TAT TVAM ASI MEMEKARKAN RASA PERSAUDARAAN

Oleh: Ida Bagus Wika Krishna

Jagadhita merupakan tujuan hidup umat Hindu, sebuah kondisi hidup yang diwarnai dengan kedamaian, ketenangan, ketentraman, dan keharmonisan baik dalam diri setiap individu maupun dalam hidup bersama dalam kehidupan. Kondisi ini merupakan idaman bagi setiap insan manusia, karena jauh dilubuk hati setiap manusia selalu menginginkan kebahagiaan dalam hidupnya. Namun dalam menggapai kondisi jagadhita ini tentu memerlukan usaha dan perjuangan manusia dalam mencapainya, karena hidup juga dipenuhi dengan berbagai permasalahan, dalam konteks inilah sabda Gita ‘ Hidup adalah Perjuangan, Berjuanglah ‘ memberi inspirasi hidup.

Realitas hidup dewasa ini selalu dipenuhi dengan berbagai ketegangan hubungan antar manusia, konflik agama, kesukuan, dan keyakinan jelas mewarnai kondisi saat ini. Konflik Poso, Sampit, bom Bali, pengeboman dan penghancuran tempat suci agama jelas merupakan cerminan gambaran hidup yang dipenuhi rasa curiga, rasa permusuhan, dan rasa benar sendiri. Yang lebih mengerikan lagi, ketika konflik yang terjadi diluar negeri justru mempengaruhi dan memperuncing permasalahan kehidupan berbangsa kita, terutama dengan menghembuskan isu-isu perang agama sesama anak bangsa. Keadaan ini jelas kemunduran kita sebagai bangsa yang berlandaskan atas kesatuan dalam kebhinekaan (bhineka tunggal ika).

Dalam keadaan inilah setiap umat beragama hendaknya menggali kembali ajaran-ajaran agamanya, yang mengedepankan kerukunan dan keharmonisan hidup bersama, lebih-lebih bisa membangkitkan rasa bersaudara di hati setiap manusia. Dalam konteks ajaran Hindu, pelaksanaan Dharma Santhi inilah yang hendaknya dijadikan landasan dalam menciptakan harmonisasi hidup.

Tat Tvam Asi : Memekarkan Rasa Persaudaraan

Tat Tvam Asi merupakan salah satu dari Maha Vakya kitab suci Veda, yang tertuang dalam Chandogya Upanisad VI.8.7. Tat Tvam Asi berarti itu adalah kamu, konsep ini menekankan pada sisi ketuhanan dari jiwa manusia (Radhakrisnan, 1953: 143). Konsep ajaran Tat Tvam Asi merupakan akumulasi dan puncak dari pemahaman ajaran Hindu, arti ‘itu adalah kamu’ yang sering pulang diwacanakan dengan kalimat ‘ engkau adalah aku dan aku adalah engkau’ merupakan gambaran bahwa di dalam setiap mahluk hidup ada esensi yang sama yaitu Atman. Dalam Bhagawad Gita VI.29 menyebutkan :

Sarvabhutastham atmanam
Sarvabhutani ca’tmani
Iksate yogayuktatma
Sarvatra samadarsanah
Artinya :

Ia yang jiwanya diharmonikan oleh yoga, melihat atma menetap dalam semua mahluk dan semua mahluk dalam Atma. Di mana-mana ia melihat yang sama.

Atman merupakan percikan kecil dari Paramatman (Hyang Widhi), atman di dalam diri manusia disebut jiwatman yang menyebabkan manusia dan seluruh mahluk (sarwa prani) hidup yang disebut juga hidupnya hidup. Atman identik dengan Brahman itu sendiri “ Brahman Atman Aikyam” sehingga karakternya digambarkan sama. Ia bersifat sempurna, kekal, dan selalu berbahagia (anandam) yang merupakan roh semesta. Perpaduan atman dengan badan jasmani, menyebabkan mahluk itu hidup dan sekaligus terpengaruh oleh sifat-sifat maya yang menimbulkan awidya (kegelapan), sehingga lupa akan jati dirinya. Manusia terlahir dalam keadaan awidya yang menjadi sebab ketidak sempurnaannya, dan selalu berputar dari kelahiran ke kelahiran berikutnya (punarbhawa), sampai ia mampu memutuskan hukum tumimbal lahir.

Didalam Maha Nirwana Tantra lapisan selubung atman dalam tubuh manusia disebut Panca Kosha yaitu : anna maya, prana maya, mano maya, wijnana maya, dan ananta maya ( badan fisik ). Anna maya kosa merupakan lapisan makanan yang terdiri dari unsur : tanah, air, api, yang berada pada cakra- cakra terbawah yaitu muladhara, swadisthana, dan manipura cakra. Lapisan kedua yaitu prana maya kosha merupakan lapisan nafas (prana) terletak pada anahata dan wisudha cakra. Lapisan berikutnya yaitu manomaya kosha dan wijnana maya kosha merupakan pembentuk jiwa antah karana yang terdiri dari empat kesatuan yaitu jiwa kecerdasan terdiri dari dua aspek yaitu budhi dan manas, kesadaran ego (Ahamkara ) dan Chitta berada pada Ajna Chakra dan sedikit diatas cakra ini. Terakhir yaitu ananda maya kosha berada di tengah- tengah kepala (Sahasram) cakra yang merupakan tempat atma dari lapisan jiwa terakhir.

Demikianlah Panca Kosha sebagai selubung dari atma. Di dalam lapisan pertama Iswara memanifestasikan diri menjadi keanekaragaman kesadaran terhadap wujud misalnya hitam atau putih, pendek atau tinggi, tua atau muda. Di dalam lapisan prana maya kosha, ia merasa hidup merasa lapar dan haus, sakit dan sehat. Di dalam lapisan mental dia berfikir dan memahami, dan di dalam lapisan anandam Dia berbahagia dan ingin tinggal di dalam kebahagiaan abadi. Demikianlah Iswara yang mengenakan lima lapisan kain pembungkus walau Dia menembus segalanya kelihatan seperti terbatas dibatasi oleh kelima lapisan selubung jiwa tersebut (Nila, 1997 : 40).

Dengan penjelmaan Atma sebagai manusia ia terlibat dalam kehidupan manusia, dalam aktifitas, dalam suka dan duka, dalam perbuatan baik dan buruk . Ia memberi dan menerima hasil-hasil aktifitas kehidupan itu apakah hasil-hasil itu baik apa buruk. Hasil-hasil itu mengendap,menghias atman dan membawa atman ke sorga atau neraka. Hasil endapan itulah yang disebut karma wasana yang menentukan nasib seseorang (Sura, 2000 ; 62 ).
Kesadaran bahwa didalam diri setiap mahluk hidup terdapat jiwa, yang tiada lain merupakan percikan kecil dari Hyang Widhi atau Brahman inilah yang melandasi konsep ajaran Tat Tvam Asi. Tidak hanya pada diri manusia, namun pada seluruh entitas hidup. Dari sini pula kita menyadari bahwa pada dasarnya seluruh manusia dan mahluk hidup adalah satu saudara, keluarga besar semesta yang selayaknya saling menyayangi, mengasihi, menghormati dan menghargai satu sama lain dalam menciptakan keharmonisan hidup. Tidak membiarkan bungkus-bungkus kesukuan, keyakinan menjadi pemisah yang menghancurkan arti kehadirannya di dunia.

Rasa bersaudara, inilah yang selama ini hilang dalam diri manusia. Setiap individu merasa terpisah dan berbeda dengan individu lainnya, ditambah dengan rasa ego dan kesombongan merasa hanya dirinya atau kelompoknyalah yang paling layak untuk hidup di dunia dan bahkan ingin memonopoli isi sorga. Rasa bersaudara digantikan dengan rasa permusuhan, tidak ikut dalam kelompok dianggap musuh dan layak untuk dikonversi atau diperangi. Keterpisahan rasa inilah yang menjadi esensi permasalahan dari kehidupan manusia, ajaran Tat Tvam Asi menggugah dan memekarkan kembali rasa bersaudara dalam diri setiap manusia, karena didalam diri setiap manusia ada esensi ketuhanan yang sama, ada jiwa yang sama berasal dari kuasa Hyang Widhi.

Rasa bersaudara melampaui batas-batas negara, agama, kesukuan dan kelahiran. Rasa bersaudara bermakna bahwa semua manusia dan mahluk hidup adalah satu keluarga, satu ikatan yang hendaknya saling menyayangi satu sama lain, merasakan kepedihan orang lain sebagai kepedihan kita, merasakan kebahagiaan orang lain sebagai kebahagiaan diri kita. Dengan kesadaran ini maka akan hilang rasa dengki (matsarya), dan kebencian terhadap sesama, digantikan dengan semangat saling mengasihi dan melayani. Dengan semangat ajaran Tat Tvam Asi ini pula, apa yang menjadi amanat ajaran kitab Suci Veda dapat dicapai dan dirasakan :

Samani prapa saha vano bhagah,
Samani yoktre saha vo Yunajmi
Samyancognim Saparyatara
Na Bhimi Vabhitah
(Atharwa Weda, 3.30.6)

Artinya :

Wahai manusia, minum dan makanlah bersama, bersembahyanglah bersama, untuk itu aku menyatukan semua dalam satu ikatan, seperti halnya jari-jari roda yang berkumpul menjadi satu ikatan. Demikian pulalah kalian tinggal dalam keharmonisan dan memuja.

Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa ketidak harmonisan hidup dewasa ini, baik itu konflik yang dilatar belakangi oleh agama, kesukuan, dan keyakinan hendaknya sesegera mungkin dicarikan jalan keluar. Salah satunya adalah dengan menggali kembali ajaran-ajaran agama yang mengedepankan semangat kebersamaan dan keharmonisan hubungan hidup, karena tanpa kondisi harmonis maka tidak akan mungkin mengantarkan bangsa kepada kemajuan dan kemakmuran. Hindu dengan konsep ajaran Tat Tvam Asi, menggugah kembali kesadaran manusia untuk memahami esensi dirinya dan sekaligus orang lain, dalam memekarkan kembali rasa bersaudara dan satu keluarga tanpa harus dipisahkan dengan ilusi-ilusi hidup.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*