Sura Magadha Julukan Desa Banjar, Buleleng

Oleh : I.B Wika Krishna

Distrik Banjar, sesungguhnya secara historis sebuah wilayah kerajaan kecil otonom. Bermula dari Ki Barak Panji Sakti (Raja Buleleng), mempercayakan wilayah “Sakuloning Njung Kalibukbuk” dipimpin oleh seorang raja Rsi. Trah wangsa Brahmana yang sekaligus menjadi raja (Pedanda-Raja), keturunan dari Ida Pedanda Sakti Pemade (Griya Gede Banjar). Perpaduan Jiwa Kebrahmanaan dan Ksatriya inilah membentuk  karakter yang khas dan unik. Tempat jiwa pelayanan keagamaan Hindu dan keberanian bertumbuh secara apik. 

Kisah heroik ini berawal dari kesepakatan para pemimpin rakyat banjar ; Ida Made Rai (Raja Banjar), Ida Made Tamu, Ida Made Sapan, Ida Made Kaler, I Dade, I Kamasan, Ni Belegug dan seluruh rakyat Banjar bersepakat untuk melakukan perlawanan kepada Belanda. Ketidak adilan, pemaksaan kerja rodi dan kesewenang-wenangan yang dilakukan Belanda, membangun kesadaran dan kekuatan untuk melakukan perlawanan dan mengusir dari tanah suci leluhur.

” Ini daerah para petarung, bukan tempat kumpulan para pecundang “, demikian gambaran karakter orang-orang yang berada di distrik banjar pada saat itu. Sebuah daerah yang berada di Bali Utara, tepatnya di kabupaten Buleleng, kecamatan Banjar. Bagaimana tidak, ketika seluruh perlawanan rakyat Bali melawan penjajah mulai terhenti (16 april 1849, Berakhirnya perang Jagaraga). Namun rakyat Banjar terus mengobarkan semangat perlawanan untuk mengusir para penjajah (Belanda), dari tanah suci para leluhur. Keberanian dan kebrutalan rakyat Banjar pada saat melawan Belanda, pernah membuatnya dijuluki sebagai “Sura Magadha”.

“Sura Magadha’ berarti Keberanian untuk berperang. Julukan ini disematkan oleh Belanda, karena demikian berat dan susahnya menaklukan sebuah daerah kecil ini. Tiga kali serangan, terbunuhnya Letnan Stegman, Letnan Nijz dan ratusan serdadu Belanda belum juga berhasil menaklukkan perlawanan rakyat Banjar. Bahkan beberapa tindakan nekat membuat pasukan belanda kalang kabut, layaknya martir beberapa orang siap berpura-pura tertangkap dan kemudian mengamuk membantai serdadu belanda di dalam kapal mereka (Pelabuhan Temukus).

Jika dirunut secara detail, 3 kali serangan belanda pada tanggal 20 september, 3 Oktober, dan 12 Oktober 1868, dengan menggandeng kerajaan buleleng yang telah ditundukkan sebelumnya. Membuat Belanda mengevaluasi peperangan melawan rakyat Banjar. Mengingat rakyat buleleng yang mereka gandeng, tidak lagi berani berhadapan dengan keberingasan rakyat Banjar. Walaupun akhirnya, pada tanggal 24 oktober 1868 rakyat Banjar mengalami kekalahan. Belanda dengan kekuatan tambahan dari Batavia dipimpin D.L De Brabant memukul mundur Laskar Banjar. Pada akhirnya,  Ida Made Rai bersama Ida Made Tamu, Ida Made Sapan, Ida Made Kaler, I Dade, dan I Kamasan ditahan di Priangan Jawa Barat.

Demikian sekelumit kisah sejarah (Distrik ) Desa Banjar dalam menghadapi penjajahan. Julukan “Sura Magadha” menunjukkan keberanian untuk mempertahankan tanah leluhurnya dari invasi penjajah. Sebuah julukan yang senantiasa akan tercatat dalam tinta emas sejarah, untuk diteladani oleh generasi-generasi selanjutnya.

Keluarga besar Griya Gede Banjar, tahun 1950 an

Ref:

  1. Geguritan Rusak Banjar
  2. Babad Brahmana
  3. Bali Abad XIX; Ida Anak Agung Gede Agung
  4. Perang Banjar 1868 ; Sastrodiwiryo

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*