AYUR WEDA (II)

OBAT BAHAN ALAM SESUAI AYUR WEDA

Pemakaian obat dari bahan alam sudah digunakan oleh masyarakat sejak berabad-abad lalu. Pemakaian ini berdasarkan pengalaman secara turun temurun, berdasarkan trial and error, belum ada standarisasi bahan baku dan belum didukung bukti ilmiah tentang manfaat dan keamanannya secara klinik.

Obat-darah-tinggi-terbaikSaat ini minat masyarakat terhadap pengobatan dengan obat alam semakin meningkat. Sejalan dengan meningkatnya taraf pendidikan warga masyarakat yang menuntut cara berfikir yang rasional, maka obat bahan alam perlu dikaji lebih lanjut tentang standarisasi, manfaat, dan keamanannya.

Telah dilakukan beberapa penelitian tentang obat bahan alam dan ada beberapa bahan yang memiliki level of evidence A (strong scientific evidence) maupun B (good scientific evidence). Sedangkan di Indonesia baru ada 6 jenis sediaan fitofarmaka (telah melalui uji klinik dan preklinik) dan 53 sediaan obat herbal terstandar (telah melalui uji preklinik) yang telah tersedia di pasaran. Indonesia memiliki potensi sumber daya alam yang besar yang bisa digali sebagai bahan baku obat bahan alam. Demikian juga data jamu yang telah digunakan oleh masyarakat bisa ditelliti lebih lanjut sehingga bisa didapatkan bukti ilmiah tentang manfaat, keamanan, serta standarisasi secara klinik.

Dengan pola penyakit masyarakat yang cenderung berubah dimana terdapat banyak kasus penyakit kelainan metabolik dan penyakit degeneratif, maka peluang pemanfaatan obat bahan alam semakin besar.

Saat ini belum ada dasar hukum yang kuat mengenai pengobatan dengan bahan alam, sehingga belum ada pengaturan yang jelas dan tertata baik untuk penyelenggaraan pelayanannya.

Beberapa Sediaan Obat Bahan Alam dan Manfaatnya

  1. Obat bahan alam untuk kesehatan gigi dan mulut

Masyarakat Indonesia sudah sejak lama mengenal berbagai bahan alam untuk menjaga kesehatan gigi seperti daun sirih, bunga cengkeh, cabe, bawang putih, bawang merah, jeruk nipis, lidah buaya dan sebagainya. Bahan tersebut sering dipakai untuk mengatasi gangguan di mulut seperti nyeri, gusi berdarah, dengan keyakinan dapat menguatkan gigi, menyembuhkan luka-luka kecil di mulut, menghilangkan bau mulut, menghentikan perdarahan, dan sebagai obat kumur. Belum semua penggunaan obat atau bahan tersebut berdasarkan pendekatan medik berbasis bukti-bukti ilmiah (Subagyo, 2010).

Berbeda dengan penyakit yang lain pada umumnya, penyebab penyakit gigi dan mulut khususnya karies dan penyakit periodontal adalah bakteri penghuni mulut sendiri. Kerusakan yang ditimbulkannya khas, yaitu terjadinya kerusakan jaringan keras gigi bersifat permanen dan tidak dapat sembuh atau pulih kembali. Untuk itu maka sebagian besar perawatan gigi dan mulut adalah berupa tindakan dan upaya pencegahan dan pemeliharaan yang lebih banyak berorientasi pada faktor lingkungan dan bakteri penyebab di mulut (Subagyo, 2010).

Sudah banyak studi in vitro yang dilakukan untuk meneliti aktivitas bahan tanaman alam terhadap bakteri mulut. Penelitian-penelitian tersebut umumnya berfokus pada bakteri penyebab penyakit gigi dan mulut yang bersifat kariogenik dan yang terkait dengan penyakit periodontal. Zat yang menunjukkan aktivitas demikian meliputi ekstrak rempah-rempah dan herbal, seperti minyak kulit kayu manis, ekstrak papua-mace dan minyak cengkeh dan kandungannya seperti sinamat aldehid dan eugenol (Tichy & Novak, 1998; Cowan, 1999).

Bawang putih (Allium sativum) telah digunakan sebagai obat sejak zaman kuno karena sifat antimikroba. Baru-baru ini telah dilaporkan ekstrak bawang putih terbukti memiliki aktivitas terhadap berbagai macam bakteri terutama terhadap Gram-negatif termasuk P. gingivalis. Allicin yang terkandung dalam umbi bawang putih efektif terhadap bakteri gram-negatif, tapi kurang efektif untuk bakteri bakteri gram-positif. Pengamatan tersebut menunjukkan bahwa allicin dimungkinkan dapat digunakan untuk terapi penyakit periodontal atau penyakit mulut lainnya (Bakri & Douglas, 2005).

Naringin, suatu flavanoid yang ditemukan dalam buah jeruk menghambat pertumbuhan bakteri penyebab penyakit periodontal dan bakteri mulut lainnya (Tsui et al., 2008). Naringin telah terbukti sangat efektif terhadap Actinoycetem comittans, Actinobacillus dan P. gingivalis. Curcuma xanthorrhiza (zingiberaceae) secara tradisional telah digunakan untuk mengobati beberapa gangguan pada tubuh. Ekstrak metanol dari akar tanaman ini terbukti memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri mulut yang sama atau mirip dengan chlorhexidine (Hwang et al., 2000).

  1. Obat bahan alam untuk Osteoartritis (OA) dan penyakit reumatik

Konsep nyeri pada OA akibat inflamasi mempunyai banyak bukti, misalnya peningkatan angka lekosit cairan sinovia melebihi 200 sel/mm3 dan terdapatnya berbagai mediator proinflamasi di dalam cairan sinovia (Kertia et al., 2003). Secara invitro kurkumin menghambat aktivitas fosfolipase, lipoksigenase, siklo-oksigenase-2, leukotrin, prostaglandin, tromboksan, NO, kolagenase, elastase, hyaluronidase, interferon, TNF-alfa dan IL-12. Pada penderita arthritis rheumatoid kurkumin mengurangi kaku, pembengkakan sendi dan walking-time. Kurkumin juga mampu menekan inflamasi pasca operasi (Chainani, 2003). Obat anti-inflamasi non steroid tidak hanya menghambat aktivitas enzim COX-2 di dalam cairan sinovia sendi yang terserang OA, tetapi juga menghambat makrofag dalam sekresi COX-2 (Alvarez et al., 2006).

Osteoarthritis berdampak pada seluruh struktur di dalam sendi. Tidak hanya hilangnya kartilago hyaline, tetapi juga terjadi remodeling tulang dengan peregangan kapsul dan kelemahan otot periartikular. Hilangnya kartilago pada area yang terlokalisir dapat meningkatkan tekanan terhadap sendi yang akan menyebabkan kerusakan kartilago lebih lanjut (Felson, 2008).

Ada bukti bahwa radikal bebas berperan dalam proses terjadinya inflamasi sendi pada penyakit osteoarthritis, hal ini didukung oleh data bahwa kadar MDA cairan sinovia semakin meningkat dengan meningkatnya gradasi klinis dan keluhan nyeri sendi penderita os teoarthritis (Kertia et al., 2003).

Pemberian kombinasi kurkuminoidekstrak rimpang temu lawak telah terbukti mampu menurunkan kadar MDA cairan sinovia dan memperbaiki gejala klinis penderita osteoarthritis (Kertia et al., 2002). Rimpang kunyit mengandung antara lain kurkuminoid sebanyak 3-4% (terdiri dari kurkumin, demetoksi kurkumin), minyak atsiri sebanyak 2-5% (terdiri dari seskuiterpen dan turunan fenilpropana), arabinosa fruktosa, glukosa, pati tannin serta mineral yaitu magnesium, mangan, besi, tembaga, kalsium, natrium, kalium, timbale, seng, kobal, almunium dan bismuth (Sudarsono et al., 1996).

Salah satu obat bahan alam oral untuk osteoartritis adalah kondroitin sulfat yang merupakan bahan yang penting pada jaringan konektif dan kartilago sendi. Glucosamin Sulfate terdapat dalam jaringan tubuh, merangsang sintesis proteoglikan dan asam hyaluronat. Keuntungan jangka panjang terapi glucosamin adalah mencegah penyempitan ruang sendi, efektif meredakan nyeri sendi (Verges, 2007).

Jaringan kartilago terdiri dari gabungan berbagai agen yang salah satunya adalah kondroitin sulfat. Kondroitin sulfat menyerap air, menambah ketebalan kartilago dan kapasitasnya untuk menyerap dan mendistribusikan tekanan (Kalunian et al., 2006)

Pasien yang menggunakan CAM secara teratur kebanyakan adalah penderita OA dengan nyeri hebat. Pasien dengan problem muskuloskeletal biasanya sering menggunakan obat-obatan herbal (Long et al., 2001).

Obat-obat herbal yang tersedia dalam bentuk topikal diantaranya adalah:

  1. Capsaicin

Capsaicin (trans-8-methyl-N-Vanillyl-6-non enamide) berasal dari cabe merah yang pedas. Obat ini dipakai sebagai analgesik topikal untuk berbagai kondisi rasa nyeri. Tiga penelitian Randomized Controlled Trial (RCT) dengan double blind mendapatkan terapi capsaicin berguna dalam memperbaiki nyeri artikuler. Meskipun hanya satu penelitian yang menunjukkan kebermaknaan secara statistik, namun studi metaanalisis menunjukkan bahwa krim capsaicin lebih berguna daripada placebo dalam pengobatan OA (Braun & Cohen 2005).

       2. Stinging Nettle

Duri dari stinging nettle sudah lama dipergunakan untuk pengobatan pada nyeri artritis. Stinging nettle adalah tanaman yang tersebar luas dan mempunyai duri yang tampaknya aman untuk pengobatan nyeri musculoskeletal. Stinging nettle mengandung serotonin, asetilkolin, histamine dan leukotrien. Mekanisme analgesik dari stinging nettle adalah berupa hiperstimulasi dari nosiseptor sensorik yang menyerupai efek akupuntur. Suatu rash dari stinging mempunyai efek yang sangat kuat terhadap persepsi kognitif penderita terhadap nyeri (Randall, 2000).

3. Ekstrak Akar Comfrey (Comfrey Root Extract)

Comfrey (Symphytum officinale L.) adalah tanaman obat yang merupakan warisan budaya bertahun-tahun lalu untuk pengobatan terhadap keluhan sendi dan otot. Penelitian baru-baru ini menunjukkan efikasinya pada memar, strain, kontusio, sprain, maupun nyeri punggung. Suatu penelitian teracak buta ganda menunjukkan adanya efikasi dan keamanan dari comfrey root extract ointment pada pengobatan osteoarthritis lutut yang sangat nyeri (Grube, 2007)

      4. Arnica montana

Arnica montana adalah tanaman yang subur di daerah Eropa, Siberia selatan, Skandinavia sebelah selatan dan Carpathian. Apabila dipakai secara topikal dalam bentuk gel, Arnica mempunyai efek seperti NSAID (Ibuprofen) pada osteoartitis tangan. Arnica saat ini dipakai dalam bentuk liniment dan ointment untuk mengobati strain, sprain dan memar (Samir, 2007).

5. Glukosamin dan Kondroitin Sulfat

Glukosamin sulfat (GS) adalah terapi efektif yang mempunyai profil kemampuan dan efek samping yang lebih baik dalam mengobati artritis. Suplemen GS berasal dari exoskeleton kerang-kerangan. GS berfungsi sebagai aminosakarida endogen berperan sebagai building block untuk proteoglikan dan glikosaminoglikan yang merupakan komponen kartilago hyaline pada sendi. (Crone, 2001).

Kondroitin sulfat (KS) adalah glukosaminoglikan yang terdapat pada kartilago artikuler, tendon, tulang, kornea, dan katup jantung. Seperti glukosamin sulfat, CS adalah bagian dari kartilago hyalin yang melindungi sendi dari aktifitas menyangga berat badan (Crone, 2001).

Glukosamin yang didapatkan dari kulit udang, lobster dan kepiting terbukti memperlambat kerusakan tulang rawan dan memperbaiki mobilitas sendi. Krim topikal yang mengandung glukosamin dan kondroitin serta kamper terbukti lebih efektif disbanding placebo dalam meperbaiki nyeri sendi (Cohen, 2003).

Obat topikal yang bersifat hidrofilik sulit diabsorpsi, oleh karena saat ini telah dikembangkan teknologi sediaan dalam ukuran nano dan mempunyai struktur fosfolipid yang mudah diabsorbsi (Tehupeiory, 2008).

  1. Obat Bahan Alam Untuk Sistem Pernafasan

Beberapa obat herbal yang sudah diteliti dan sering digunakan sebagai CAM pada kelainan dan penyakit-penyakit respirasi:

  1. Echinacea

Echinacea (purple coneflower) diyakini memiliki efek imunostimulan dan anti-virus. Meta analisis oleh Schoop et al (2006) menyimpulkan bahwa Echinacea bermanfaat untuk mengurangi gejala selesma namun tidak mempengaruhi durasi dan keparahannya. Sementara itu Shah et al (2007) menemukan bahwa Echinacea mampu menurunkan risiko terkena dan memperpendek durasi selesma.

  1. Kaloba merupakan obat herbal yang berasal dari ekstrak akar tumbuhan varietas Pelargonium sidoides, genus Pelargonium, family Geraniacea. Unsur pokok dari kaloba adalah coumarin, asam gallig dan derivatnya (ester metal asam gallic), flavan-3-ols, proanthyacyanidin polymer, unclamin dan shikimic acid. Masing-masing telah diteliti secara invitro efeknya terhadap kekebalan tubuh. Selain itu tumbuhan ini telah lama digunakan untuk pengobatan infeksi pernafasan dan sakit dada dan selanjutnya digunakan juga untuk diare, dismenore serta penyakit liver (Kolodziej et al, 2003).

4. Obat bahan alam untuk Gangguan Tidur

Valerian (Valerina walachii) dikenal sebagai sediaan herbal yang dapat mengatasi problem pada gangguan tidur. Mekanismme kerja valerian belum sepenuhnya jelas, namun sediaan tersebut tampaknya melibatkan proses fasilitasi transmisi GABA. Beberapa ikatan ekstrak valerian terjadi di reseptor GABA-A. Ekstrak ini juga mampu menghambat neural firing pada batang otak tikus (Kristanto, 2010).

  1. Obat bahan alam untuk agen kemoterapi

Beberapa agen kemoterapi telah dikembangkan dari bahan alam seperti alkaloid vinka (Vincristine, Vinblastine), taksan (Paclitaxel, Doxetaxel), epipodofilotoksin (Etoposide, Teniposide), kamptotesin (Irinothecan, Topothecan), enzim (Asparginase) dan antibiotik (Daunorubicin, Doxorubicin, Bleomycin, Actinomycin) (Walboomers et al, 1999).

  1. Obat bahan alam untuk penyakit kulit

Kulit adalah organ terluas ditubuh manusia. Sampai sekarang morfologi lesi kulit masih merupakan petunjuk penting dalam menentukan diagnosis (Habif, 2004). Obat bahan alam merupakan salah satu pilihan terapi untuk penatalaksanaan penyakit kulit. Penyakit kulit yang menggunakan bahan alam adalah dermatitis atopik, psoriasis, herpes simplek, herpes zoster, impetigo contagiosa, dermatofitosis, dan jerawat (Bedi, 2004).

Pengobatan dermatitis atopik yang digunakan antara pengobatan tradisional Cina (Chinese Traditional Medicine = CTM) dan pengobatan herbal tradisional Jepang (Hochu-ekki-to). Chinese Traditional Medicine yang diteliti menggunakan campuran 10 jenis herbal yaitu pottentilla chinensis, Tribulis terrestis, Rehmania Glutinosa, Lophatherum gracile, Clematis armandii, Ledebouriella saseloides, Dictamnus dasycarpus, Paeonia lactiflora, dan Scizonepeta tenuifolia. Herbal tersebut dimasukkan dalam sachet dan dimunum seperti teh. Hasil penelitian pada 37 anak menggunakan desain RCT, menunjukkan bahwa terdapat penurunan skor eritema yang bermakna pada kelompok terapi (51%) dibandingkan dengan kelompok kontrol (6,1%) (Kobayashi, 2008).

Bahan alam yang digunakan untuk pengobatan psoriasis adalah akar Angelicae dahuricae yang mengandung furocoumarins imperatorin, isoimpertoin, dan alloimperatorin. Obat bahan alam lain yang digunakan untuk terapi psoriasis adalah Indigo naturalis, dan Aloe vera (Lin, 2008).

Melissa officinalis digunakan secara topikal untuk pengobatan herpes simpleks dan luka ringan. Penelitian secara RCT terhadap 116 pasien 96% menunjukkan perbaikan lesi pada hari ke-8 setelah menggunakan krim Melissa officinalis 1% lima kali sekali. Herpes zoster dan neuralgia pasca herpetic dapat diterapi menggunakan jel licorice yang berasal dari Glycyrrhiza glabra dan Glycyrrhiza uralensis. Glycyrrizen merupakan salah satu bahan aktif yang terdapat pada licorice berfungsi untuk menghambat replikasi virus varicella zoster (Bedi, 2004).

Obat yang digunakan untuk penyakit kulit akibat jamur seperti dermatoptosis dan kandidiasis antara lain tea tree oil (TTO), bawang putih (Allium sativum), daun kelor (Moringa aleifera), mimba (Azadirachta indica). Obat bahan alam yang digunakan untuk pengobatan jerawat antara lain tannins, fruit acids, tea tree oil (TTO) (Suswardana, 2007).

  1. Obat bahan alam sebagai anti inflamasi dan luka bakar

Aloe vera atau lidah buaya termasuk spesies dalam genus Aloe, mempunyai efek anti inflamasi dengan menghambat infiltrasi sel-sel PMN dan mengurangi edema. Aloe vera mempunyai efek hidroskopik atau pelembab dan penyembuhan luka, termasuk luka bakar dan eksim.       Banyak penelitian yang telah dilakukan tentang penggunaan Aloe vera dan beberapa diantaranya saling bertentangan (Dachlan, 2010).

Nur Atik dan Januarsih Iwan di Bandung tahun 2009 menyatakan bahwa pemberian topikal gel lidah buaya pada luka sayat kulit mencit sebanyak 2 kali sehari lebih baik daripada pemberian solusio povidon iodine dilihat dari;parameter tebal epitel dan jumlah rata-rata fibroblast pembuluh darah (Dachlan, 2010 cit Etik & Iwan, 2009).

  1. Obat bahan alam untuk Demam Dengue

Bahan alam juga dapat digunakan pada penderita demam dengue. Pada penderita demam dengue, ekstrak daun jambu biji dapat meningkatkan jumlah trombosit lebih cepat sehingga dapat mempersingkat lama rawat inap pada pasien dengue (Achmad, 2005).

  1. Obat bahan alam untuk diabetes mellitus

Beberapa kajian sistematik terhadap penelitian obat herbal untuk diabetes mellitus menunjukkna bukti perbaikan pengendalian glukosa darah sedangkan efek samping yang dilaporkan sedikit. Beberapa yang dilaporkan aman digunakan adalah Gymnena, Aloe vera, Momordica charantina, Fenu greek, American ginseng (Yeh et al, 2003).

  1. Gymnena sylvestre (family Asclepiadaceae)

Berbentuk daun yang dikunyah untuk mengobati “madhu meha” atau honey urine. Dikenal dengan nama gurmar atau sugar destroyer karena daunnya dapat menghilangkan indera pengecap manis (Shane& McWhorter, 2001). Mengandung asam gymneat, saponin, stigmasterol, quercitol, derivat asam amino (betain, cholin, trimetilamin) dengan mekanisme meningkatkan aktivitas enzim untuk ambilan dan penggunan glukosa, stimulasi fungsi sel beta pankreas, meningkatakan jumlah sel beta, meningkatkan sekresi insulin, inhibisi absorpsi dan transport aktif glukosa di intestinum (Braun&Cohen, 2005).

  1. Momordica charantina (bitter melon/pare)

Mengandung glikosida mormodin, charantin, polipeptida (menyerupai struktur insulin sapi), mekanismenya dengan meningkatkakn ambilan glukosa oleh jaringan, menurunkan sintesa glukosa, meningkatkan sintesis glikogen di hepar dan otot, meningkatkan oksidasi glukosa (Shane & McWhorter, 2001). Efek samping yang timbul adalah rasa tidak enak gastrointestinal, hipoglikemik, anemia hemolitik akut. Standar dosis belum ada, tergantung sediaan. Tincture dosis 2-3x 5 ml/hari sampai 50 ml/hari, powder kering 3-5 gr/hari (ekstrak standar 3x 200-300 mg/hari) (Dey et al., 2002).

  1. Fenu greek (Trigonella foenumgrecum)

Mengandung 50% mucilaginous fiber, mekanismenya dengan memperlambat pengosongan lambung dan absorbsi karbohidrat, menghambat transport glukosa dan memperbaiki penggunaan glukosa perifer dan memperbaiki sensitivitas insulin. Efek samping yang dilaporkan flatulen, diare, hipersensitif / alergi (Dey et al., 2002).

  1. American ginseng (Panax quinquefolus) dan Asian ginseng (Panax ginseng)

Mengandung ginsenosida, polisakarida, peptide, alkohol poliasetilinat, asam lemak. Mekanismenya dengan memperlambat absorpsi karbohidrat, mengurangi transport glukosa, meningkatkan sekresi insulin. Efek samping yang dilaporkan sakit kepala, gangguan tidur, gangguan gastrointestinal, cemas, eksitasi, perdarahan vagina. Dosis standard adalah 1-3 gram akar atau 200-300 mg ekstrak standard (Dey et al., 2002).

  1. Aloe Vera

Aloe vera bisa dibuat juice kering yang tidak mengandung antraquinon tetapi mengandung glikomanan yang mempunyai efek hipoglikemik. Efek sampingnya adalah diare dan kram abdomen (Yeh et al., 2003).

  1. Obat bahan alam untuk aprodisiak

Dalam literatur sexual medicine dikatakan bahwa bahan-bahan alam yang dapat meningkatkan kemampuan seksual secara menyeluruh disebut sebagai sex tonic, sedangkan aprodisiak hanya yang berkaitan dengan dorongan seksual (Soedjono, 2008). Obat bahan alam sebagai aprodisiak umumnya mengandung senyawa turunan saponin, alkaloid, tannin, dan senyawa lain yang secara fisiologis dapat melancarkan peredaran darah pada sirkulasi sistem saraf pusat dan sirkulasi darah perifer termasuk sirkulasi pada alat kelamin pria. Penelitian yang banyak dilakukan saat ini baru pada tahap kandungan aprodisiak belum sampai menilai efektivitasnya terhadap pengobatan disfungsi seksual termasuk disfungsi ereksi (Soedjono, 2008; Wahyuningsih, 2008).

Obat bahan alam yang berkhasiat aprodisiak biasanya mengandung kombinasi beberapa senyawa seperti saponin, yohimbin, ginseng, ginkgo, dan lain-lain. Suatu obat herbal yang mengandung senyawa icariin yang terdapat pada Epimedium sagittatum telah diketahui kerjanya sebagai inhibitor enzim phosphodiesterase-5 (PDE-5) di corpus kavernosum, suatu kerja obat yang mirip obat kimiawi sildenafil, tadanafil, vardenafil. Umumnya obat aprodisiak mempunyai efek meningkatkan tekanan darah tetapi kehadiran ekstrak akar eucommiae dapat menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi (Pramantara, 2010).

Demikian banyak tanaman obat yang sudah diteliti, namun masih sangat banyak tanaman obat yang sering dipergunakan dalam pengobatan secara Ayurweda dan belum dilakukan penelitian ilmiah sehingga sangat sulit mendapatkan literatur pendukungnya.

 

DAFTAR PUSTAKA

Achmad H, 2005. Pengaruh Pemberian Ekstrak Psidium Guajava terhadap jumlah trombosit pada Penderita Demam Berdarah Dengue Di Bangsal Rawat Inap Penyakit Dalam RSUD Dr Syaiful Anwar Malang. Majalah Kedokteran Universitas Brawijaya, 27(1):1-5.

Ahmed, S., Anuntiyo, J., Malemud, C., Haqqi, T.M., 2005. Biological Basis for the Use of Botanicals in Osteoarthritis and Rheumatoid Arthritis: A Review, E-CAM 2 (3):301-308.

Alvarez, S. M. A., Largo, R., Santillana, J., Sánchez, P. O., Calvo, E., Hernández, M., Egido, J., Herrero, B. G., 2006 Long Term NSAID Treatment Inhibits COX-2 Synthesis in The Knee Synovial Membrane of Patients With Osteoarthritis: Differential Proinflammatory Cytokine Profile Between Celecoxib and Aceclofenac. Ann. Rheum. Dis. 65(8):998-1005.

Bakri, I.M., Douglas, C.W., 2005. Inhibitory effect of garlic extract on oral bacteria. Arch Oral Biol. 50: 645-51.

Bedi, M.K., Shenefelt, P.D., 2004 Herbal Therapy in Dermatology. Arch Dermatol, 138:232-242.

Braun, L., Cohen, M., 2005 Herbs & Natural Supplements: An Evidence Based Guide. Elsevier, Sidney.

Chainani, N., 2003 Safety and Anti-inflammatory Activity of Curcumin: A Component of Turmeric (Curcuma longa). J. Compl. Med. 9(1):161-68.

Cohen, M., Wolfe, R., Mai, T., 2003 A Randomised, Double Blind, Placebo Controlled Trial of Topical Cream Containing Glucosamine Sulphate, Chondroitin Sulphate, and Camphor for Osteoarthritis of the Knee, J Rheumatol, 30L: 523-28.

Cowan, M.M., 1999. Plant products as antimicrobial agents. Clin Microbial Rev. 12: 564-82.

Crone, C., Gabriel, G., Wise, T., 2001. Non-Herbal Nutritional Supplement-the Next Wave. Psychosomatics, 42, 285-299.

Dachlan, I., 2010 Aloe vera Untuk Luka Bakar dalam Kertia (ed) Naskah Lengkap Seminar Nasional Terapi Medis Berbasis Herbal, Tim Pengembangan Obat Bahan Alam & PGTKI Press, Yogyakarta.

Dey, L., Attele, A.S., Chun-Su, Y., 2002. Alternative therapies for type 2 diabetes. Altern Med Rev. 7(1): 45-58

Felson, D. T., 2008 Osteoarthritis in Fauci, A.S., Braunwald, E. B., Kasper, D. L., Hauser, S. L., Longo, D. L., Jameson, J. L., Loscalzo, J. (eds) Harrison’s Principles of Internal Medicine, 17th ed, pp. 2158-65. McGraw–Hill Medical, New York.

Grube, B., Grunwald, J., Krug, L., Staiger, C., 2007. Efficacy of Comfrey Root (Symphyti offic. Radix) Extract Ointment in the Treatment of Patient with Painfull Osteoarthritis of the Knee: Result of a Double Blind, Randomised, Bicenter, Placebo-Controlled Trial. Phytomedicine 14, 2-10.

Habif, T.P., 2004 Clinical Dermatology A Color Guide to Diagnosis and Therapy, 4th edition, Mosby, Edinburgh.

Hwang, J.K., Shim, J.S., Pyun, Y.R., 2007 Antibacterial activity of xanthorrhizol from Curcuma xanthorrhiza against oral pathogen. Fitoterapia. 71: 321-3.

Kalunian, K. C., Brion, P. H., Concoff, A. L., Wollaston, S. J., 2006 Pathogenesis of Osteoarthritis. Up To Date 14.1

Kertia, N., Savitri, K. E., Rahardjo, P., Asdie, A. H., 2003 Hubungan Inflamasi Dengan Gradasi Klinik Osteoartritis dalam Setyohadi, B., Kasjmir, Y. I., (eds) Naskah Lengkap Temu Ilmiah Reumatologi Indonesia dan ASEAN Meeting on Gout and Hyperuricemia, pp. 32-39. Jakarta.

Kertia, N., Savitri, K. E., Danang., Santoso, A., Sarvajeet, P., Broto, R., Asj,ari, S. R., Rahardjo, P., Asdie, A. H., 2002 How Rational is Using Piroxicam or Turmeric Extract for Osteoarthritis (A Serial Researche) in Abstract of 10th Asia Pacific League of Associations for Rheumatology Congress, pp. 154. Bangkok.

(Selesai)

Penulis: dr. Nyoaman Kertia

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*