Suronan vs Tahun baru Hijriyah (Kuatnya akar Hindu dalam masyarakat Jawa)

Oleh : Ida Bagus Wika Krishna

Semenjak keruntuhan Majapahit kerajaan Hindu terbesar sepanjang sejarah nusantara, kemudian dilanjutkan kerajaan-kerajaan islam dari Kerajaan Demak Hingga Mataram Islam. Tampaknya Islam hanya bisa menjadi sebuah agama Bangsawan yang dianut oleh para petinggi kerajaan. Sedangkan masyarakatnya masih saja melakukan praktek spiritualitas Hindu, hanya saja mengalami metamorfosa dari beragama secara ritual menjadi praktik yoga (laku). Bahkan Hingga kini, dari tahun 1500 (sirna ilang kerthaning bhumi) sampai tahun 2013. Belum juga Konsep-konsep ajaran Hindu tercabut dari akar kehidupan mayarakat Jawa. Bukan semata dari praktek bersaji, lelaku (tapa brata yoga samadhi), bahkan hingga praktik penyambutan tahun baru. Kondisi ini bisa dipahami lewat keterbelahan maysarakat jawa dalam memaknai dua tahun baru yang hadir secara bersamaan; Tahun baru Jawa/Hindu (Suronan) atau Tahun baru Hijriyah (Islam).

Walaupun secara kasat mata, suronan tampak hilang dalam khasanah formal, namun senantiasa hidup dari sisi pemaknaannya. Hal ini menunjukkan betapa dinamika ajaran Hindu dan islam senantiasa bergulat dalam keseharian masyarakat jawa. ”akulturasi’ Hindu dan Islam yang akhirnya terjabar dalam perayaan Suronan dan Tahun Baru Hijriyah. Hal ini dimulai ketika Penyerangan Sultan Agung Hanyakrakusuma (raja Mataram Islam) terhadap Kewalian Sunan Giri, yang menjadi simbol hegemoni islam dalam peradaban di Jawa (dimana sebelumnya, setiap raja Jawa yang akan naik tahta harus mendapat restu dari sunan Giri).

Kehancuran kewalian Sunan Giri pada gilirannya menjadikan Sultan Agung menjadi sentral kekuatan politik dan keagamaan.Kondisi ini akhirnya dipertegas dengan Kraton Surakarta dan Kraton Yogyakarta yang merupakan penerus dinasti Mataram Islam, mentasbihkan diri sebagai benteng penjaga budaya asli yang dengan sadar didukung oleh rakyatnya. Kedua keraton ini secara berkesinambungan tetap melaksanakan berbagai macam tradisi, baik ritual maupun spiritual misalnya, upacara sekaten, grebeg mulud, kirab pusaka keraton, dan sebagainya.

Setelah berhasil menyatukan kekuatan politik dan keagamaan, pada tahun 1954 bertepatan dengan perayaan tahun baru Saka/Hindu 1955 menetapkan perubahan sistem perhitungan tahun saka (perjalanan Bumi mengitari Matahari) dengan menggunakan sistem Komariyah (Perjalanan bulan mengitari bumi). Hal ini berarti Tahun Baru saka/Hindu pada tahun 1955 tetap dijadikan pondasi awal tahun Jawa, namun dengan perubahan sistem perhitungan.Perubahan ini terjadi pada 1 sura tahun alip 1955, tepat dengan 1 muharam 1043 Hijriyah.

Dari sanalah dimulai, terjadi semacam diaspora dalam kehidupan masyarakat Jawa. Perayaan yang selalu bersamaan hadirnya; yaitu perayaan Tahun baru Jawa/Hindu (suronan) dengan tahun Baru hijriyah/Islam. Belangsung dari beratus-ratus tahun lalu Hingga Kini. Tentu saja sangat minim di jawa kini saling mengucapkan selamat tahun baru jawa atau suronan, namun lebih lumrah saling mengucap selamat tahun baru hijriyah. Namun dibalik semua itu, Suronan menjadi wacana waktu yang keramat bagi masyarakat jawa. itu sebabnya setiap suro, masyarakat Jawa banyak menyambutnya dengan lelaku (tapa brata yoga samadhi), mengunjungi petilasan-petilasan dan juga candi. Dilarang tidur semalam suntuk (jagra) dan melakukan samadhi.

Candi Cetho, Candi Boko, Pantai Ngobaran, Pantai Parangkusumo adalah beberapa tempat favorit bagi masyarakat jawa melakukan lelaku (tapa brata yoga samadhi) ketika menyambut suronan. Apapun agamanya, bercampur baur menjadi satu. Seakan berlomba meningkatkan spiritualitas dan sekaligus ngalap berkah. Hal ini tentu saja sejalan dengan konsep Hindu yang didalam setiap hari sucinya bukan melakukan pesta, namun lebih cenderung pada tapa brata. Misalnya saat Nyepi (Amati gni, amati lelanguan, amati lelanguan dan amati karya), atau juga pada saat Siwaratri (Jagra, upawasa dan Samadhi).

OLYMPUS DIGITAL CAMERA

Itulah realitas Hindu, keagungan nilai-nilai yang terkandung didalamnya membuatnya tumbuh kuat dalam setiap kehidupan masyarakat jawa. ratusan Tahun belum cukup untuk mencabut akar yang sudah terlanjur mencengkram kuat di tanah. walaupun kini Hindu menjadi minoritas di Jawa, Namun diakui atau tidak mayoritas masyarakat jawa masih mempraktikannya dalam kehidupan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*