PANITIA NYEPI DIY LAKSANAKAN DHARMATULA DI KAB. GUNUNGKIDUL

Gunungkidul-(SHD), Dalam rangka menyambut hari raya Nyepi tahun baru saka 1940/2018 masehi, panitia Hari Raya Nyepi D.I.Yogyakarta menyelenggarakan kegiatan Dharma Tula. Kegiatan tersebut dilaksanakan bertepatan dengan Rahinan Purnama ke-8 yang jatuh pada hari Rabu umanis/legi tanggal 31 Januari 2018. Panitia Hari Raya Nyepi Daerah Istimewa Yogyakarta mengutus anggotanya untuk memberikan Dharma Tula diseluruh Pura yang ada di Kabupaten Gunung Kidul Yogyakarta. Salah – satunya adalah pelaksanaan Dharma Tula di Pura Podo Wenang Kaliwaru kampung Ngawen dengan menghadirkan pengisi Dharma Tula I Gede Suardana dan Ketut Pasal sebagai pendamping. Sebelum dilaksanakan acara Dharma Tula terlebih dahulu dilaksanakan persembahyangan Purnama yang diiringi dengan kekidungan oleh seluruh umat yang hadir di Puro Wenang dengan penuh semangat. Walaupun dalam kondisi cucaca yang dingin karena hujan deras. Persembahyangan dimulai pukul 19.30 WIB dipimpin oleh Bapak Wasi Wajiran, diawali dengan Japa Mantra yaitu Gayatri Mantra sebanyak 108 kali, karena bertepatan dengan Rahinan Purnama juga ditandai dengan Gerhana Bulan. Tetapi karena cucaca tidak baik Gerhana Bulan tidak bisa dilihat oleh warga Yogyakarta. Setelah melaksanakan Jupa Mantra dilanjutkan dengan Kramaning Sembah. Setelah Persembahyangan Purnama selesai dilaksanakan dilanjutkan dengan Dharma Tula yang disampaikan oleh Bapak Gede Suardana S.Ag.

Dalam kesempatan yang baik tersebut tema Dharma Tula diambil dari tema Hari Raya Nyepi tahun baru Caka 1940 yang  diusung oleh panitia Nyepi Yogyakarta yaitu “Kerukunan dan Persaudaraan Sejati” sesuai dengan tema tersebut seluruh Umat Hindu diajak untuk selalu rukun baik dengan alam, dengan sang Pencipta dan juga dengan manusia sesuai dengan ajaran Tri Hita Karana. Dalam penyampaian Dharma Tula diselipkan sebuah cerita tentang tiga anak gadis yang disuruh oleh orang tuanya untuk menemukan jam dinding yang ada di dalam sebuah lumbung padi yang gelap tanpa penerangan. Anak gadis pertama masuk ke dalam dan membongkar seluruh isi lumbung tetapi tidak menemukan jam dinding tersebut, kemudian anak gadis kedua juga masuk dan mencari tetapi sama tidak dapat menemukannya juga. Sekarang giliran anak ketiga masuk ke dalam lumbung padi dengan hanya duduk terdiam tanpa melakukan aktifitas apapun selain hanya mendengarkan suara – suara yang terdengar di dalam lumbung dan tidak lama kemudian dia mendengar suara jam tik tik tik di dalam suasana yang hening tersebut. Akhirnya anak gadis ketiga dapat menemukan jam dinding tanpa harus membongkar lumbung padi.

Berdasarkan cerita diatas diharapkan seperti itulah kita melaksanakan Rangkaian Hari Raya Nyepi dengan belajar menciptakan suasana hening sehingga kita benar – benar dapat menyatu dengan susana heningnya alam. Disebutkan juga ada empat rangkaian didalam kita melaksanakan Hari Raya Nyepi yaitu Melasti, Tawur Agung, Nyepi dan Ngembak Geni. Dimana ke empat rangkaian tersebut saling terkait satu sama lainnya. Pada acara Melasti kita melakukan pembersihan di pantai, kemudian Tawur Agung yang dilaksanakan di pelataran  Candi Prambanan, dilanjutkan keesokan harinya, melaksanakan Catur Brata penyepian  seperti tidak menyalakan api atau lampu, tidak melakukan aktifitas sehari – hari atau kerja, tidak pergi keluar dari tempat tinggal, tidak menikamti Hiburan. Dimana kita diharapkan  benar – benar berada dalam suasana hening. Kemudian prosesi terakhir Ngembak Geni dimana kita mulai melakukan  aktifitas seperti biasanya,  yaitu berdharma santi dengan umat yang lainnya untuk saling berkunjung agar rasa kekeluaragaan dan kebersamaan terjalin kembali setelah selama satu hari tidak menjalankan aktivitas tersebut.  Melalui empat rangkaian inilah, umat Hindu dapat meningkatkan sradha dan bhaktinya kepada Hyang Widhi Wasa.

Kegiatan Dharma Tula berakhir pada pukul 21.30 WIB dan seluruh umat menikmati Prasadam sambil bercerita. Bukti nyata kerukunan terlihat jelas saat umat bersama – sama menikmati Prasadam, sehingga secara tidak langsung rasa persaudaraan sejati muncul dengan sendirinya. Mari kita jaga kerukunan dan jalin persaudaraan sejati demi tegaknya Dharma.(Pasal**)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*