NYAYA Darsana

 

Oleh : I.B Wika Krishna

Nyaya darsana merupakan dasar dan pengantar dari seluruh pengajaran filsafat Hindu. Nyaya Sutra yang digunakan sebagai sumber dari filsafat Nyaya ditulis oleh Rsi Gautama atau sering pula dikenal dengan nama Aksapada atau Dirghatapas kurang lebih pada abad ke-4 SM.

Nyaya berarti ‘argumentasi’, sehingga sering pula disebut sebagai Tarka vada atau diskusi tentang suatu darsana atau pandangan filsafat. Didalam Nyaya darsana sendiri terkandung ilmu perdebatan (Tarka vidya) dan ilmu diskusi (vada vidya) yang berarti bersifat analitik dan logis. Dari konsep ini maka dapat diketahui bahwasannya Nyaya menekankan pada aspek logika dan nalar dengan pendekatan ilmiah dan realisme.

Nyaya merupakan alat utama untuk meyakini sesuatu dengan penyimpulan yang tak terbantahkan, yang dilalui dengan pengujian dengan berbagai argumentasi dan melewati berbagai perbantahan sehingga membentuk suatu keyakinan yang penuh. Menurut konsep Nyaya, pengetahuan menyatakan 4 kadaan, yaitu :

  1. Subyek atau si pengamat (pramata)
  2. Obyek (Prameya)
  3. Keadaan hasil dari pengamatan (Pramiti)
  4. Cara mengetahui (Pramana)

Obyek yang diamati (Prameya) berjumlah 12, yaitu :

  1. Roh (Atman)
  2. Badan (Sarira)
  3. Indriya
  4. Obyek Indriya (Artha)
  5. Kecerdasan (Buddhi)
  6. Pikiran (Manas)
  7. Kegiatan (Pravrrthi)
  8. Kesalahan (dosa)
  9. Perpindahan (Pretyabhava)
  10. Buah atau hasil (Phala)
  11. Penderitaan (Duhkha)
  12. Pembebasan (Apawarga)

Nyaya darsana yang bertindak pada garis ilmu pengetahuan, menghubungkan Vaisesika pada tahapan dimana materi-materi spiritual (adhyatmika) seperti : jiwa (roh pribadi), jagat (alam semesta), Isvara (Tuhan), dan Moksa (pembebasan), yang disbut Apawarga oleh Vaisesika. Nyaya dan Vaisesika mempercayai Tuhan yang berpribadi, kejamakan dari roh dan alam semesta yang berupa atom-atom. Nyaya Darsana mendiskusikan kebenaran mendasar melalui bantuan 4 cara pengamatan (Catur Pramana) :

  • Pratyaksa pramanaà pengamatan langsung.
  • Anumana pramana à melalui penyimpulan.
  • Upamana pramanaà melalui perbandingan.
  • Sabda pramanaà melalui penyaksian.

 

  • Pratyaksa pramana à pengamatan langsung.

Pratyaksa pramana atau pengamatan secara langsung melalui panca indriya dengan obyek yang diamati, sehingga memberi pengetahuan tentang obyek-obyek, sesuai dengan keadaannya. Pratyaksa pramana terdiri dari 2 tingkat pengamatan, yaitu : 1). Nirwikalpa pratyaksa (pengamatan yang tidak menentukan) pengamatan terhadap suatu obyek tanpa penilaian, tanpa asosiasi dengan suatu subyek,               2) Savikalpa pratyaksa (pengamatan yang menentukan) pengamatan terhadap suatu obyek dibarengi dengan pengenalan cirri-ciri, sifat-sifat dan juga subyeknya.

  •  Anumana pramana à melalui penyimpulan.

Anumana pramana merupakan hasil yang diperoleh dengan adanya suatu perantara diantara subyek dan obyek, dimana pengamatan langsung dengan indra tidak dapat menyimpulkan hasil dari pengamatan. Perantara merupakan suatu yang sangat berkaitan dengan sifat dari obyek.

Proses penyimpulan melalui beberapa tahapan, yaitu :

  1. Pratijna : memperkenalkan obyek permasalahan tentang kebenaran pengamatan.
  2. Hetu : alasan penyimpulan
  3. Udaharana : menghubungkan dengan aturan umum itu dengan suatu masalah.
  4. Upanaya : pemakaian aturan umum pada kenyataan yang dilihat.
  5. Nigamana : penyimpulan yang benar dan pasti dari seluruh proses sebelumnya.
  • Upamana pramana à melalui perbandingan.

Upamana pramana merupakan cara pengamatan dengan membandingkan kesamaan-kesamaan yang munkin terjadi atau terdapat dalam suatu obyek yang di amati dengan obyek yang sudah ada atau pernah diketahui.

  • Sabda pramana melalui penyaksian.

Sabda pramana merupakan pengetahuan yang diperoleh melalui kesaksian dari orang-orang yang dipercaya kata-katanya, ataupun dari naskah-naskah yang diakui kebenarannya. Kesaksian terdiri dari 2 jenis : 1). Laukika sabda : kesaksian yang didapat dari orang-orang terpercaya dan kesaksiannya dapat diterima akal sehat, 2). Vaidika sabda : kesaksian yang didasarkan pada naskah-naskah suci Veda sruti.

1. Tuhan, Jiwa dan Alam Semesta

Dalam konsep Nyaya, seluruh perbuatan manusia di dunia menghasilkan buah dari perbuatan yaitu adrsta. Adrsta berada dibawah pengawasan langsung dari Tuhan, dan sekaligus berperan pada nasib setiap individu. Tuhan merupakan kepribadian yang terbebas dari pengetahuan palsu (mithya jnana), kesalahan (adharma), kelalaian (pramada). Beliau adalah esa memiliki pengetahuan abadi (nitya jnana), kehendak kegiatan (iccha kriya), beliau pula bersifat meresapi segala (wibhu).

Jiwa merupakan keberadaan nyata yang keseluruhan dan kesatuannya abadi. Sifat-sifat jiwa adalah keengganan, kemauan, kesenangan, derita, kecerdasan, dan intuisi. Obyek yang menyatakan ‘aku’ adalah jiwa, dan ia bersifat abadi walau badannya telah hancur.

Alam semesta merupakan gabungan atom-atom yang abadi (paramanu), yang terdiri dari unsur-unsur fisik, yaitu : tanah (prthiwi), air (apah), api (tejas), dan udara (vayu)

2.   Keterikatan dan Pembebasan

Dunia tersusun atas kesalah pengertian (mithya jnana), kesalahan (dosa), kegiatan (prawrrti), kelahiran (janma), dan penderitaan (duhkha). Mithya jnana merupakan awal dari penderitaan yang menyebabkan kesalahan tentang suka dan tidak suka (raga-dwesa). Dari raga-dwesa muncullah perbuatan yang baik dan jahat, sehingga terus mengalami reinkarnasi, penghapusan raga-dwesa inilah yang menjadi pokok Nyaya darsana untuk mencapai pembebasan atau pelepasan (apawarga). Pelepasan (apawarga) dapat dicapai dengan mendapatkan pengetahuan yang sebenarnya, melepaskan berbagai ksalahan yaitu : kasih sayang (raga), keengganan (dwesa) dan kebodohan (moha). Keengganan (dwesa) termasuk rasa kemarahan, kebencian, iri hati dan dendam. Kebodohan (moha) termasuk rasa curiga, kesombongan, kelalaian, dan pengertian salah. Pelepasan (apawarga) merupakan pembebasan mutlak dari penderitaan namun bukan penghilangan sang Diri, ia hanya bersifat penghancuran belenggu.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*