini, karena itu kita sebagai manusia hendaknya selalu menyirami kebencian dan konflik-konflik emosional dengan cinta kasih.

Ajaran Tri Parartha yang ke dua yaitu Dana Punya, Dana punya berarti memberikan sesuatu kepada semua mahluk, dalam kitab Sarasamuscaya sloka 180 di sebutkan : …dana ya ta winehakenya ring sarwabhawa, tan pagawe takutning sarwabhawa kalinganya, ikang wwang mangkana kramanya, ya ika tan kataman bhayan haneng rat, amoghasih awelas anukula bhakti ikang sarwabhawa iriya dlaha. Artinya : … dana yaitu sesuatu yang diberikan kepada semua mahluk, tegasnya tidak membuat takut kepada semua mahluk ,orang yang demikian itu tidak akan mendapatkan bahaya di dunia karena pasti di cintai, tunduk bakti semua yang ada kepadanya kelak.

Dana punya merupakan ajaran yang tentunya sering kali diajarkan, namun dalam kitab sarasamuscaya dijelaskan bahwa ajaran dana punya inilah yang paling sulit untuk dilaksanakan, karena setiap manusia pada umumnya cenderung terikat dengan harta bendanya yang diperoleh dengan susah payah, sehingga cenderung tidak rela melepaskan harta bendanya untuk di berdana punya. Namun marilah kita tetab berusaha melakukannya sedikit demi sedikit, sehingga makin lama akan terbiasa untuk berdana punya.

Kemudian dalam ajaran Hindu, orang-orang yang pantas menerima dana punia adalah orang-orang yang berkelakuan baik, miskin dan benar-benar memerlukan bantuan, memberikan dana punyapun hendaknya memperhatikan apa yang diperlukan oleh orang yang akan diberikan punya, sehingga dana tersebut tidak salah arah dan tujuan. Berdana punya hendaknya selalu di praktekkan dalam kehidupan sehari-hari dengan dilandasi ketulus ikhlasan.

Ajaran Tri Parartha yang terakhir yaitu Bhakti, bhakti menghormati dan memuja, selain kepada Ida Sanghyang widhi Wasa, kita patut pula berbhakti kepada orang tua, para guru-guru suci, dan pemerintah. Bhakti juga merupakan salah satu jalan untuk mencapai jagadhita dan bahkan moksa, atau yang lebih lumrah di sebut dengan bhakti marga. Bhakti di bagi atas dua tingkatan, yaitu Aparabhakti dan parabhakti. Aparabhakti merupakan tindakan bhakti yang lebih rendah dan dipraktekkan oleh mereka yang belum mempunyai tingkat kesucian yang tinggi, dalam artian proses bhakti tersebut masih dipenuhi oleh harapan-harapan untuk memperoleh timbal balik dari apa yang dihaturkannya. sedangkan parabhakti merupakan perwujudan cinta kasih yang lebih tinggi tanpa adanya motif-motif untuk mengharapkan balasan dari semua yang dilakukan.

Ajaran bhakti merupakan ajaran yang sifatnya nyata berupa tindakan-tindakan untuk mengungkapkan rasa terimakasih kepada Tuhan, baik orang yang amat miskin maupun kaya, bodoh ataupun pintar dapat mengamalkan ajaran bhakti ini, bagi seorang bhakta tidaklah penting mengetahui secara mendalam hakekat dari ketuhanan, karena cukup merasakan sebagai mahluk kecil ciptaan Tuhan maka ia berkewajiban untuk mempersembahkan apa yang di milikinya kepada Hyang Widhi, seorang bhakta mencintai Hyang Widhi bukan karena ia ingin mendapatkan imbalan sorga ataupun moksa, karena bagi para bhakta kebahagiaan tertinggi adalah dengan mencintai dan mempersembahkan segalanya kepada Hyang Widhi sebagai sumber dan tempat kembalinya semua mahluk di jagat raya ini. Dalam prakteknya bhakti ini mempunyai dua bentuk utama, bentuk pertama dengan melakukan berbagai kegiatan persembahyangan dan upacara dengan berbagai sesajen, bersiarah ketempat-tempat suci dan mengucapkan nama suci Tuhan dalam setiap kegiatan, menyerahkan segala hasil dari semua aktifitas kepada Tuhan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*