PEMBIMAS HINDU DIY HADIRI UPACARA METATAH MASAL DI GEDUNG SANTI SASANA

Bantul-(SHD), Kamis 19 Agustus 2017 Yayasa Lentera Bhuana Jingga Yogyakarta mengadakan Metatah atau Potong Gigi bersama. Metatah bersama ini dilaksanakan dalam rangka ulang tahun yang kesatu Yayasan Lentera Bhuana Jingga. Sebelum pelaksanaan metatah bersama, yayasan LBJ melaksanakan kegiatan Bhakti Sosial di Pusat Rehabilitas Yakkum Yogyakarta dan satu hari bebelum nya melaksanakan upacara Rajaswala dan Rajasinga untuk peserta Metatah dilanjutkan dengan pembekalan sebelum metatah bersama.

Metatah bersama ini dilaksanakan sebagai bentuk Tujuan yayasan LBJ yaitu untuk misi sosial kemsyarakatan untuk memberikan edukasi kebersamaan dan kebudayaan. Berawal dari sama-sama pendatang kebudayaan. Berawal dari sama-sama pendatang/perantau yang harus sellu menjunjung tinggi tradisi dan kebudayaan leluhur tetapi tidak mengurangi esensi tradisi yang dilakukan, Yayasan LBJ bertekat untuk memberikan pelayanan sosial berupa metatah bersama, dengan tujuan semakin ringan dan mudahnya melaksanakan kewajiban atau tradisi yang dimiliki tanpa mengurangi makna atau esensi ritual tersebut.

Peserta metatah bersama berasal dari berbagai macam kalangan, baik umur maupun trah atau keturunan. Dengan dasar kebersamaan dan kesederhanaan tidak ada yang canggung bagi peserta metatah bersama. Mulai dari yang sudah berkeluarga maupun yang masih pelajar SMP. Jumlah peserta metatah bersama 27 orang. Mulai dari keluarga anggota yayasan dampai masyarakat umum.

Kegiatan upacara metetah dihadiri oleh Pembimas Hindu Daerah Istimewa Yogyakarta bapak Ida Bagus Wika Krishna, S.Ag, M.Si, Ketua PHDI D.I.Yogyakarta dan Kabupaten serta kota, ketua lembaga – lembaga yang lainnya yang ikut serta dalam mensukseskan kegiatan tersebut.

Kegiatan metatah bersama diawali dengan ritual nyekeb/ngekeb yang bertujuan untuk mematangkan tekad dan kemantapan hati sehingga peserta tidak lagi ada keraguan dan ketakutan melaksanakan ritual metatah. Setelah selesai melaksanakan ritual nyekeb, peserta metatah bersama berdoa dan memohon keselamatan terlebih dahulu di depan bale metatah/tempat dan sarana metatah bersama. setelah selesai metatah, peserta langsung diarahkan keruangan penyekeban di ruangan khusus. Kurang lebih membutuhkan waktu 2 jam untuk ritual inti potong gigi secara lembut dan simbolis. Gigi yang diasah adalah 2 gigi taring dan 4 gigi tengah bagian atas, dengan makna menghilangkan sifat-sifat negatif  yang dikenal dengan Sad Ripu, yaitu Hawa Nafsu, Amarah, Keangkuhan, Kebingungan, kerakusan dan Iri Hati.

Seusai ritual potong gigi selesai, peserta lanjut melaksanakan upacara mejaya-jaya yang dipimpin oleh Ratu Bhegawan Putra Manuaba. Ritual ini bertujuan untuk meningkatkan kembali kesucian jiwa dan raga peserta metatah bersama. Seusai acara ini, peserta melakukan sungkeman/hormat kepada orang tua sebagai rasa terimakasih dan syukur kepada orang tua karena telah memberikan kehidupan dan bimbingan selama ini. Begitu juga dengan orang tua, ungkapan rasa syukur karena telah melaksanakan tugas dan kewajiban kepada seorang anak.

sebagai penutup, hiburan dari anak-anak pasraman Padma Bhuana Saraswati berkolaborasi dengan Sanggar tari Saraswati dan Keluarga Putra Bali Purantara dengan menapilkan tari-tarian serta pertujukan seni yang berjudul “Gita Sawitra Anak Negeri” dan dilengkapi dengan santap/hidangan makan siang. Tepat pukul 11.45 kegiatan metatah masal selesai dilaksanakan.(Mang Santi**)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*