MALAM SIWARATRI DI PURA JAGADNATHA, BANGUNTAPAN

Bantul-(SHD), 15 Januari 2018 Pura Jagadnatha banguntapan, Pengempon Pura Jagadnata mengadakan rangkaian acara perayaan Siwaratri. Perayaan Siwaratri terlaksana atas kerjasama dengan Panitia Nyepi 2018, PHDI, Lembaga Urusan Kematian PHDI, dan Yayasan Ardhanariswara dan PMHD Banguntapan. Tahun ini perayaan Siwaratri di pura Jagadnata Banguntapan mengadakan Dharma Tula/ Sarasehan dengan menghadirkan narasumber Drs. Ketut Wiana, M.Ag (Tokoh Hindu) dan I Ketut Sumedana, S.H.,M.H (Kajari Bantul dan Tokoh Muda Hindu).

Diawali dengan persembahyangan bersama pada pukul 19.00 yang dipimpin oleh Bapak Wasi Jero Gde Achir Murti A.W. Persembahyangan diikuti oleh berbagai lapisan umat, seperti mahasiswa, paguyuban, kelompok suka duka dan umat yang sedang bertugas di Jogjakarta. Setelah selesai persembahyangan bersama, kemudian dilanjutkan dengan Dharma Tula atau Sarasehan dengan tema “Agama Menata Kehidupan”.

Sarasehan diadakan di Gedung Santi Sasana, diawali dengan geding dan tabuh Jawa kerawitan Gema Jagadnata yang sangat indah dan lembut. Kemudian diisi dengan penampilan Band Akustik PMHD Banguntapan. Setelah penampilan PMHD Banguntapan, acara dibuka oleh MC kemudian dilanjutkan sambutan-sambutan. Sambutan pertama sekaligus ucapan selamat datang oleh Ketua Pengempon Pura Jagadantha Budi Sanyoto, Budi menyampaikan bahwa ini adalah persembahan kepada umat untuk memberikan yadnya melalui Jnana (Pengetahuan Agama) dan sebagai temu kengen dengan Narasumber Drs. Ketut Wiana, M.Ag. diakhir sambutanya Budi Sanyoto menyampaikan banyak terimakasih kepada pihak-pihak yang telah mendukung kegiatan sarasehan.

Sambutan yang selanjutnya adalah dari PHDI DIY yang disampaikan Oleh I Wayan Sumerta (Ketua I PHDI DIY), Wayan menyampaikan suatu penghargaan yang setinggi-tingginya kepada Pengempon Pura Jagadnatha karena telah mengadakan acara Dharma Tula. Wayan Sumerta yang sekaligus tokoh sepuh Hindu Umat Yogyakarta berpesan kepada umat untuk menggunakan kesempatan acara ini dengan sungguh-sungguh sehingga sebagai umat yang baik kita bisa mengenali diri sendiri, siapa aku dan untuk apa aku ada didunia ini. Kemudian sambutan yang terakhir dari Pembimas Hindu Yogyakarta, Ida Bagus Wika Krishna, S.Ag., M.Si. Dalam sambutanya, Wika Krishna menyampaikan di malam Maha Siwa  umat harus senantiasa mamahami betul untuk memaknai Siwaratri. Dan menggunakan kesempatan hari suci Siwaratri untuk masuk dalam kesadaran Siwa dan  di kesempatan Acara Dharma Tula untuk menggali dan mendalami bagaimana ajaran agama untuk menjalani hidup menghindari perbuatan yang mengakibatkan dosa.

Masuk ke acara inti Dharma Tula, I Wayan Ordiyasa, S.Kom,.M.Kom selaku moderator memanggil kedua narasuber untuk duduk di atas panggung. Setelah selesai mengenalkan kedua narasumber, Ordiyasa langsung memberikan kesempatan pertama kepada I Ketut Sumedana, S.H.,M.H (Kajari Bantul), Ketut menyampaikan kepada umat hidup di jaman  sekarang harus bekerja keras dan pantang menyerah. Indonesia yang memiliki berbagai suku agama ras dan antar golongan harus selalu mengedepankan rasa hormat, saling menghargai dan toleransi serta menghindari radikalisme. Menurut Sumedana, Tiga kunci sukses dalam hidup adalah membuat nyaman dan harmoni diri sendiri, membuat senang dan bahagia orang lain dan yang paling penting adalah selalu ingat dan membahagiakan orang tua serta selalu berbagi untuk orang lain.

Berpikir global bertindak lokal, itu adalah suatu statmen yang diberikan oleh Drs. Ketut Wiana, M.Ag. Wiana merupakan narasumber utama yang diundang secara khusus oleh pengempon pura Jagadnatha Banguntopo untuk menjwab keraguan-keraguan umat Hindu yang ada di Yogyakarta. Wiana menyampaikan, Hindu adalah agama yang sangat universal dan menyesuaikan jaman. Pada jaman kali yuga ini, persembahan yang paling relevan adalah persembahan Dana Punia, dengan dana punia yang dihaturkan akan sangat bermanfaat untuk membentuk generasi muda yang suputra. Karena memiliki satu generasi yang suputra lebih baik dari pada melakukan seratus yadnya. Wiana juga mengajak umat untuk menjalani hidup ini berpedoman pada agama. Jika umat ingin hidup sejahtera maka hendaknya lindungi dan peliharalah agama yang dianut (dharma), carilah kekayaan (dhana), pilihlah bahan makanan yang menyehatkan (dhanyan), ikuti kata-kata bija guru (guru wacana) jaga dan tingkatkan kesehatan (ausadha) dengan cara tersebutlah umat hindu akan mampu mencapai tujuan hidup dengan baik dan dapat hidup harmonis.

Sekitar pukul 23.45 acara dharma tula ditutup oleh Ordiyasa, sekitar 100 umat mengikuti dharma tula di gedung Santi Sasana. Setelah acara ditutup kemudian dilanjutkan dengan malam pemujaan Siwa di mandala utama pura.(Mang Santi**)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*