PERESMIAN YAYASAN ARDHANARISWARA & GELAR SENI BUDAYA DI GEDUNG SANTI SASANA, BANGUNTAPAN

Yogyakarta-(SHD)Berawal dari kegelisahan melihat situasi dan kondisi di era globalisasi saat ini beberapa tokoh Hindu di Yogyakarta berinisiatif membentuk suatu yayasan yang bergerak di bidang seni budaya, sosial dan kemanusiaan. Yayasan  bernama Ardhanariswara  menjadi jawaban untuk mengarahkan generasi muda Indonesia agar tidak terpengaruh  oleh gempuran budaya barat yang saat ini makin gencar. Yayasan Ardhanariswara yang baru berdiri tahun 2017 ini akan menggelar pentas seni dan budaya selama dua hari, yakni tanggal 25-26 November 2017 bertempat di Gedung Santi Sasana Pura Jagatnatha, Banguntapan Bantul. Kegiatan pentas seni tersebut sekaligus sebagai launching Yayasan Ardhanariswara di tengah masyarakat.

Yayasan Ardhanariswara berkomitmen untuk  menciptakan generasi muda Indonesia yang tangguh,  cinta budaya lokal dan patuh kepada Tuhan Yang Maha Esa. Yayasan ini tidak hanya bergerak di bidang seni dan budaya tetapi juga bergerak di bidang sosial. Hasil dari kegiatan seni dan budaya yang digelar oleh Yayasan Ardhanariswara salah satunya akan digunakan untuk membantu para pengungsi Gunung Agung di Bali yang jumlahnya mencapai 49 ribu orang. Demikian dikatakan oleh Pembina Yayasan Ardhanariswara, I wayan Ordiyasa, S.Kom., M.T.

Ketua Panitia Yayasan Ardhanariswara, Ida Bagus Tritustha Amitabha menjelaskan bahwa rangkaian acara pentas seni  untuk penggalangan dana guna membantu para korban bencana telah dilaksanakan oleh Yayasan Arhanariswara sejak tanggal 22 Oktober 2017. Pada waktu digelar kegiatan ngamen di Sunday morning UGM. Kegiatan Ngamen diisi dengan pentas joged bungbung yang melibatkan mahasiswa Hindu yang ada di Yogyakarta. Berikutnya, tanggal 04 November 2017 digelar pentas seni kolaborasi antara tari barong dengan joged bungbung bertempat di Titik Nol Kilometer Malioboro Yogyakarta. Dan sebagai puncaknya nanti akan digelar pentas seni pada tanggal 25-26 November 2017 berlokasi di Gedung Santi Sasana, Pura Jagatnatha, Banguntapan, Bantul. Acara ini digelar gratis untuk masyarakat umum di pagi hari puncak acara diisi oleh Yoga yang dilaksanakan di Pura Jagatnatha Banguntapan, mulai pukul 07.00 WIB. Kemudian ada lomba mewarnai bagi anak-anak “Ini gratis”kata Ketua Yayasan Ardhanariswara, Ni Ketut Suriastini, S.Sn.

 Puncak acara akan digelar pada 25-26 November 2017.  Hari sabtu, tanggal 25 November adalah  ujian kenaikan tingkat tari Bali. Yang mana semua peserta ujian kenaikan tingkat tari bali ini diikuti oleh anak-anak, remaja dan dewasa. Ujian tari yang diikuti adalah Tari pendet, Tari Wiranjaya dan Tari Cilinaya yang  dibagi menjadi 10 (sepuluh) kelopok dari anak-anak, remaja dan dewasa. Acara dimulai dari pagi jam 08.00 wib sampai jam 19.00 wib, dan diteruskan dengan glady untuk acara Puncak besoknya. minggu, tanggal 26 November 2017 akan digelar pentas seni sekaligus launching Yayasan Ardhanariswara. Kegiatan akan dimulai pagi hari dengan diisi Yoga dari Hatta Yoga dimulai jam 07.00wib sampai jam 08.30wib, diteruskan dengan lomba mewarnai dan melukis untuk anak-anak yang dimulai jam 09.30wib sampai jam 12.30wib. setelah itu isoma panitia menyiapkan beberapa persiapan untuk sore harinya. Malam harinya pada acara puncak diisi oleh sambutan dari ketua panitia,ketua pembina yayasan dan Pembimas Hindu serta Parisada Hindu DIY, setelah sambutan diisi tari-tarian dari anak-anak LKP yang kemarennya sudah mengikuti ujian Tari Bali, lalu peresmian Yayasan dengan pemotongan Tumpeng yang seharusnya dibuka oleh Kajeng Ratu Pambayun, karena berhalangan pemotongan tumpeng dan pemukulan Gong dilakukan oleh Bapak Pembimas Hindu DIY. Yang menjadi ikon Yayasan Ardhanariswara adalah Tari Jawa (tari bedhaya Mahapuja) yang diciptakan sendiri oleh Ketua Yayasan Ibu Ni Ketut Suriastini,S.Sn, dan diakhir acara puncak ada pameran Lukisan dan Lawak yang khusus didatangkan langsung dari Bali.

Dalam kegiatan Pentas seni tari tersebut adalah untuk menjaga budaya supaya generasi penerus tidak lupa dengan budayanya sendiri. Budaya lokal Indonesia perlu dijaga dan dihargai karena UNESCO sudah mengakui bahwa Indonesia adalah super power di bidang budaya. “Generasi muda mari kita sambut apa yang sudah menjadi icon dari UNESCO bahwa Indonesia adalah negara super power budaya,” himbau Pembina Yayasan Ardhanariswara, Ir. Ngakan Ngurah  Mahendrajaya, M.T. (Amitaba**)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*