Samkhya Darsana

Oleh : Ida Bagus Wika Krishna

Sri Kapila Muni merupakan pendiri dari system filsafat samkhya, beliau sering pula disebut sebagai putra dari Brahma dan awatara dari Wisnu. Kata ‘Samkhya’ berarti jumlah, dan system dari filsafat samkhya memberikan prinsip dari alam semesta yang berjumlah 25 prinsip (tattwas). Istilah samkhya juga dipergunakan dalam pengertian ‘vicara’ yaitu perenungan filosofis. 25 prinsip (tattwas) yang diberikan oleh samkhya darsana adalah sebagai berikut : Purusa, Prakrti, Mahat, Ahamkara,Manas, Panca Budhindriya, Panca Karmendriya, Panca Tanmatra dan Panca Mahabutha.

alam samkhya darsana menggunakan 3 sistem pembuktian yang disebut dengan tri pramana, yaitu : 1). Pratyaksa pramana (pengamatan), 2). Anumana pramana (penyimpulan), 3). Apta wakya (benar, sesuai dengan weda dan guru yang mendapatkan wahyu).

Samkhya tidak mengakui adanya satu jiwa universal yang menjadi penyebab segalanya, sehingga sering disebut ‘Nir Isvara’ yaitu tidak mempercayai adanya Isvara atau Tuhan. Samkhya darsana bersifat dualistik dan pluralitas karena mengajarkan bahwasannya purusa sebagai asas roh yang jumlahnya banyak sekali. Prakrti dan purusa merupakan asas yang sifatnya tanpa awal (anadi), tanpa akhir dan tak terbatas (ananta). Ketidak berbedaan diantara purusa dan prakrti merupakan penyebab dari kelahiran dan kematian, dan pembedaan dari keduanya akan memberikan pembebasan (mukti). Purusa bersifat tidak terikat (asanga) dan merupakan kesadaran yang meresapi segalanya dan abadi, sedangkan Prakrti merupakan pelaku dan penikmat. Purusa bersifat abadi dan tidak berubah, purusa hanya menjadi saksi namun pernyataan kehadirannya seolah-olah terlibat dalam hukum reinkarnasi, hal ini tidak lain karena kemelekatannya dengan prakrti.

Prakrti berasal dari akar kata ‘pra’ (sebelum, ‘kr’ (membuat), jadi prakrti artinya ‘yang mula-mula’ prakrti sering pula disebut dengan pradhana (pokok) karena semua akibat ditemukan padanya dan merupakan sumber dari alam semesta. Prakrti merupakan ada yang tanpa penyebab, sedangkan hasil-hasilnya disebabkan dan bergantung padanya. Prakrti merupakan ketiadaan dari kecerdasan yang hanya bergantung pada unsur pokok gunanya sendiri, yang terdiri dari 3 guna yaitu : 1). Sattwa (kemurnian, sinar, selaras), 2). Rajas (nafsu, kegiatan, gerak), 3). Tamas (kegelapan, kemalasan, tanpa kegiatan). Kata guna sendiri berarti tali yang nantinya menjadi pembelenggu dari roh. Ketiga guna ini tidak dapat dipisahkan satu sama lain karena sifatnya saling menunjang.

Pertemuan antara purusa dan prakrti membuat prakrti berkembang dibawah pengaruh purusa, pertemuan ini mulai mengguncang guna yang ada dalam prakrti sehingga membuatnya beraktifitas. Dari prakrti muncullah benih besar alam semesta yang maha luas (Mahat). Kesadaran roh membuatnya sebagai sesuatu yang sadar, sebagai kebangkitan alam dari kandungan kosmis, dari penampakan pikiran pertama ini pula disebut dengan intelek (buddhi). Produk yang kedua adalah ahamkara, sebagai rasa aku dan milikku (abhimana).

Dari ahamkara melalui ekses elemen satwa muncullah pikiran (Manas), lima organ pengetahuan (panca budhindriya) yang terletak di telinga, kulit, mata, lidah, hidung (srotendriya, twagindriya, cakswindriya, jihwendriya, ghranendriya), lima organ tindakan (panca karmendriya) yaitu : mulut, tangan, kaki, dubur dan kelamin (wagindriya, panindriya, padendriya, paywindriya, upasthendriya), dan lima elemen halus (panca tan matra) yang merupakan potensi dari suara, sentuhan, warna, rasa, bau. dari elemen halus (panca tan matra) muncul lima elemen kasar (panca maha bhuta) yaitu akasa, udara, api, air dan tanah. Akhirnya dari evolusi ini ada alam semesta beserta isinya.

Seluruh unsur dari pertemuan purusa dan prakrti akan selalu ada sepanjang zaman, walau dalam bentuknya yang berbeda-beda. Seperti halnya manusia ketika mati terurai kembali jasadnya menjadi mahabhuta. Hingga diyakini pada akhir zaman terjadi peleburan alam semesta maka dari pergerakan evolusi, bergerak secara terbalik dan berlawanan dan pada akhirnya semua masuk kembali kedalam prakrti, inilah yang disebut dengan proses penyusutan atau penguncupan.

Keterikatan dan Pembebasan

Dalam konsep samkhya, manusia yang lahir di dunia, terikat oleh penderitaan (dukha) yang berjumlah tiga, yaitu : 1). Adhyatmika : penderitaan yang disebabkan oleh penyebab psiko-fisika intra organik yang mencakup semua penderitaan fisik dan mental, 2). Adhidaiwika : penderitaan yang disebabkan oleh penyebab super natural, 3). Adhibhautika : penderitaan yang disebabkan penyebab alam ekstra organik seperti manusia atau binatang.

Oleh karenanyalah tujuan hidup manusia adalah terlepas dari penderitaan tersebut, sehingga mencapai moksa yaitu penghentian total dari semua jenis penderitaan. Jiwa yang bersifat abadi seolah-olah mengalami penderitaan karena pengaruh awidya (kegelapan), jadi belenggu dianggap fiksi belaka karena ego (ahamkara) yang menjadi milik dari prakrti. Maka dari pembedaan dari jiwa dan bukan jiwalah yang seharusnya dipahami, dengan pemahaman ini maka diharapkan jiva berhenti terpengaruh oleh suka dan duka.

Pembebasan dapat diraih ketika manusia masih hidup (jivanmukti) atau setelah meninggal (vedeha mukti). Pembebasan tidak saja dapat dicapai oleh pemahaman atau pembedaan antara jiwa dan bukan jiwa, namun perlu pula menggunakan metode spiritual, inilah salah satu yang nantinya ditambahkan oleh filsafat Yoga.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*