Rambut Gimbal dan Tradisi Hindu

Jika manusia  tidak memelihara rambutnya dengan baik disebut manusia Jyesti, tetapi setelah rambut itu dipelihara dengan baik maka  menjadi menjadi manusia Hanjyati.  Hal-hal semacam inilah yang diwariskan dalam budaya Hindu di Nusantara yang dikumpulkan diberbagai lontar, yang tersebar diseluruh pelosok di Bali.

 

Lontar Prawesa,  menguraikan bahwa;

”Puniki tutur tataran saluiring preciri-precirine becik wiadin kaon precirin jadmane. Yaning adengan ring jangut tengen, magentil tumbuh bulu, praciri pacang sugih, yan ring kiwa tumbuh kadengan pracirin pacang melarat. Yaning anak luh yuadin muani, bokne kriting, preciri pacang kirang pikolihan”.

Orang yang berambut gimbal, adalah ceciren dikuasai oleh kekuatan alam dari makhluk yang paling rendah, yang dilahirkan oleh Dewi Durga pada saat beliau menjalani kutukan, ditengah kuburan. Atas anugrah Dewa Brahma, maka beliau melahirkan seratus delapan kala, termasuk didalamnya adalah Memedi yang menyukai orang berambut gimbal (orang yang males) tidak suka memotong rambut dan sekaligus tidak suka mencuci rambut.

Hal semacam ini terjadi, diawali dengan tumbuhnya benih rambut gimbal pada bagian tertentu pada rambut. Biasanya orang-orang semcama ini suka ketempat yang angker, kesemak-semak belukar, dibawah pohon bambu tiying ampel dalam tanda kutip ”tempat kotor’, sehingga muncullah rambut rambut gempel, gimbal. Kalau rambut itu dibiarkan maka akan menjadi penghuni memedi, putra atau putri Dewi Durga. Dengan ciri:

a). Jika mereka suka bersemadhi menuju jalan yang benar, maka dapat menjadi Balian,

b).Jika mereka tidak suka bersemadhi, maka mereka ini akan menjadi gendeng-gendengan, seperti orang gila.

c).Jika rambutnya pada saat diketahui tumbuh gempel, langsung dipotong, maka rambut yang lainnya  tidak akan gempel.

unduhan (12)Untuk menghindari rambut gempel, potonglah rambut secara kontinya, minimal setiap satu bulan sekali (cukur  pendek), dan ditengah bulan lakukan perapian rambut (cukur ringan). Pastilah rambut tersebut, tidak akan gimbal. Informan Ibu Dayu (26 th yang tidak mau disebut namanya, dari Bangli), memiliki putra berumur 13 tahun, yang kini duduk  bangku Sekolah Dasar, menjelaskan bahwa: Atas petunjuk Ida Pedanda (Ayahnya adalah seorang Pendeta), bahwa anaknya memiliki melik, kelebihan dari orang pada umumnya ketika berumur 4 tahun, tidak lama kemudian tumbuhlah rambut dengan ciri-ciri dempet (gimbal), tiap minggu bertambah. Untuk mengatasi hal tersebut, dibuatlah upakara tertentu kemudian rambut tersebut ditanam didekat ari-arinya. Selanjutnya setiap bulan rambutnya dicukur, maka sampai sekarang rambutnya tumbuh seperti biasa.

”Ada kejadian yang aneh tidak dapat dimengerti dengan rasio adanya benda-benda aneh atau kedian aneh sperti adanya ceciren; adanya darah tercecer tabpa sebab, adanya ular, mauk rumah, adanya sarang tabuan yang besar dirumah. Kejian ini akan mempengaruhi jiwa, ini suatu pertanda makhluk dalam kekeuatan telah hadir, semacam: setan, wong samar atau bhutakala yang berwujud menjadi seribu macam bahawa Bhtua Siu, jika hal ini tidak diperhatikan akan mengancam jiwanya.

Lontar Lebur Gangsa dan Bama Kertih, menguraikan: beberapa Kala yang mengganggu kehidupan manusia, dan jika diruat akan berubah menjadi Dewa seperti; Sang Hyang Durgamaya kembali menjadi Sang Hyang Ayu, dan pulang pada pertiwi, Jyesti menjadi Hanjyati, pulang pada manusia  jati, Dhurbaga Dhurga  Bhucari pulang pada Bhatari,  Sarwa sasah merana tatumpur pulang kelautan  menjadi isi lautan (Taksu, 2008:21-23).

Ada beberapa Kala, Kali  dan Bhatara yang berambul gimbal, seperti dibawah ini: 1).Kuta Maja, kalau disomyakan akan dapat memberi perlidungan pada pekarangan rumah dan sebaliknya jika dibiarkan akan menyakiti yang memiliki runah. 2).Bhatara Yama Raja, hakim para atma di alam sana, penguasa dunia bawah memandang kedelapan senjata untuk kedelapan mata angin. Ya melindungi hidup, menjaga akibat perbuatan jahat orang lain, melindungi akibat penyakit manusia dan tanam-tanaman. 3).Sang Hyang Durga Mandeg, ketika Dewi Durga hendak memangsa Sahadewa (putra Panca Pandawa yang paling bungsu), ketika  diucapkan Stuti dan Stawa, maka Sang Hyang Durga Mandeg, hilang niatnya untuk memangsanya (itilah di Bali, tidak mampu memangsa, akhrnya Sang Hyang Durga Mandeg minta agar di somya oleh Sahadewa, akhirnya kembali menjadi Dewi Parwati, pulang ke sorga mennyatu dengan Dewa Siwa). 4).Sang Hyang Durga Dadeweng, memiliki magis yang sangat tinggi (sebagai penguasa alam, segala kehendaknya pasti akan terjadi). 5).Nakula berambut rapi, dan tidak mampu di bunuh oleh Durga Dewi.

Jadi dari uraian di atas menunjukkan bahwa, suatu realitas antara teori dan praktek terhadap perkembangan budaya rambut gimbal di Bali, merupakan suatu identitas;  Balian (bagi rammbutnya yang terawat), Gendeng (bagi yang tidak memperhatikan diri terutama rambutnya), Kerangsukkan Roh Memedi (bagi yang tidak pernah mencuci rambutnya).

Untuk meneruskan suatu kebuadayaan rambul gimbal yang berprilaku suci, berarti disebut Hanjyati, yaitu Sattwam yang didorong oleh Rajas, sehingga dapat mencapai kebahagiaan dalam kaitannya dengan Balian. Dengan membantu masyarakat dalam bidang pengobatan, sesuai dengan Ayur Veda. Jika dibiarkan rambut gimbal  kusam dan tidak pernah berkramas berarti disebut Jyesti, yaitu Tamas yang didorong oleh Rajas. Sekarang kita mau kemana, berambut gimbal sebagai Balian atau berambut gimbal sebagai orang yang kerangsukkan roh Memedi!

Ref : Ida ayu gde Yadnyawati

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*