Renungan Suci Awali Peringatan 151 Tahun Perang Banjar, Buleleng.

Buleleng, 14 Sepetember 2019 tepatnya pada saat Purnama ketiga dilaksanakan renungan suci bersama di Merajan Griya Gede Banjar. Renungan sebagai salah satu agenda kegiatan mengawali rangkaian peringatan 151 tahun perang Banjar, Buleleng. Renungan suci dilaksanakan untuk proses kontemplasi pencarian hakekat diri dan hakekat nilai yang bisa digali dari sejarah perjuangan Rakyat Banjar melawan penjajah Belanda. Acara ini dihadiri oleh keturunan dari Ida Made Rai, Ida Made Tamu, dan I Kamasan.

Kegiatan renungan suci diawali dengan penjelasan selayang pandang sejarah perang Banjar yang terjadi pada tahun 1868. Ida Bagus Wika Krishna selaku ketua Panitia menjelaskan bahwa sisi historis dan posisi sosio kultural Griya Gede Banjar memberi peran penting terjadinya Perang Banjar, Buleleng. Dijelaskan bahwa secara historis, Griya Gede Banjar menjalankan dua sisi kepemimpinan. Sebagai seorang Bhagawanta kerajaan Buleleng dan Sekaligus sebagai penguasa wilayah Buleleng Banjar, berpusat di Desa Banjar. Dua kesatuan swadharma inilah menyebabkan Griya Gede Banjar sebagai pelaku Tradisi Rajarsi atau Manca Siwa Agung.

Lebih Lanjut Wika Krishna menjelaskan bahwa ; Jika dirunut secara detail, tiga ( 3 ) kali rangkaian serangan Belanda dimulai pada tanggal 20 September 1868, Belanda menyerang Desa Banjar sebagai basis pertahanan Laskar Banjar. Keberanian dan kegigihan laskar Banjar berhasil memukul mundur Belanda. Korban dari belanda cukup banyak dan pasukan dari raja Bulelengpun dipukul mundur. Letnan Stegman dan Letnan Nijz meninggal dalam pertempuran ini.

 Pada tanggal 3  Oktober 1868, ketika belanda mendapat kembali bantuan dari raja-raja di bali yang telah tunduk dan bantuan dari Banyuwangi. Namun Strategi Laskar Banjar kembali mampu memukul mundur Belanda dengan sekutunya. Laskar Banjar melakukan serangan dadakan ke jantung pertahanan musuh di pelabuhan Temukus.

 Pada tanggal 24 Oktober 1868 Belanda akhirnya melakukan ekspedisi III dari Batavia untuk menundukkan perlawanan rakyat Banjar. Dibawah pimpinan D.I. De Brabant berhasil mematahkan perjuangan rakyat Banjar dengan berbagai strategi perang dan kekuatan penuh ( mendatangkan 800 pasukan inti dari Batavia, dibantu kerajaan Buleleng dan daerah-daerah sekutu di sekitarnya). Ida Nyoman Ngurah, I Made Guliang, beberapa pimpinan pasukan dan laskar Banjar meninggal di Bencingah Griya Gede Banjar, karena mereka adalah pimpinan pasukan Inti yang menjaga dan mempertahankan Griya Gede Banjar.

Kemudian Ida Made Rai bersama Ida Made Tamu, Ida Made Kaler, Ida Made Sapan, I Dade, I Kamasan dan Ni Belegug mengungsi dan melakukan gerilya di daerah Mengwi sebelum diakhiri dengan strategi diplomasi cerdas dari Ida Pedanda Istri Sinuhun Padmi ( Ibunya Ida Made Rai ) agar Ida Made Rai keluar dari persembunyiannya dan ditahan di Bandung, Jawa Barat.

Seusai penjelasan selayang pandang sejarah perang Banjar, dilanjutkan dengan renungan suci yang dipimpin oleh Ida Bagus Damana dan selanjutnya persembahyangan bersama yang dipimpin oleh Ida Pedanda Istri Rai.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*