PERAN SENI DALAM PRAKTEK KEAGAMAAN HINDU

Agama dan seni adalah dua hal yang sangat dekat dan banyak yang  beranggapan bahwa seni dan agama sesuatu kesatuan yang utuh,padahal agama dan seni punya kedudukan masing-masing,agamalah yang punya kedudukan yang lebih mulia dari seni, namun keduanya mempunyai hubungan yang erat dalam kehidupan.

Seni adalah kesanggupan akal  manusia, baik berupa kegiatan rohani maupun pisik untuk menghasilkan sesuatu [artistik] luar biasa menggugah perasaan. Sedangkan Agama adalah sebuah sistem yang mengatur tata keimanan [kepercayaan]dan peribadatan kepada Tuhan,serta tata kaidah yang berhubungan dengan pergaulan manusia dengan lingkunganya.

Seni mempunyai bentuk diantaranya;

  • Seni yang dapat dinikmati melalui media pendengaran[audio art] misalnya seni musik, seni suara, seni sastra (puisi,pantun,kekidungan,gamelan)
  • Seni yang dapat dinikmati dengan media penglihatan[visual art] seperti lukisan, patung, bangunan, seni gerak, tari ,metetanganan dalam mudra-mudra yang digunakan pendeta dalam memimpin upacara.
  • Seni yang dinikmati melalui media penglihatan dan pendengaran[Audio visual art] misalnya pertunjukan musik, pergelaran, wayang kulit , arca, drama gong, film dll

Disadari atau tidak didalam kehidupan sehari-hari semua umat manusia yang masih terikat dengan keduniawian membutuhkan keindahan,kita berdandan bersolek di depan kaca biar menarik dalam bentuk ekspresi diri untuk memperlihatkan keindahan,menciptakan bentuk-bentuk atau obyek yang menyenangkan sesama,terus muncul sisi yang kedua yaitu “ rasa” [lango]kesan yang dimunculkan obyek tersebut dan dalam menilai kualitas seni sering sering ditinjau dari sudut agama,baik atau buruk,etis atau tidak etis,dan seni akan kehilangan makna jika bertentangan dengan norma-norma baik buruk yang berlaku di lingkungan atau daerah setempat.

Estetika Hindu  pada intinya merupakan cara pandang mengenai rasa keidahan[lango] yang diikat oleh nilai- nilai agama Hindu yang didasarkan atas ajaran-ajaran kitab suci Weda. Sebagai landasan pokok konsep yang dianggap penting dalam dalam estetika Hindu seperti: konsep kesucian,  konsep kebenaran, dan konsep keseimbangan, konsep kesucian[shiwam]  nilai-nilai ketuhan yang mencakup yajna dan taksu.

Umat Hindu,  seperti yang terlihat di Bali memiliki  pandangan seni yang  diikat nilai –spiritual ketuhan sesuai dengan ajaran agama,bisa kita lihat dalam dinamika praktek keagamaan  seni mendapat peran yang  tidak sedikit bentuk sesaji persembahan yang demikian rumit,megah dan menakjubkan dengan bentuk-bentuk simbul penuh dengan makna,demikian juga dengan kehadiran patung-patung dewanya sebagai penghias kota yang selalu mengigatkan kita masyarakat bali selalu berpikiran suci dan kebaikan

Sang Hyang Widhi itu Maha Inda dan sumber keindahan, itu diwujudkan dalam dalam Siwa Nata Raja dengan tarian kosmisnya dikatakan sebagai Penciptaan musik dan tari sekaligus menciptakan seni yang agung,atas kepercayaan ini umat Hindu percaya bahwa segala sesuatu yang bernilai artistik adalah ciptaan Tuhan,maka segala aktivitas kesenian yang diwujudkan dalam persembahan kepada Tuhan.

Masyarakat Hindu kesenian dibagi 2 menurut fungsinya, yaitu:

  1. Seni sakral [sacred religius art].sewaktu-waktu utuk prsembahan kepada Tuhan orisinil seperti rejang dewa,pretima,arca dll
  2. Kesenian bebali [ceremonial art] untuk tontonan bersifat hiburan,tari sambutan,kreasi,barong dance dll

Penciptaan seni di Bali menciptakan[berkesenian] atas dasar konsep ngayah,baik pada masyarakat maupun hyang widhi,selalu melibatkan usur-unsur ritual dalam setiap aktivitas berkesenian mereka untuk menjaga kesucian karya seni yang dihasilkan dan mendapat sinar suci-Nya. Sebagai contoh sudah menjadi kebiasaan untuk mengawali pertunjukan para seniman melakukan ritual ada yang melakukan dengan terang-terangan dengan sesaji yang lengkap,dan ada yang sembunyi-sembunyi dengan mengunakan sesaji yang sederhana. Upacara ini selalu mengigatkan seniman dan penonton akan keberadaan Tuhan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Berkesenian adalah sebuah persembahan suci [yajna] serta melibatkan kekuatan sinar suci Hyang Widhi .

Nilai kebenaran, kejujuran, ketulusan, kesungguhan disajikan pada lakon-lakon seni seperti drama,wayang kulit,drama tari calon narang hapir keseluruhan mengetengahkan pertarungan antara nilai-nilai kebaikan dan keburukan dan berakhir dengan kemenangan di pihak yang benar atau setidak-tidaknya imbang tidak ada yang kalah dan yang menang,bahwa baik buruk itu akan selalu ada[rua bineda]

Berkaitan dengan implementasi tentang estetika hindu dalam berkesenian bagi masyarakat Bali disamping konsep-konsep yang telah diuraikan di atas, terdapat pula beberapa konsep –konsep yang sangat mendasar dan menghasikan karya seni yang betul memiliki greget/ taksu, adapun konsep-konsep tersebut antara lain; konsep kepercayaan,konsep sekala dan niskala,konsep tri hita karana, karma pala,konsep greget dan[ taksu ] jenggah.

KESIMPULAN

Seni dan agama tidak dapat di pisahkan atau saling melengkapi, karena seni itu dipakai media untuk  menyebarkan suatu ajaran atau kepercayaan agama.Tanpa seni tidak mungkin karena seni adalah keindahan,dan seni tanpa agama sangat membahayakan,karena insfirasi seni ide-ide liar dan luas terkadang berlebihan akan terpelosok pada pemikiran-pemikiran seni yang menjerumuskan untuk keluar dari tatanan hukum Agama.

  • Penulis: I Gusti Made Wirta, S.Sn
  • Penyuluh Agama Hindu Non PNS DIY

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*