KEMATIAN MENURUT AGAMA HINDU

Manusia tidak bisa lepas dari hukum alam yang mengaturnya seperti lahir, hidup, mati adalah merupakan kodrat. Kematian merupakan suatu hal yang pasti ada dalam kehidupan dan sangat biasa dan wajar jika itu menimpa orang lain, tapi bila kematian itu menimpa keluarga, kekasih, sahabat karib, kematian punya arti khusus dan luar biasa terkadang kematian belum sepenuhnya bisa diterima sebagai sesuatu yang wajar. Mungkin mulut mengatakan wajar tapi jauh di lubuk hati yang paling dalam kematian adalah sesuatu yang menakutkan

Terkait dengan fenomena itu sering terjadi di masyarakat kita khususnya Bali dimana saya dilahirkan, ada istilah (metetuwunan) menanyakan pada orang tua/pintar/dukun(balian),  paranormal menanyakan kondisi roh atau atman yang sudah meninggal, Padahal belum tentu kebenarannya. Tentunya keluarga akan senang dan bahagia jika roh atau sang atman yang meninggal mendapat tempat yang  baik, sebaliknya jika sang balian/dukun mengatakan kematian keluarganya tidak wajar, Nah munculah masalah baru. Dalam kondisi berduka, sedih dan panik muncul rasa saling mencurigai sesama keluarga sendiri, yang ciri-cirinya sama seperti ucapan sang dukun. Ya ampun,  Dalam hati saya berharap  pada semua dukun dan balian ,”mbok yo bilangnya yang baik-baik saja” supaya  pihak  keluarga yang masih hidup terhibur, ikhlas dan lascarya menerima kematian keluarganya. Urusan surga, neraka, layak dan tidaknya tempat di alam sana itu menjadi urusan karma sang roh/atma. Dalam menghadapi kematian kita sering kelabakan, bingung, bingung karena kehilangan, bingung menghadapi jenazah, bingung menentukan hari baik dan mengharuskan jenazah menginap beberapa hari bisa 3 hari, 1 minggu, bahkan sampai 24 hari, jika di Bali itu tidak masalah. Tapi kalau di daerah Rantau itu menjadi masalah dengan lingkungan, adat setempat belum tentu bisa menerima karena mereka menganggap orang meninggal harus segera mungkin di semayamkan/dikubur. Didalam hal upakaranya tidak kalah heboh, semua membawa dresta/aturan adat daerah masing-masing. Jadi untuk di Jogja belum punya standar upakara yang dijadikan panutan. PR bagi Parisada dan umat bagaimana mengkemas menjadi sebuah formula yang pas tanpa menghilangkan arti dan makna yang tersirat dalam Veda.

Berbicara kematian bukan menyangkut masalah duniawi, karena ketika mati tidak satupun harta benda,  keluarga, kedudukan yang terbawa bahkan sang badan ini sewaktu kita hidup kita bangga-banggakan,  disanjung-sanjung orang,  tidak punya nilai disat mati tinggal hanya nama. Rahasia kematian tidak dapat disingkap/dimengerti dengan pengetahuan duniawi atau menghandalkan kemampuan kita sebagai manusia. Kekurangan pengetahuan Veda membuat kita gagal memahami tabir kematian sehingga sering kematian dianggap takdir atas kehendak Hyang Widhi. Mendapat musibah di anggap takdir,  hidup susah dianggap takdir, tidak  dapat jodoh (jomblo) di anggap takdir, bencana dianggap takdir. Pokoknya segala sesuatu masalah dianggap takdir dan sebaliknya, segala bentuk  kesenangan/kebaikan tidak dianggap takdir. Kadang  kita egois dan sok tau karena rendahnya pengetahuan rohani kita.

Dalam weda dikatakan segala masalah dan musibah tidak pernah diciptakan Hyang Widhi, demikian juga dengan kelahiran dan kematian, semua itu karena ulah manusia yang tidak bisa berdamai dengan alam, dan manusia sendiri menerima kelahiran maka harus siap menerima kematian

Jatasya hi druvo mrtyur

Ahruvam janma mrtasya ca

Tasmad apraiharye rthe

Na tvam socitum arhasi    (BG. II-27)

Artinya: Sesungguhnya setiap yang lahir, kematian adalah pasti, demikian pula setiap yang mati kelahiran adalah pasti, dan ini tak terelakkan,  karena itu tak ada alasan engkau merasa menyeasal.

 

Kematian bukan akhir dari kehidupan, dengan alasan demikian Hyang Widhi menganjurkan manusia tidak menyesali kematian sebaliknya harus berani menghadapinya dan berupaya mencari jalan pembebasan dari hukum kelahiran dan kematian tersebut (Punarbawa)

Tujuan dari umat manusia yang sebenarnya bukan ke Surya, Bumi, Neraka tapi Moksa bebas dari kelahiran dan kematian, menyatu dengan Hyang Widhi, Amor Ring Acintya.

Kematian dalam agama Hindu dianalogikan sepertinya orang mengganti pakaian yang lama artinya tidak layak digantikan dengan pakaian baru, badan jasmani punya batas/masa waktu hidup badan-badan itu dengan sendirinya akan rusak,dan sang jiwa akan pindah ke badan yang lain

Vasamsi jirnani yatha vihaya

Navani grhanait naro parani

Tatha sarirani vihaya jirnany

Anyani samyati navani dehi.    (BG II-22)

Artinya ;

Seperti halnya orang menanggalkan pakain usang yang telah dipakai dan menggantikanya dengan yang baru.demikian pula halnya jiwatman meninggalkan badan lamanya dan memasuki jasmani yang baru.

Kesenangan duniawi yang menyebabkan orang betah dan ingin selalu berada dalam badan jasmaninya.saat kematian datang  orang jadi sedih dan takut,sedih karena meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang telah dujalani bertahun-tahun terlebih-lebih kebiasaan itu hal-hal yang menyenangkan

Maka peru kita sadari betul bahwa sang diri ini bukan hanya sekedar badan,ada jiwa yang perlu mendapat pencerahan dengan pengetahuan rohani.

Menjaga badan penting dan harus tapi jangan berlebihan harus sehimbang atara kebutuhan jasmani dan rohani. Manusia tidak mampu mempertahankan badan jasmani pasti kembali ke asalnya yaitu panca maha buta

Mumpung diberikan  kesempatan hidup mari perbaiki kualitas karma, berbuatlah yang baik,keinsafan diri,penyerahan diri kepada Hyang widhi merupakan kebutuhan utama diri sebagai jiwa/roh.

  • Penulis: I Gusti Made Wirta, S.Sn
  • Penyuluh Agama Hindu Non PNS DIY

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*