PROFIL PURA BHAKTI AGUNG

SHD.Com, Pura Bhakti Agung terletak didusun Gudang, Kampung, Ngawen, Gunungkidul. Pura Bhakti Agung memiliki luas tanah berukuran 1883 M2 yang merupakan tanah hibah dari pak lurah kepada salah seorang tokoh umat hindu di dusun Gudang yakni Bapak Warno Suwito di tahun 1975. Pura Bhakti Agung menjadi Pura pertama yang dibangun sekitar tahun 198 oleh persetujuan para pemimpin di wilayah kecamatan Ngawen serta menjad isaksi bangkitnya kejayaan Agama Hindu di era tahun tersebut.

Sejarah pura Bhakti Agung diawali oleh tidak adanya sebuah tempat yang digunakan sebagai wadah berkumpulnya masyarakat yang ingin belajar dan berbagi ilmu bersama. Di awal tahun 1967 dimulai dengan banyaknya perkumpulan masyarakat wilayah kecamatan Ngawen yang masih belajar banyak tentang ilmu kejawen, munculah sebuah kepercayaan yang mampu dipadupadankan oleh ilmu  kejawen tersebut yakni  kemunculan ajaran agama Hindu. Ajaran Agama hindu dimasa itu dipandang sebagai keselarasan hubungan manusia dengan yang mahakuasa, serta mampu di terapkan dalam adatistiadat masyarakat yang masih kental dengan kepercayaan dan upacara-upacara kepada leluhur. Para pemimpin yang tergabung dalam sebuah perkumpulan dijaman tersebut akhirnya mengajak ribuan umat untuk dapat disucikan dan mendalami ajaran Agama Hindu meskipun masih menggunakan mantra jawa sebagai pedoman dalam beribadah.

Perkembangan umat Hindu di wilayah kecamatan Ngawen tak lepas dari perjuangan lembaga keagamaan dan kemandirian masyarakat untuk terus berkembang. Pada jaman kepemimpinan bapakI Gusti Ketut Puja (Bimas Hindu pertama diwilayah D.I Yogyakarta) terjadilah penurunan jumlah umat hindu di sekitar Pura Bhakti Agung dengan jumlah umat hanya sebanyak 44 KK. Untuk itu diutuslah para penyuluh yang berjasa dalam menyebarkan ajaran Agama Hindu seperti bapak Sisbadiyono dan tim penyuluh dijaman tersebut, umatdapatmemperolehpenyuluhantentangajaran agama Hindu yang lebih luas dan mampu membangkitkan umat hindu diwilayah tersebut. Hingga pada sekitar bulan Mei 1984, para penyuluh meminta para pengerak umat untuk segera mengajukan proposal guna memperbaiki pembangunan pura Bhakti Agung belum sempurna, yang langsung diajukan ke Dirjen Pusat. Berkat kegigihan para pengiat umat seperti bapak WarnoSuwito (wasi pertama pura Bhakti Agung), bapak Budi (umat Gudang), bapak Suroto (umat Candi), bapak SIswanto (Gelaran), bapak Yatmo (Tegal rejo), bapak Jamto (dukuh Bendo), dan banyak lagi, mereka mampu mengumpulkan dana  yang  digunakan dalam penyempurnaan pura Bhakti Agung sebagai tempat ibadah pertama dan diresmikan secara langsung oleh Bupati Gunungkidul pada saat itu adalah bapak Subardi sebagai pura induk di wilayah kecamatan Ngawen.

Tahun-tahun berlalu, umat di sekitar Pura Bhakti Agung kian menyusut. Kini meskipun telah berdiri dengan kokoh, pura Bhakti Agung telah sepi akan kegiatan umat. Pada tahun 1996 setelah diresmikan dan memiliki sertifikat secara badan hukum justru makin berkurang umat di wilayah tersebut. Hal ini disebabkan karena banyaknya perkembangan keagaman yang mengubah kemantantapan umat untuk beralihk epercayaan yang lain tanpa meninggalkan unsur kejawen yang masih tetap dipegang hingga jaman modern ini. Maka pura Bhakti Agung menjadi salah satu pura yang harus terus digunakan dalam segala kegiatan keumatan agar senantiasa tidak menghilangkan nilai sejarah bagi umat Hindu di wilayah Kec. Ngawen. Meskipun begitu, dengan kepemimpinan lembaga Parisada Hindu Dharma Indonesia kab.Gunungkidul oleh Bapak Purwanto, mengajak seluruh jajarannya bersama bapak Budi dan IbuWarni selaku pengempon pura untuk terus berupaya memperdayakan umat di wilayah Pura Bhakti Agung. Adapun salah satunya adalah dengan melaksanakan secara rutin upacara Piodalan yang jatuh di bulan Mei dan melaksanakan kegiatan perkumpulan melalui kegiatan WHDI serta pertemuan-pertemuan lainnya seperti kegiatan mahasiswa, tirtayatra, kerja bkati bersama, rapat lembaga, dan lain sebagainya. Adapun harapan terbesa umat diwilayah Kec.Ngawen adalah keberlangsungan ajaran Agama Hindu yang harus terus dikembangkan dan mampu memposisikan pola ajaran tersebut di era Globalisasi yang kian modern tanpa harus meninggalkan nilai-nilai luhur yang telah dibangun oleh leluhur umat Hindu.

  • Penulis: Vida Puri Santoso
  • Penyuluh Agama Hindu Non PNS DIY

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*