POSISI TIDUR YANG BAIK DALAM AGAMA HINDU

Agama Hindu di Nusantara memang sangat banyak dengan adat istiadatnya, seperti halnya di Jawa ataupun di Bali. Namun di Jawa hanya di keraton saja yang masih menjaga tradisi tersebut, baik di keraton Solo dan Yogyakarta. Dimana adat istiadat tetap terjaga walaupun masih dilingkungan keraton, melainkan di masyarakat luar keraton sudah mulai meninggalkannya atau tidak lagi menggunakan tradisi tersebut, tetapi Jawa kalau berbicara tentang posisi tidur, masyarakatnya masih tetap mempercayainya apalagi umat Hindu yang tinggal di Jawa, mereka masih tetap mempercayainya walaupun hanya getok tular  atau sekedar  nasehat  kepada anak maupun saudaranya.  Begitu pula di Bali, Pulau Bali memang menjadi sebuah pulau dengan beribu adat istiadat yang sangat kental dan masih terjaga dengan amat baik.  Selama ini kita sebagai umat Hindu  yang masih awam pasti akan bertanya – tanya, mengapa kita memikirkan posisi tidur? Padahal tidur kan biasa saja dan mau kemana arahpun tidak ada masalah, yang peting bisa tidur nyenyak! Ngapain repot-repot memikirkan hal tersebut. Namun dalam Agama Hindu juga penjelasannya, Agar tidak salah dalam memahaminya mari baca sampai selsesai…

Konsep hulu-hilir atau luan-teben (dalam bhs. Bali). Konsep ini terkait dengan kosmologi mata angin. Orang Bali  ataupun Jawa umumnya meletakkan tempat tidur searah utara-selatan atau timur-barat. Jadi, ketika tidur, kepala kita ke arah utara atau timur, kaki ke arah selatan atau barat. Mengapa demikian?

menurut Nitisastra VII, 1-2.

Sloka: 1

Hulwanta ng supta juga hilingaken,

Ngwang majar lingning aji pituhunen,

Yan ring purwayusanira madawa,

Yapwan ring uttara dhana katemu

terjemahannya:

Perhatikanlah  tempat  letak  kepalamua  waktu tidur beginilah pelajaran dari buku-buku: Jika kepalamu di timur, akan panjang umurmu. Jika di utara, engkau mendapatkan kejayaan”.

Sloka: 2

Paccat kulwan hulu, patining asih,

Mitrantelik ta ya karananika,

Yapwan ring daksina pati maparek,

Mangde soka Bhramarawilasita

terjemahannya:

“Jika letak kepalamu di barat, akan mati rasa cinta padamu, engkau akan dibenci para sahabatmu; dan jika membujur ke selatan, akan pendek umurmu, dan menyebabkan rasa duka cita”.

Memang tidur itu tidak dilarang, tapi tidur yang sembarangan ada konsekuensinya. baik Jawa atau Bali mempunyai kesamaan dalam hal ketika mau memposisikan tidur. Mulai dari sikap atau posisi tidur,  tempat tidur, hingga bangunan yang boleh dijadikan sebagai tempat tidur pun diatur sedemikian rupa dalam tradisi Bali maupun di Jawa. Menurut sastra Bali terdapat tiga macam tempat untuk berisitirahat antara lain:

  • Galar: istirahat untuk beberapa saat dengan tidur
  • Galir: istirahat untuk beberapa menit atau pelepas lelah dengan duduk dan bersantai
  • Galur: istirahat untuk perjalanan pulang, yang dalam istilah Bali disebut dengan “mulih ke desa/gumi wayah” alias mati

Pada dasarnya, umat hindu sangat mensucikan 9 penjuru arah mata angin. DEWATA NAWA SANGA. Tapi, dalam hal ini, (arah kepala waktu tidur), ada konsep palemahan (tata ruang) yang mengatur dalam hal ini. Dalam tata adat di bali, setiap keluarga hindu bali punya tempat pemujaan (sangah/merajan) yang di bangun di sebelah timur (tepatnya, kaje kangin) dari areal pekarangan yg di tempati. Dan di bali jg ada konsep (me-hulu gunung). Masyarakat hindu bali menggunakan gunung sebagai arah utara. Ini yang terlupakan untuk di Jawa. Sehingga mereka masih bingung ataupun belum paham mengapa harus demikian? dan apa sumbernya? Namun setelah ada sumbernya dan mengetahuinya setidak mulai merubah agar nantinya tidak mejadi kebiasaan, begitu pula bagi umat Hindu yang tinggal di Jawa. Setelah membaca tulisan ini, semoga bisa bermanfaat dan bisa di sebarluaskan kepada umat Hindu yang lainnya.

Nah, untuk lebih mensucikan tempat pemujaan, maka masyarakat hindu di Bali, Jawa ataupun dimana berada, mulai saat ini harus sudah bisa mengatur arah kepala untuk tidur dengan sedemikian rupa. Dalam hal ini, kepala ada otaknya, otak sebagai pusat dari semua yang ada pada diri manusia. Maka, dengan sendirinya kepala kitalah yg paling dekat dengan tempat pemujaan. Ini untuk mengingatkan kita untuk selalu dekat, mengingat, dan melaksanakan ajaran hindu.

Selain Sikap Tidur yang tidak boleh mengarah ke hulu-hilir, Sikap badan saat tidur juga ada pedomannya. Beberapa diantaranya adalah sebagai berikut:

Kaki tidak boleh menyilang

Percaya tidak percaya, tertidur dengan kaki menyilang (x) akan membuat manusia mengalami mimpi buruk. Meski belum ada bukti ilmiah yang mendukung mitos ini, banyak masyarakat baik di Bali ataupun di Jawa yang sering mengalaminya. Mereka sering bermimpi buruk ketika tanpa sadar tertidur dengan kaki menyilang. Oleh karena itu, masyarakat di Bali dan Jawa berusaha meluruskan kakinya sebelum tidur. Selain bertujuan menghindari mimpi buruk, tidur dengan kaki yang lurus juga dipercaya dapat melancarkan aliran darah.

Tidak boleh berselimut hingga menutupi wajah

Tidur dengan seluruh tubuh tertutup selimut membuat kita terlihat seperti orang yang meninggal dunia. Hal ini adalah tabu bagi masyarakat Bali dan Jawa. Menurut kebudayaan mereka, tidur dengan berselimut menutupi seluruh tubuh dapat mengundang energi jahat dalam tidur kita. Jadi, kita hanya boleh berselimut hingga sampai batas leher atau pundak. Jika udara terlalu dingin, maka disarankan untuk menggunakan topi (atau penutup kepala sejenis) untuk melindungi dari udara dingin tersebut.

Lalu bagaimana jika aturan tentang tidur ini dilanggar?

Secara adat atau hukum sosial tidak ada hukuman bagi orang yang melanggar aturan-aturan tersebut. Namun, secara “Niskala” akan berdampak pada kehidupan pemakai tempat istirahat yang bersangkutan. Mulai dari sakit hingga kematian. Khusus untuk tempat tidur, memiliki aturan tambahan yaitu; apabila tempat tersebut sudah dianggap selesai dibuat dan sudah pernah digunakan selama 3 hari, maka tempat tesebut dianggap sudah hidup seperti halnya bangunan yang telah diupacarai. Bila ada orang yang berani memotong / merubahnya kemudian setelah itu digunakan sebagai tempat tidur lagi, maka yang memotong / merubah serta yang menggunakannya akan mengalami gangguan dalam kehidupannya. Aturan ini sudah baku, karena sudah banyak yang merasakan, sehingga tradisi baik di Jawa ataupun Bali tidak mengaturnya secara tertulis kecuali yang tertera dalam Kidung Nitisastra. Selain bertujuan untuk memperoleh rasa nyaman, aturan-aturan tidur ini juga diyakini bermanfaat untuk kesehatan. semoga melalui tulisan ini dapat bermanfaat bagi kita semua. astungkara.

Diambil berbagai sumber.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*