MIMAMSA DARSANA

Oleh : Ida Bagus Wika Krishna

Filsafat mimamsa atau sering pula disebut purwa mimamsa didirikan oleh Sri Jaimini, yang merupakan penyelidikan ke dalam bagian kitab suci Weda. Disebut pula purwa mimamsa karena dianggap lebih awal dari uttara mimamsa (Wedanta) dalam pengertian logika, namun bukan dalam pengertian kronologis. Kata ‘mimamsa’ berarti menganalisa dan mengerti seluruhnya, yang pada intinya memberikan landasan filsafat pada ritual-ritual dalam Weda. Ada dua dukungan yang diberikan oleh mimamsa, yaitu :

1. memberikan sebuah metodelogi interpretasi agar ajaran-ajaran Weda yang rumit mengenai ritual-ritual bisa dipahami, diharmoniskan dan diikuti tanpa kesulitan.
2. dengan menyediakan suatu justifikasi filsafat ritualisme.

Sri Jaimini menerima 3 pramana tentang pengamatan, yaitu : 1). Pengamatan (pratyaksa), 2). Penyimpulan (anumana), dan 3). Otoritas pembuktian atau Weda (Sabda). Menurut mimamsa, Weda merupakan apuruseya atau bukan karya manusia, oleh karenanya weda terbebas dari berbagai bentuk kesalahan yang di buat oleh manusia. Dalam sutra pertama mimamsa sutra disebutkan ‘athato dharmah jijnasa’ yang sekaligus menjadi kesimpulan dari tujuan filsafatnya, yaitu untuk mengetahui dharma dan kewajiban dalam pelaksanaan upacara yang dilaksanakan dalam kitab suci Weda.

Kitab Weda yang termasuk sruti merupakan otoritas tertinggi dalam pelaksanaannya yang niscaya mengantarkan umat menuju kebahagiaan sejati. Dilanjutkan dengan smrti pada urutan kedua, yang apabila bertentangan dengan sruti, maka smrti dapat diabaikan. Hal ini sebenarnya telah ditegaskan pula di dalam kitab Manawa Dharmasastra II.6 mengenai garis otoritas yang patut dipedomani, yaitu :

Wedo’kilo dharma mulam
Smrti’sile ca tadwidam
Acara’scaiwa sadhunem
Atmanastustirewa
Artinya :
Seluruh weda merupakan sumber utama dari pelaksanaan dharma, kemudian barulah smrti disamping sila, kemudian acara (tradisi para orang suci), serta akhirnya atmanastuti (kepusan diri sendiri).

Dalam pandangan Rsi Jaimini, pelaksanaan korban suci (yajna) hendaknya dilakukan dengan mekanisme yang tepat. Dilandasi dengan keyakinan (sradha) dan kepatuhan (bhakti) sehingga bisa memberikan manfaat dalam mencapa kelepasan. Pada intinya korban suci merupakan pengorbanan kepentingan diri, keakuan dan raga dwesa (rasa suka dan benci). Dari sini pula umat diwajibkan melaksanakan nitya karma seperti sandhya dan naimitika karma selama ada kesempatan, ini merupakan kewajiban tanpa syarat.

Sang diri sejati menurut mimamsa berbeda dengan indriya dan intelek, ia merupakan penikmat sedangkan badan merupakan tempat untuk mengalami dan indriya sebagai peralatan untuk mengalami. Sang diri seolah merasakan karena menyatu dengan badan, ia sesungguhnya bukanlah indriya dan selalu abadi walau badan dan indriya telah hancur. Pelaksanaan korban akan mengantar manusia untuk mencapai sorga.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*