AYUR WEDA (I)

Nyoman kertia

dr. Nyoman Kertia

PRAKTEK PENGOBATAN AYURWEDA

DALAM AGAMA HINDU

Para peserta yang diberkati Hyang Widhi, Ayurvedic adalah ilmu yang sangat luas yang tujuannya untuk mencapai kesehatan dan kesejahteraan. Ayur berasal dari kata Ayu yang artinya sehat / sejahtera. Weda = Vedic = Ilmu pengetahuan suci. Jadi Ayurweda (Ayurvedic) tidak melulu mempelajari obat-obat herbal, namun segala cara untuk mencapai kerahayuan baik dengan doa-doa, mantra, puasa, pengendalian diri, vegetarian, bahan-bahan obat (seperti dari herbal, binatang, logam dll) dan cara pengobatan lain dipelajari dalam Ayurvedic. Ayurvedic (ilmu kesehatan), Yoga (ilmu keseimbangan) dan Tantra (ilmu kebebasan) adalah tiga serangkai yang tidak bisa dipisahkan untuk mencapai tujuan hidup (Lad, 1985).

Secara mitos, Ayurvedic diturunkan oleh Betara Brahma. Jika Ayurvedic tidak diturunkan oleh betara Brahma maka penyakit akan merajalela dan semua manusia akan sakit dan habis meninggal. Dewa Brahma mengajarkan Ayurvedic kepada dewa Prajapati (banyak yang mengatakan bahwa dewa Prajapati adalah putra dewa Brahma). Selanjutnya dewa Prajapati menurunkan Ayurvedic kepada dewa Aswin. Dewa Aswin kemudian terkenal dengan sebutan dokter sucinya sorga. Dewa Aswin mengajarkan Ayurvedic kepada dewa Indra. Saking berat dan luasnya ilmu di dalam Ayurvedic itu maka dewa Indra menurunkannya secara terbagi tiga yaitu: 1. Kepada Mahareshi Atreya & Bharadvaja (bidang penyakit umum dan penyakit dalam) 2. Kepada Mahareshi Kasyapa (bidang penyakit anak-anak) 3. Kepada Mahareshi Dhanvantari (bidang ilmu bedah). Sedikit cerita tentang para mahareshi di atas: Atreya adalah mahareshi yang menjadi guru dari Jivaka (dokter pribadinya Sang Buddha). Atreya menyusun 6 buah buku pengobatan yang berdasarkan Ayurvedic; namun sayang sudah banyak yang tidak bisa ditemukan lagi. Bharadvaja adalah mahareshi yang mendambakan hidup panjang bagi semua orang sehingga selalu mendekatkan diri dengan dewa Indra (dewa keabadian). Para mahareshi di atas mendirikan sekolah Ayurvedic baik umum maupun khusus dan ternyata sangat maju bahkan sudah mengenal operasi sectio caesaria dan bedah plastik (Nala, 2007 a).

Di Bali, dengan proses yang begitu panjang Ayurvedic sudah berusaha disadur dalam berbagai lontar usada. Beberapa lontar usada Bali yang populer dan menjadi dasar pengobatan bagi para balian (pengobat tradisional Bali) adalah: Usada Kalimosada, Usada Bodha Kecapi, Usada Tiwas Punggung (untuk mengenal aksara), Usada Rare (untuk penyakit dan pengobatan bayi), Usada Netra (untuk pengobatan mata), Asada Buduh, Usada Sasah Bebai, Usada Pengraksa Jiwa (untuk penyakit jiwa), Usada Asrep, Usada Wong Agering, Usada Dalem (untuk penyakit dalam, catatan: Usada Wong Agering banyak membahas cara-cara peracikan dan penggunaan obat dalam bidang penyakit dalam), Usada Tetenger Beling (untuk kehamilan dan penyakit kandungan), Dharma Usada (salah satu di dalamnya adalah cara menghilangkan ketergantungan terhadap narkotika), Usada Tiwang (untuk meramal umur seseorang, akan meninggal atau sembuhnya pasien, sekaligus melihat tanda-tanda penyakit yang diderita). Lontar Ratuning Usada memuat cara-cara pengobatan yang cukup lengkap. Setiap lontar usada dimulai dengan pemujaan pada Hyang Widi, sebab tanpa karuniaNya maka pengobatan tidak akan berhasil.

Pada hari raya Saraswati, maka diadakan upacara khusus untuk lontar-lontar Usada ini dengan sesajen yang khusus pula. Tidaklah sembarang orang diperbolehkan membaca lontar-lontar usada, sebab lontar-lontar ini tergolong keramat dan banyak rerajahan di dalamnya. Semakin banyak gambar-gambar dan rerajahan di dalam lontar, maka semakin keramat lontar tersebut.

Lebih baik berguru untuk menjadi seorang balian, namun jika seseorang sudah kacunduk (ditunjuk oleh Sang Hyang Wenang) atau sejak lahir sudah diberkati kekuatan (bakat) untuk pengobatan maka mereka bisa menjadi seorang balian yang baik dan bermanfaat untuk banyak orang.

Proses Terjadinya Penyakit Dan Usaha Pemeliharaan Kesehatan Berdasarkan Ayurvedic

Perlindungan gaib terhadap diri kita

Gaguritan Kanda empat rare (pupuh sinom):

Duk sang bapa kari bajang                                     Ada nyama-nyama patpat

Duk kari anom sang bibi                                        Mijil saking yayah bibi

Sang bapa tumbuh Hyang Smara                         Dadi dewa dadi kala

Sang bibi tumbuh Hyang Smari                             Dadi atma mangraganin

Mijil saking sunya hati                                            Dadi tamba dadi gering

Metu ikang smara lutut                                           Dadi leyak balian putus

Ane metu saking bapa                                             Dadi papa dadi swarga

Smara guna aran nike                                            Dadi pati dadi urip

Ne ring ibu                                                               Tangi turu

Smara sidhi ngaraniya                                             Saking irike metuniya

     Jika kita ingat-ingat, semenjak kita berada di dalam kandungan ibu yang terjadi akibat pernikahan Yang diselenggarakan secara Hindu maka:

Ketika terjadi persatuan bibit bapak (sperma) dengan bibit ibu (sel telor), pertemuan ini menghasilkan apa yang disebut zygote (janin yang paling awal). Pada saat ini maka leluhur kita sudah mulai masuk ke dalam zygote tersebut sebagai jiwanya (ngeraganin). Pada saat terbentuknya, maka zygote ini sekaligus sudah dilindungi dan dihidupi oleh: 1. darah: adalah saudaranya yang tertua (Wayan), adalah dewa brahma dan bisa berubah menjadi Prajapati 2. Ari-ari: adalah saudaranya yang kedua (Made), adalah dewa Wisnu dan bisa berubah menjadi Banaspati 3. Lamas= Lamad=Kelamad: adalah saudaranya yang ketiga (Nyoman), adalah dewa Mahadewa dan bisa berubah menjadi Banaspatiraja 4. Air ketuban (Yeh Nyom): adalah saudaranya yang keempat (Ketut), adalah Dewa Iswara dan bisa berubah menjadi Anggapati. Jadi tergantung kita saja, jika ingin sehat dan selamat maka rawatlah saudara kita yang jumlahnya 4 itu agar tetap sebagai dewa dan melindungi kita, sebab kalau tidak dirawat maka mereka bisa menjadi kala yang menyebabkan kita mudah sakit.

(Bersambung)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*