TRADISI KUPATAN DI PURA BHAKTI DHARMA

Ketupat tidak lepas dari adanya sebuah perayaan lebaran. Tentunya di situ ada satu hal yang tidak pernah pisah dari perayaan Ketupat Lebaran. Seperti halnya yang dilakukan oleh umat hindu di Pura Bhakti Dharma dusun Tegalrejo,Beji,Ngawen,Gunungkidul. Setiap tahun, tepatnya pada saat sehari setelah hari Raya Nyepi, umat hindu Pura Bhakti Dharma melaksanakan persembahyangan Kopatan.

Ketupat itu sendiri memiliki sejarah yang mana pertama kali di perkenalkan oleh Kanjeng Kalijaga pada masyarakat Jawa.

Banyak sekali jenis ketupat. Namun, ketupat yang digunakan biasanya adalah ketupat jenis sinto. Pembuatan ketupat ini menggunakan janur/daun kelapa yang masih muda. Apabila menginginkan hasil ketupat yang besar, maka bisa menggunakan daun kelapa yang besar pula. Begitu sebaliknya.

Ketupat atau kupat dalam bahasa Jawa merupakan kependekan dari Ngaku Lepat yang artinya mengakui kesalahan. Tradisi sungkeman menjadi implementasi ngaku lepat  (mengakui kesalahan) bagi orang jawa. Prosesi sungkeman yakni memohon ampun di hadapan orang tua/sesepuh. Sebagaimana yang dilakukan oleh umat Hindu di Pura Bhakti Dharma ini, mereka melakukan prosesi sungkeman pada saat hari Raya Nyepi, tepatnya satu hari setelah melaksanakan catur brata penyepian,yang dimulai dari sesepuh atau yang paling tua terlebih dahulu. Kemudian yang muda meminta  ampunan kepada yang lebih tua. Sungkeman itu sendiri mengajarkan kepada kita akan pentingnya menghormati orang tua,bersikap rendah hati,memohon keikhhlasan dan ampunan dari orang lain. Khususnya adalah orang tua.

Selain itu, ketupat atau kupat itu sendiri mencerminkan kesalahan manusia. Hal ini bisa terliht dari rumitnya bungkusan ketupat. Tidak hanya itu saja, ketupat juga melambangkan kesucian hati manusia. Setelah ketupat dibuka, maka akan terlihat nasi putih yang hal ini mencerminkan keersihan dan kesucian hati setelah memohon ampunan dari segala kesalahan.

Perayaan ketupat sendiri diangkat dari tradisi dalam pemujaan Dewi Sri yaitu Dewi Kesuburan,dewi kelahiran dan kehidupan. Dewi Sri merupakan dewi tertinggi dan terpenting bagi masyarakat  agraris. Yang dalam hal ini direpresentasikan dalam bentuk ketupat yang bermakna ucapan syukur kepada Sang Hyang Widhi Wasa.

Dalam perayaan kupatan ini, ketupat disajikan dengan lauk yang bersantan. Namun ada juga lauk-lauk yang lainnya. Dalam pantun Jawa pun dikatakan “KUPAT DUDUHE SANTEN”  yang artinya kula lepat nyuwun pangapunten (saya salah mohon maaf).

  • Penulis             : Rahayu Fitriyani
  • Penyuluh Agama Hindu Non PNS DIY

 

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*