PURA EKA BHAKTI, SAPTOSARI

Perkembangan Hindu di Gunungkidul, khususnya dikecamatan saptosari sekitar tahun 1980 sangat pesat. Terbukti, masyarakat kecamatan Saptosari Dusun Pucung khususnya, atas ajakan dan perjuangan Seorang Hadi Suyono (Mantan Ketua PHDI Kab.Gunungkidul).

Banyak warga yang minta di Sucikan dan masuk sebagai umat Hindu. Pembinaan-pembinaan yang dilakukan oleh Hadi Suyono itupun dijalani dengan berkumpul dirumah-rumah warga sekitar secara bergiliran, termasuk upacara pensudian warga yang masuk dan memeluk Agama Hindu. Hindu di masyarakat Gunungkidul pada umumnya tergolong mudah diterima, karena warga Gunungkidul pada umumnya masih melestarikan Upacara-upacara atau Ritual sebagai peninggalan nenek moyang diantaranya sesaji, genduri, nyekar dll. Budaya Spiritual tersebut sebenarnya termasuk Budaya Hindu.

Dengan Banyaknya warga yang masuk Agama Hindu, Hadi Suyono pada waktu itu berkeinginan untuk mendirikan sebuah Pura sebagai tempat suci untuk beribadah warga setempat. Bermodalkan sebidang tanah dijalan Baron Dusun Pucung milik Hadi Suyono pribadi, diwakafkan kepada umat untuk dibangun sebuah Pura. Niat Hadi Suyono tersebut disampaikan kepada Pembimas Provinsi DIY, yang waktu itu dijabat oleh I.B.Puja Suganta. Setelah lahan di Surve, tempat tersebut kurang bagus karena posisi calon pura berada dibawah bahu jalan. Mengatahui hal tersebut, Hadi Suyono akhirnya menawarkan sebagian tanah pekarangan yang ditempati, untuk dibangun sebuah pura sebagai pengganti lahan yang pertama. Keputusan tanah yang kedua ini tempatnya dilereng bukit dan diatas jalan raya. Setelah disetujui oleh Pembimas Provinsi, kemudian dimulailah tahap awal secara bergotong-royong meratakan lereng bukit untuk dibangun sebuah pura. Selanjutnya pada tahun 1984, berdirilah sebuah Pura bernama Eka Bhakti. Bangunan utama Padmasana dan juga Candi Bentar (pintu masuk), juga hiasan pager bumi didatangkan dari Pulau Bali. Begitu juga perakitannya pun harus mendatangkan ahlinya dari Yogyakarta.

Sampai saat ini Jumlah umat di Pura ini kurang lebih 42  kepala keluarga dan sebagian besar bermata pencaharian sebagai petani. Pura Eka Bhakti merayakan odalannya setiap Purnama Keempat. Perjalanan ke Pura Eka bhakti dengan menggunakan sepeda motor dari Jogja dapat ditempuh selama satu setengah jam dengan jarak sekitar 57 Km. Saat ini Pura Eka Bhakti sering digunakan untuk kegiatan pasraman bagi anak-anak setiap hari minggu pagi dan yoga. Selain kegiatan tersebut  Pura Eka Bhakti juga menjadi tempat pertemuan antara umat-umat se-Gunungkidul yang telah sepuh.

Demikian sejarah singkat Pura Eka Bhakti Dusun Pucung, Planjan, Saptosari, Gunungkidul yang sampai sekarang masih kokoh berdiri dan diempu oleh umat Hindu didusun Pucung.

  • Sang Ayu Made Dewi Temaja
  • Penyuluh Agama Hindu Non PNS DIY

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*