Sinkretisme Siwa-Buddha dalam kisah Bubuksah-Gagakaking

Oleh : Ida Bagus Wika Krishna

Hyang Buddha Tanpahi lawan Siwa raja dewa…Bhineka tunggal ika tan hana Dharma mangrwa (Hyang Buddha tidaklah berbeda dengan Bhattara Siwa…Berbeda namun satu, tidak ada Dharma mendua). Penggalan pupuh dalam kekawin sutasoma gubahan Mpu tantular ini merupakan puncak pemikiran seorang kawi wiku yang hidup pada masa kejayaan Majapahit. Ide tentang kesatuan dalam keberbedaan (unity in diversity) tampaknya terus mengilhami pemikiran-pemikiran kontemporer.

Keagungan pemikiran ini pula terus menarik berbagai peneliti, baik luar dan dalam negeri untuk melacak akar dari sinkretisme ajaran Siwa dan Buddha di nusantara. Tidak semata sebagai harmonisasi teologis, pemikiran ini pula telah merasuk pada tataran ideologis kenegaraan bangsa Indonesia. Bahkan Obama mengakui bahwa ideologi tersebut telah mengilhami pemikirannya dalam menjalankan pemerintahan negara Adikuasa Amerika, sebagaimana disampaikan dalam pidato kenegaraannya di Indonesia.

Secara historis, pemikiran Mpu Tantular ini merupakan perjalanan panjang dari peradaban nusantara. Penyatuan dinasti Sanjaya (penganut siwaisme) dengan dinasti Sailendra (penganut Buddha Mahayana), melalui pernikahan Rakai pikatan dengan Pramodawardhani dianggap sebagai benih harmonisasi dua agama yang sangat berpengaruh di nusantara. Melanjutkan hubungan baik dari para pendahulunya dalam hubungan lintas agama, mereka banyak membangun tempat-tempat pemujaan yang bersifat siwaistik dan budhhistik. Kompleks Candi Plaosan dan Candi Prambanan merupakan bukti nyata dari hasil karya pemerintahan mereka.

Ide-ide tentang harmonisasi dua agama ini tampaknya terus mengalir seiring pemindahan pusat pemerintahan oleh Sindok ke Jawa Timur. Hal ini dibuktikan dengan terhimpunnya kitab suci Buddha Tantrayana, yaitu kitab Sang Hyang Kamahayanikan. Walaupun Sindok sendiri adalah penganut ajaran Siwaisme. Pemanunggalan dua agama ini, mencapai puncaknya pada masa kerajaan Majapahit. Kitab Nagarakrtagama, Arjuna Wijaya dan Sutasoma secara tegas menunjukkan tanda-tanda kemanunggalan Siwa-buddha. Kalimat ‘Sang Suksmeng tlenging Samadhi Siwa-Buddha sira sakala niskalatmaka’ dalam Nagarakrtagama, ‘Nda nahan ri patungga-tunggalan ikang bhuwana wihikananta ring tuhu ngwang wairocana Buddhamurti Siwamurti pinaka guru ning jagat kabeh’ dalam Arjuna Wijaya, dan ‘Hyang Buddha tan pahi lawan Siwa rajadewa’ dalam Sutasoma.

Penggalan-penggalan kalimat tersebut menunjukkan telah terjadinya pemanunggalan pada tataran teologis dan etis. Secara realitas, tinggalan dari kemanunggalan dua agama ini dapat kita lihat dari bangunan Padmasana sebagai sthana Sang Hyang Siwa-Buddha dan eksistensi Pedanda Siwa dan Budhha di Bali. Siwa-Buddha pada gilirannya menjadi dua kata yang sering diucapkan dalam satu tarikan nafas.

Kemanunggalan Siwa Buddha sangat dimungkinkan setelah terjadinya pergeseran pandangan ajaran Buddha (Mahayana), yang telah merubah Sakyamuni dari Buddha sebagai manusia menjadi tingkat kedewaan. Kehadiran Sang Buddha bukan semata menjadi petunjuk jalan, namun mampu memberikan karunia kepada yang memujanya. Bahkan muncul anggapan bahwa Buddha merupakan prinsip tertinggi dalam kesatuan kosmis. Pandangan-pandangan yang telah bergeser menjadi theistic ini terangkum dalam sutra-sutra Saddharmapundarika dan Gandavyuha. Mantra (2002) dalam tulisannya yang berjudul ‘Pengertian Siwa-Buddha dalam Sejarah Indonesia’ memaparkan secara gamblang kesamaan-kesamaan pandangan teologis antara ajaran Siwa dan Buddha yang berkembang di Indonesia menjadi unsur penting terjadinya kemanunggalan Siwa dan Buddha.

Kesamaan pandangan teologis ini tidak bisa dilepaskan dari pengaruh ajaran Tantra yang telah memberikan pengaruh kuat pada ajaran Siwa-Buddha di nusantara. Penekanan pada konsep polaritas, rahasyajnana, praktik yoga dan mantra dalam mencapai pembebasan, dan pencapaian Siddhi merupakan prinsip-prinsip tantra yang diadopsi oleh keduanya. Konsep polaritas merupakan perekat pada tataran teologis, sehingga ajaran Siwa dan Buddha tidaklah berbeda. Konsep polaritas bersandar pada realitas yang dibagi menjadi pasangan yang berlawanan, Siwa-Sakti dan Adi Buddha-Prajnaparamitha. Siwa merupakan asas kesadaran, suci dan pasif, sedangkan Sakti bersifat aktif dan dinamis dalam proses pembebasan jiwa dari ikatan karma. Gambaran konsep Adi Buddha pun sama dengan konsep Siwa, beliau bersifat suci dan pasif, sedangkan saktinya merupakan emosi yang aktif dari kasih untuk kesadaran dari tujuan tertinggi.

Selain kesamaan ajaran pada tataran teologis, peran kearifan lokal dari masyarakat pribumi tentunya tidak bisa diabaikan dalam proses sinkretisme Siwa-Buddha. Sepertihalnya yang ditenggarai para peneliti, bahwa semenjak awal penyebaran ajaran Siwa dan Buddha telah terjadi proses pribumisasi dari kedua agama tersebut. Hal ini bermakna bahwa masyarakat lokal tidaklah menelan mentah-mentah ajaran yang dibawa oleh kedua agama. Kesesuaian sekaligus penyesuaian dengan pandangan teologis dan kosmologis masyarakat pribumi sangatlah menentukan dalam penerimaan kedua agama. Sekaligus bagaimana masyarakat melakukan tanggapan dan reaksi terhadap ajaran Siwa-Buddha. Dr. Raser sendiri menyatakan bahwa tradisi setempat memberikan corak yang unik pada sinkretisme ajaran Siwa dan Buddha.

Gambaran utuh dari perpaduan dan keselarasan ajaran Siwa-Buddha sekaligus peran kearifan lokal masyarakat pribumi (atau mungkin bisa dikatakan keberhasilan mendamaikan kedua ajaran) dalam proses sinkretisme Siwa-Buddha bisa didapatkan dari kisah Bubuksah dan Gagakaking. Kecenderungan kisah bubuksah yang masih menunjukkan superioritas penganut Buddha ini, justru dipahatkan pada candi Penataran dan Surawana yang bersifat siwaistik. Kisah inipun justru bersifat Guruistik, mengambil doktrin Siwa dengan menempatkan Bhattara Guru sebagai dewa tertinggi.
Tokoh Bubuksah dan Gagakaking merupakan dua bersaudara, putra dari Mpu Siddhayogi. Gagakaking merupakan representasi pendeta Siwa yang memilih berpasraman di puncak gunung, bertapa di barat menghadap ke timur.

Melaksanakan brata suddha sridanta dan makan hanya daun-daunan. Sedangkan Bubuksah sebagai representasi pendeta Buddha memilih tempat di kaki gunung, bertapa di timur menghadap ke barat, memakan apa saja yang masuk dalam perangkapnya. Dua karakter dan tapa yang berbeda, namun sama-sama ingin mencapai pembebasan (sunya). Pada suatu ketika Betara Guru mengutus Kalawijaya yang sebenarnya juga seorang dewa yang menyamar sebagai harimau putih untuk menguji kakak beradik tersebut. Kalawijaya mengatakan menginginkan daging manusia, ketika permintaan ini disampaikan ke Gagakaking serta merta ditolaknya dengan alasan tak ada gunanya memakan dirinya yang kurus itu.

Sedangkan Bubuksah menyediakan diri sepenuhnya untuk dimakan harimau putih (tyaga pati) karena dirinya dalam menjalankan laku juga memakan segala jenis makanan dan juga binatang-binatang. Harimau putih kemudian menjelma kembali menjadi Kalawijaya, Bubuksah dinyatakan lulus dalam ujian. Namun pada akhirnya keduanya berangkat menuju alam sunya, bubuksah duduk di atas punggung harimau, sedangkan Gagakaking berpegangan pada ekornya.

Dari gambaran kisah Bubuksah-Gagakaking ini setidaknya kita mendapat gambaran, bahwa kearifan lokal sangatlah menentukan penerimaan dari dua agama (Siwa dan Buddha). Kesesuaian dengan pandangan-pandangan lokal tentunya tidak disangsikan lagi, sehingga kedua ajaran ini bisa beradaptasi dengan budaya setempat. Jika sejarah telah mencatat bahwa kedua agama ini pernah besar dalam peradaban nusantara, maka demikian pula sebaiknya. Kearifan lokal telah mempertemukan dan sekaligus menyatukannya. Atau yang lebih ekstrim lagi, bisa dikatakan bahwa sinkretisme Siwa-Buddha merupakan kebangkitan dari pandangan teologis lokal.

Pandangan teologis lokal menempatkan realitas (being) dalam pasangan-pasangan yang saling berlawanan namun merupakan satu kesatuan (konsep Rwabhineda). Gambaran dari Bubuksah yang melakukan tapa yang berlawanan dengan Gagakaking pada akhirnya sama-sama mencapai alam Sunya, dengan wahana harimau. Meskipun Gagakaking hanya memegang ekor harimau dan Bubuksah duduk dipunggung harimau. Setidaknya gambaran kesatuan perjalanan menuju alam sunya dalam satu wahana menunjukkan bahwa yang tampak berbeda sebenarnya merupakan satu kesatuan. Pada titik inilah peran kearifan lokal demikian penting dalam perkembangan agama-agama. Siwa-Buddha-Kearifan lokal menyatupadu dengan melahirkan sikretisme Siwa dan Buddha.

Kearifan lokal merupakan perangkat nilai yang dinamis dalam proses interpretasi dan reinterpretasi agama dalam suasana pluralisme beragama bangsa Indonesia. Jika dimasa lampau kearifan lokal telah membuktikan perannya dalam harmonisasi agama, maka setidaknya gambaran ini dapat digunakan sebagai suluh kehidupan di masa kini. Tentunya bukan dalam bentuk yang sama, namun spirit yang ingin dibangun dalam harmonisasi kehidupan.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*