KERAUHAN DALAM AGAMA HINDU

Dalam Ritual yang dilaksanaan oleh umat Hindu baik di Bali maupun di Jawa memiliki sebuah tradisi Tantra, yaitu kerauhan dalam pelaksanaan upacara sedangkan di Jawa kerauhan dikenal dengan istilah kesurupan, tetapi dalam tingkatannya memang jauh berbeda dengan kerauhan. Kerauhan berasal dari kata “rauh” yang berarti “datang”. Makna dan tujuan sesungguhnya adalah kedatangan mahluk-mahluk suci (para Ista Dewata) ke alam marcapada ini. Tujuannya adalah untuk menebarkan getaran energi kedewataan di alam marcapada ini, serta untuk memberikan petunjuk niskala bagi manusia. Ini merupakan salah satu ritual yang membuat taksu Tanah Bali Dwipa menjadi sangat sakral. Jika ini dihilangkan, maka akan hilang jugalah taksu kesakralan Tanah Bali Dwipa ini.

Akan tetapi sangat disayangkan bahwa, di masyarakat, terdapat berbagai kesimpangsiuran pemahaman, atau bahkan isu-isu negatif tentang kerauhan.

Kerauhan tidak selalu diakibatkan oleh kemasukan mahluk. Jika dilihat dari faktor penyebabnya, sesungguhnya ada 7 (tujuh) jenis fenomena kerauhan, yaitu :

(1). Kerauhan karena kemasukan mahluk-mahluk suci (para Ista Dewata).

Ini merupakan bagian dari ritual Tantra yang sangat sakral dalam pelaksanaan upacara di Bali. Yaitu kedatangan mahluk-mahluk suci [para Ista Dewata] ke alam marcapada ini, untuk menebarkan getaran energi kedewataan di alam marcapada ini, serta untuk memberikan petunjuk niskala bagi manusia. Ini merupakan salah satu ritual yang membuat taksu Tanah Bali Dwipa menjadi sangat sakral. Jika ini dihilangkan, maka akan hilang jugalah taksu kesakralan Tanah Bali Dwipa ini.

Kerauhan jenis ini dalam suatu pelaksanaan upacara adalah sesuatu yang baik dan diharapkan. Kedatangan mahluk-mahluk suci (para Ista Dewata) ke alam marcapada ini merupakan sesuatu yang baik dan menjadi bagian dari ritual Tantra.

Orang-orang yang tubuhnya bisa kemasukan mahluk-mahluk suci (para Ista Dewata) adalah orang-orang yang tubuhnya peka dan secara selubung energi tubuhnya terbuka, serta memiliki moralitas keseharian yang baik dan memiliki kebaikan hati, serta memiliki keseimbangan emosi yang baik. Karena di alam semesta ini ada hukumnya, yaitu kesucian hanya bisa terhubung dengan kesucian.

(2). Kerauhan karena kemasukan mahluk-mahluk bawah atau roh gentayangan.

Sekali lagi bahwa orang-orang yang tubuhnya bisa kemasukan mahluk adalah orang-orang yang tubuhnya peka dan secara selubung energi tubuhnya terbuka. Akan tetapi, jika yang memasuki tubuhnya adalah mahluk-mahluk bawah, itu merupakan pertanda bahwa yang bersangkutan punya pe-er atau tugas secara spiritual, yaitu membina diri secara baik di dalam tiga hal ini. Pertama (1) membangun keseimbangan emosi yang baik, kedua (2) tekun melaksanakan kebaikan-kebaikan yang tulus kepada semua mahluk, dan ketiga (3) memiliki moralitas keseharian yang baik. Karena jika mereka memiliki semua ketiga hal tersebut, maka mahluk-mahluk alam bawah tidak mungkin akan tertarik memasuki tubuhnya. Karena getaran energinya tidak cocok.

Waktu kerauhan karena kemasukan mahluk-mahluk bawah atau roh gentayangan terbagi menjadi 2 (dua), yaitu pada waktu umum dan khusus. Yang dimaksud dengan waktu umum itu yaitu bisa terjadi kapan saja dan di sembarang tempat. Sedangkan waktu khusus itu adalah kerauhan dalam pelaksanaan upacara.

Akan tetapi jika ada orang yang kerauhan karena kemasukan mahluk-mahluk bawah atau roh gentayangan, jangan sekali-sekali kita pernah menghakimi mereka sebagai kemasukan setan. Diterima saja tanpa penghakiman sama sekali. Inilah pengetahuan dalam ajaran Hindu (Tantra), sebagai bentuk belas kasih dan kebaikan yang sempurna kepada semua mahluk. Ingatlah bahwa mereka juga bagian dari “tubuh semesta” yang sama dengan kita, yaitu Brahman [(Tuhan).

Mereka memasuki tubuh manusia (meminjam untuk sementara waktu) disebabkan karena mereka sangat merindukan tubuh manusia, atau karena mereka ada aspirasi tertentu yang ingin disampaikan. Pandanglah dengan penuh belas kasih, pahami mereka sebagai mahluk sengsara yang sedang membutuhkan pertolongan kita. Jika ada aspirasi tertentu yang ingin disampaikan, kita tanyakan mereka minta apa. Sepanjang kita masih mampu, penuhi permintaan mereka.

(3). Kerauhan karena membawa bekal-bekal niskala.

Kerauhan jenis ini tidak disebabkan karena ada mahluk yang memasuki tubuhnya. Tidak ada mahluk yang memasuki tubuhnya.

Ketika seseorang yang membawa bekal-bekal niskala menghadiri suatu pelaksanaan upacara, atau memasuki tempat suci yang sakral, atau memasuki kawasan yang sakral, kemudian energi dari bekal-bekal niskala yang dibawanya tersebut mengalami “benturan” dengan energi tempat suci atau kawasan suci tersebut, maka orang tersebut akan bereaksi atau mengalami sensasi seolah-olah seperti kerauhan. Padahal sesungguhnya sama sekali tidak ada mahluk yang memasuki tubuhnya.

Bagi orang awam dapat menganggap kejadian ini sebagai kerauhan. Padahal bukan. Hanya seolah-olah saja seperti “kerauhan”. Padahal sebenarnya tidak ada mahluk yang memasuki tubuhnya.

(4). Kerauhan karena mempelajari ilmu kesiddhian tertentu.

Kerauhan jenis ini juga tidak disebabkan karena ada mahluk yang memasuki tubuhnya. Tidak ada mahluk yang memasuki tubuhnya.

Ketika seseorang yang mempelajari ilmu kesiddhian tertentu menghadiri suatu pelaksanaan upacara, atau memasuki tempat suci yang sakral, atau memasuki kawasan yang sakral, kemudian energi tempat suci atau kawasan suci tersebut “menghidupkan” energi kesiddhian yang ada di tubuh orang tersebut, maka tubuh orang tersebut akan bereaksi atau mengalami sensasi seolah-olah seperti kerauhan. Padahal sesungguhnya sama sekali tidak ada mahluk yang memasuki tubuhnya.

Bagi orang awam dapat menganggap kejadian ini sebagai kerauhan. Padahal bukan. Hanya seolah-olah saja seperti “kerauhan”. Padahal sebenarnya tidak ada mahluk yang memasuki tubuhnya.

(5). Kerauhan karena terkena ilmu hitam.

Kerauhan jenis ini juga tidak disebabkan karena ada mahluk yang memasuki tubuhnya. Tidak ada mahluk yang memasuki tubuhnya.

Ketika seseorang yang terkena ilmu hitam menghadiri suatu pelaksanaan upacara, atau memasuki tempat suci yang sakral, atau memasuki kawasan yang sakral, kemudian energi tempat suci atau kawasan suci tersebut “menolak” energi ilmu hitam yang ada di tubuh orang tersebut, maka kesadaran dan tubuh orang tersebut akan bergejolak seolah-olah seperti sedang kerauhan. Padahal sesungguhnya sama sekali tidak ada mahluk yang memasuki tubuhnya.

Bagi orang awam dapat menganggap kejadian ini sebagai kerauhan. Padahal bukan. Hanya seolah-olah saja seperti “kerauhan”. Padahal sebenarnya tidak ada mahluk yang memasuki tubuhnya.

(6). Kerauhan karena gangguan psikologi (kejiwaan).

Kerauhan jenis semata-mata karena masalah psikologi (kejiwaan) saja. Tidak ada mahluk yang memasuki tubuhnya.

Jika seseorang memendam tekanan pikiran-perasaan yang hebat di dalam dirinya, maka tekanan-tekanan tersebut terpendam di alam bawah sadarnya. Ketika ada suatu hal atau suatu faktor yang memicu tekanan pikiran-perasaan yang tersimpan di alam bawah sadarnya tersebut, yang membuatnya meletup keluar, maka orang tersebut akan memunculkan kelakuan seolah-olah seperti orang yang sedang kerauhan. Padahal sesungguhnya sama sekali tidak ada mahluk yang memasuki tubuhnya.

Bagi orang awam dapat menganggap kejadian ini sebagai kerauhan. Padahal bukan. Hanya seolah-olah saja seperti “kerauhan”. Padahal sebenarnya tidak ada mahluk yang memasuki tubuhnya.

(7). Kerauhan yang hanya pura-pura saja.

Kerauhan jenis ini semata-mata karena kelakuan seseorang yang berpura-pura (hanya akting) saja mengalami kerauhan. Padahal sesungguhnya tidak ada sesuatu apapun yang terjadi. Motif orang-orang yang berpura-pura mengalami kerauhan ini ada banyak macamnya. Ada yang karena memiliki kepentingan pribadi, motif mengambil keuntungan, agar dipercaya orang, dsb-nya. Tentu saja tidak semua motifnya buruk. Tidak bisa kita ambil ke dalam satu kesimpulan, karena setiap pelakunya berbeda.

Sebagai sebuah kesimpulan, diantara semua 7 (tujuh) jenis kerauhan tersebut, sesungguhnya hanya 2 (dua) jenis saja yang dapat disebut sebagai kerauhan (kemasukan mahluk). Sedangkan 5 (lima) jenis yang lainnya tidaklah dapat dianggap sebagai kerauhan, karena tidak ada mahluk yang memasuki tubuhnya.

Ref: Nyoman Suanda Santra

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*