Kala Purana

Diterjemahkan oleh : Ida Bagus Wika Krishna

1.Semoga tiada rintangan, ini adalah Kala-Purana, sebagai permulaan Sang Hyang Siwa di sorga Siwa Loka. (diceritakan) Bhattara Siwa ada anak beliau dua orang laki-laki, yang lebih tua diberi nama Sang Hyang Kala, seperti raksasa wujud beliau. Sang adik bernama Sang Hyang Panca-Kumara, masih anak-anak, rupawan wajahnya. Bhattara Kala lahir pada saat senja hari, Kamis-Pon Wuku Wayang . Beliau Sang Hyang Panca-Kumara lahir saat fajar, hari Sabtu-Kaliwon Wuku Wayang. Sang Hyang Kala bertapalah di pembakaran mayat (Pemuhunan). Adiknya yang masih kecil Sang Panca-Kumara masih di sorga, dirawat oleh ayah beliau Bhattara Siwa.

2.Sekarang diceritakan sudah besar (sakti) Sang Hyang Kala, sudah diberikan anugrah oleh Sang Hyang Kasuhun Kidul, berhak beliau memakan mausia yang lahir di hari Wuku Wayang, juga semua manusia yang bekerja tepat tengah siang (Tengah wai), dan orang yang bekerja saat senja hari (Sandhya-wela), begitulah anugrah beliau Sang Hyang Kasuhun Kidul.

3.Akhirnya menjadi ingatlah Bhattara Kala pada kewajibannya, karena ada adik beliau ikut lahir pada saat wuku wayang, boleh sebagai makanan beliau, karena Sang Hyang Panca Kumara lahir pada wuku Wayang, hari Sabtu Kaliwon. Itulah tujuan beliau Sang Hyang Kala, menghadap ayah beliau Sang Battara Guru. Berangkatlah beliau. Setibanya beliau di Sorga, langsung menyembah dihadapan beliau Bhattara Guru.

4.Pada saat itu bersabda Bhattara Siwa kepada anak beliau, Ucapannya : Hai anakku Hyang Kala, bahagia perasaanku atas kedatanganmu kepada ayah, Apa tujuanmu ? katakanlah kepada ayah mungkin ada yang dimohonkan kepadaku.

5.Pada saat itu bersujudlah Sang Hyang Kala, kata beliau :’saya datang karena (perjanjian) telah tiba, hamba meminta makanan (korban) kehadapan paduka Bhattara, seperti anugrah Sang Hyang Kasuhun Kidul kepada hamba, mungkin paduka Bhattara sudah mengetahui untuk memakan Sang Hyang Panca-Kumara adiksaya sebagai makanan hamba, karena lahirnya pada hari Tumpek Wayang. Orang yang lahir pada wuku Wayang sebagai korban hamba; demikian kata-kata Sang Hyang Kala.

6.Menjawablah Bhattara Siwa; ‘Hai anakku Sang Hyang Kala, seperti katamu kepada saya, saya memberikan tetapi ada perjanjianku kepada kamu, supaya kamu mendapatkan kebahagiaan kelak, kamu tidak boleh memakan orang yang belum tanggal gigi susunya, adapun sekarang adikmu Sang Hyang Panca-Kumara belum tanggal gigi susunya, janganlah kamu memakannya, tunggulah dahulu, demikianlah sabda Bhattara Siwa.

7.Menurutlah Bhattara Kala, menyembah dan pergi dari hadapan Bhattara Siwa.

8.Sabda Bhattara : ‘Kalau demikian berbahagialah engkau anakku’.

9.Singkat cerita: setelah ada lima tahun, saat itu ingatlah Bhattara Kala dengan perjanjian beliau, kembali menghadap kehadapan Bhattara Guru, kemudian meminta saudaranya, yang bernama Sang Hyang Panca-Kumara.

10.Sabda Bhattara : ‘Ada permintaanku kepadamu anakku tunggulah lagi tiga hari (akajeò)

11.Menjawablah Sang Hyang Kala: Hamba mematuhi titah Bhaþþàra, kemudian kembalilah Sang Hyang Kala menuju rumah tempat tinggalnya.

12.Diceritakan Bhattara Siwa mengasuh anak beliau, yang bernama Pañca-Kumàra, diberi anugrah oleh beliau Bhaþþàra Guru tidak akan menjadi tua, selamanya sebagai anak-anak.

13.Ketika tiba waktunya, setelah tiga hari datanglah Bhaþþàra Kàla, menghadap Bhaþþàra Guru, meminta Saò Pañca-Kumàra, untuk dimakannya sekarang.

14.Sabda Bhaþþàra : ‘Begini sekarang anakku; karena dia (Saò Pañca-Kumàra) lahir pada hari Úanaiúcara-Kalivon Uku Vayaò, lebih baik kamu memakan adikmu Saò Pañca-Kumàra pada hari itu juga’. Demikian Sabda Bhaþþàra Úiva.

15.Patuhlah Sang Hyang Kàla, menyembah kemudian pergi pulang ketempat beliau tinggal.

16.Diceritakan Bhattara Siwa bersabda pada anak beliau; Sabda-Nya: ‘Hai engkau anakku Sang Panca Kumara, pasti kamu akan dimakan, oleh kakakmu Sang Hyang Kala, di hari sabtu-kaliwon uku wayang. Dengan menunda ada upayaKu. Untuk kebaikan dirimu, suatu saat nanti boleh diganti dengan orang di dunia. Ada raja yang bijaksana di dunia, bernama prabhu Maya-Sura, bertahta di Kåta-nagara. Pergilah wahai anakku, mengabdilah, minta perlindungan, sebagai perjalanan hidupmu, karena kakakmu Sang Hyang Kàla, tiga hari lagi, pada hari Úanaiúcara-Kalivon uku Wayang, hendak memakan tubuhmu. Cepatlah engkau turun ke dunia, mencari raja di Kêrta-nagara’. Cepatlah Pañca-Kumàra, Berbahagia, panjang umur, dan sempurnalah engkau anakku’. Demikian sabda Bhaþþàra Úiwa.

17.Menyembahlah Sang Pañca Kumàra, pergi dari hadapan Bhaþtàra, kemudian turun ke dunia, bergegas ke bumi kerta negara, menuju istana beliau sang prabu Maya-sura. Sang prabu Maya-sura sedang berkumpul dengan seluruh petinggi kerajaannya. Tidak berselang lama datanglah Sang Panca Kumara, bersimpuh, menyembah di kaki Sang Prabu.

18.Terkejut Sang Raja Maya-sura. dikejutkan oleh orang yang baru datang; kata beliau : ‘ Dari mana engkau anak kecil, datang menyembah dihadapanku, sambil menahan tangis, cepat katakanlah’.

19.Disana berkatalah sang anak kecil, dengan tangis yang tersedu-sedu, katanya: ‘ Wahai yang mulia prabhu Maya-sura, hamba anak Bhaþþàra Úiwa, bernama si Pañca-Kumàra, tiada lain, tujuan hamba menghadap sekarang, memohon perlindungan kehadapan paduka maha raja, karena ada kakakku yang lebih tua, telah diberi anugrah oleh Sang Kasuhun Kidul, diijinkan memakan orang. Yang lahir pada hari Uku Wayang, boleh dimakan oleh Sang Hyang Kàla. Hamba ini lahir pada Sabtu-Kaliwon Wayang, inilah tujuan hamba, datang memohon perlindungan kehadapan paduka maharaja, …..Demikianlah permohonan Sang pañca-Kumàra.

20.Berkatalah Sang Prabhu Kerta-nagara: ‘ Wahai anakku Sang Pañca-Kumàra, kalau benar demikian, sekarang kami akan melindungimu.

21.Disanalah para mentri semua menyambut kedatangan Sang Pañca-Kumàra, menjadi iba, dan kasihan kepada yang baru datang.

22.Saat itu berkata kembali Sang Prabhu Maya-Sura kepada Sang Pañca-Kumàra; Katanya: ‘ Wahai kesayanganku, Sang Dewa-putra, janganlah ragu, sekarang berlindung di kerajaanku,……………………’. demikian sabda sang Prabhu.

23. Kemudian dia dan Panca Kumara masuk ke kamar.

24.Kemudian san raja memukul gendrang. Semua general dan prajurit sangat gelisah, dengan cepat mengambil senjata mereka dan berkumpul. Sang Raja memerintahkan kepada penjaga kerajaan untuk meronda dan untuk menyerang Sang Hyang Kala begitu dia mendekat.

25.Dalam hal ini Panca Kumara mencari perlindungan di Kerajaan Prabu Mayasura.

26.Biarkan kami kembali kepada Bhattara Kala. Saat kemufakatan telah tiba. Ketika hari Saniscara Wuku Wayang tiba, Bhattara Kala menyembah Bhattara Guru dan mengingatkannya bahwa saat kemufakatan tersebut telah tiba.

27.Sabda Bhattara Siwa “Kemufakatan dengan mu sudah ku ingat”, kata Bhattara Siva, “dan sekarang permintaanmu untuk melahap Panca Kumara akan dipenuhi. Tetapi engkau kehabisan tenaga harus mencarinya karena dia telah meninggalkan swargaloka. Dia mungkin telah turun ke bumi. Disanalah kamu harus melahapnya. Merupakan kekotoran bagi Swargaloka bila kamu melahap orang disini” Begitulah sabda Bhattara Guru.

28.Bhattara Kala setuju untuk turun ke Bumi. Dia mohon pamit di kaki Bhattara Guru.

29.Bhattara Kala menuju Bumi.

30.Sementara itu, Bhattara Guru berkeinginan terhadap kesejahteraan putranya merafalkan mantra agar putranya memperoleh panjang umur.

31.Ketika Sang Hyang Kala tiba di Madya loka, dia mencium bau bekas Panca Kumara dimana-mana karena ada tanda-tanda dari vijaya mala. Setibanya di Krta nagara, Sanghyang Kala menjumpai setiap orang lengkap dengan senjata mereka. Ketika dia melihat keramahan mereka, dia langsung bertanya kepada mereka : “Mengapa kalian semua lengkap dengan senjata dan pakaian perang ? Siapa musuh kalian ? katakan padaku, agar saya tahu !” Itulah apa yang ditanyakan oleh Sang Hyang kala.

32.‘Raja memerintahkan kami berperang denganmu Kala’ rakyat tersebut berteriak ‘Kami telah diperintah untuk membunuhmu karena kesalahanmu makan daging manusia’.

33.‘Bedebah kalian’, kata S.H. Kala. ‘Serahkan Panca Kumara ! Dia makanan ku. Aku harus mendapatkannya ! Sudah ditakdirkan pada mulannya bahwa dia harus ku lahap. Jika kamu tidak bersedia menyerahkannya padaku, jangan harap kalian bisa hidup’.

34.Dengan suara serentak, semua prajurit menjawab : ‘Kami tidak bersedia menyerahkan Panca Kumara’.

35.Oleh karena itu S. H. Kala menjadi marah dan menabrak prajurit tersebut. Prajurit dari Krta-nagara kemudian menyerang S. H. Kala. Kemudian S. H. Kala menjadi berang. Para prajurit dibunuh dengan senjatanya yang hebat. Yang lainnya melarikan diri. Mereka yang lari terbunuh dipenuhi dengan luka-luka. Mereka itu yang tercincang, tak satupun yang berani memandang.

36.Berita kekalahan para prajuritnya dalam pertempuran melawan Kala didengar oleh sang Prabu ayasura.

37.Dengan segera beliau meninggalkan lapangan perang dan menuju istana. Disana beliau memberitahukan Panca Kumara bahwa prajurit-prajurit beliau telah ditaklukkan dan karenanya beliau mesti mencari suatu tempat yang lain untuk berlindung. Kemudian beliau berkata kepada Panca Kumara : ‘Saya akan pertahankan diri. Demi anda saya bersedia mati membela diri melawan keganasan S. H. Kala dan gugur sebagai pahlawan bangsa’ Itulah kata-kata Prabu Mayasura.

38. Dengan gagah berani Sang Raja bertempur melawan S.. Kala. perang tanding yang hebat terjadi, dan setelah lama bertempur akhirnya sang raja terbunuh.

39. Kemudian S. H. Kala istana bagian dalam untuk mencari Panca Kumara. Sekian lama dia mencari namun dia tidak menemukan jejaknya, tetapi kemudian dia mencium bau wijaya-mala, merupakan tanda bahwa Dewata telah hadir yang mengingatkan Panca Kumara telah meninggalkan istana. Bhattara Kala memburu Panca Kumara. Dia menemukannya di jalan raya sedang menangis. Panca Kumara memohon dengan sangat kepada Bh. Kala (tidak melahapnya). Tetapi Bh. Kala segera menangkap dan menelannya. Kita tinggalkan mereka.

40. Sekarang kita bicarakan tentang Bh. Siva. Beliau mendengar putranya sedang meratap. Kemudian, Beliau turun ke bumi diiringi oleh Bhattari Sri, menunggangi sapi putih. Bh. Guru memerintahkan Bh. Kala untuk memuntahkan Panca Kumara. ‘Muntahkan dia, S. H. Kala, Beliau berkata, ‘Saya perintahkan !’

41. Dengan segera S.H. Kala memuntahkan Panca Kumara, yang segera berlari. Dia terbirit-birit sehingga tidak tampak, tak seorangpun tahu entah dimana.

42. S. H. Kala menjupmpai Bh. Siva yang diiringi oleh Bh. Sri, yang duduk diatas sapi putih. Mereka melakukan perjalanan sementara matahari tepat di atas kepala.

43. Kemudian S. H. Kala menjadi marah. Dia ingin melahap kedua orang tuanya. Dia membuka mulut lebar-lebar, seperti harimau lapar.

44. Bh. Siva berkata : ‘Janganlah engkau memakan ayah ibumu’.

45.Kata S. H. Kala : ‘Ayah dan Ibuku sudah jelas salah, siapapun yang berjalan tepat matahari diatas kepala, orang yang berjalan saat sandhi-kala sudah direstui oleh Sang Hyang Kasuhun Kidul untuk aku makan. Sekarang ayah ku melakukan perjalanan tepat matahari di atas kepala maka patut ku makan.

46.Kemudian berkatalah S. H. Siva : ‘Benar apa yang kamu katakan, tetapi terlebih dahulu kamu harus memecahkan teka-teki. Jika kamu bisa, maka lakukanlah untuk melahap ayah, ibu dan juga lembu putih ini.

47.S. H. Kala setuju.

48.Kemudian Bh. Siva mengucapkan sloka yang berisikan teka-teki.
‘Memiliki delapan kaki enam adalah telinganya’
Memiliki dua tanduk dan tujuh mata
Memiliki empat lengan dan tiga pusar
Alat kelamin laki dua dan wanita satu’

49.Lama berfikir Bh. Kala memikirkan yang dimaksud tujuh mata; dia tidak tahu mengenai satu mata kalpika. Yang lainnya dapat dia jawab dengan mudah. Tetapi akhirnya dia payah akan usahanya untuk menyelesaikan teka-teki tersebut.

50.Bhattara dan Bhattari tertawa atas kebingungannya Bh. Kala.

51.Sementara itu matahari makin lama makin tenggelam dan kesempatan Bh. Kala melahap Bhattara dan Bhattari hilang, karena dia gagal menjawab teka-teki tersebut. Tiba-tiba Bhattara dan Bhattari lenyap. Beliau naik ke alam Siva.

52.Kita kembali kepada Bh. Kala. Lagi dia memulai pengejarannya dan sambil menciumi bau dari wijaya-malanya Panca Kumara.

53.Sekarang, terjadi bahwa ada seorang laki-laki yang memasukkan ilalang ke dalam sungai. Dua ikatan dari rumput tersebut, terikat jadi satu, terlentang didekatnya. Tampak Panca Kumara, masuk ketengah ilalang, Tak lama kemudian lelaki tersebut mengangkat ilalang tersebut, tersingkaplah Panca Kumara. Dengan segera eia meloncat dan lari. Dengan seketika tidak tampak.

54.Bh. Kala kemudian sangat marah, dan dengan segera mengutuk setiap orang yang mengikat ilalang dengan dua ikatan saat merendam ilalang. ‘Siapapun yang tidak melepaskan dua ikatan tali saat merendam ilalang, dia berkata ‘tidak akan terlahir kembali menjadi manusia’. begitu kata Bh. Kala.

55.Kemudian dia melanjutkan pengejarannya terhadap Panca Kumara. Dengan segera dia melihatnya, bersembunyi di bawah lumbung. Ada kayu api disana, kayu api yang sudah kering, dan tali ikatannya tidak dibuka. Panca Kumara masuk diantara kayu api tersebut. Bh. Kala memasukkan tangannya ke dalam ikatan tersebut mencoba menarik Panca Kumara. Tetapi Panca Kumara menggeliat keluar dan berlari. Segera tidak tampak.

56.Saat itu Bh. Kala menjadi sangat marah. Dia mengeluarkan sebuah kutukan ‘Siapapun meletakkan kayu api di bawah lumbung beras dan masih terikat’, katanya, ‘agar tidak terlahirkan kembali sebagai manusia’. Begitulah kata Bh. Kala.

57.Lagi dia melanjutkan pengejarannya terhadap Panca Kumara. Dia melihatnya masuk kedalam tempat masak (bungut pawon) yang terbuka. Bh. Kala memasukkan tangannya kedalam lubang tersebut. Panca Kumara mengelak dan meloncat masuk ke rirun (ruangan di tempat masak, pengapian disebelahnya), yang dibiarkan tidak tertutup.

58.Lagi Bh. Kala menjadi sangat marah dan mengucap sumpah. ‘siapapun yang meletakkan kayu api di pengapian di dapur tanpa menutupi rirun’, dia berkata, ‘agar tidak terlahirkan kembali menjadi manusia,’ Begitulah kata Bh. Kala.

59.Kita sekarang akan berbicara tentang apa yang terjadi saat matahari tenggelam (sandhya-kala). S. H. Kala sudah melanjutkan pengejarannya terhadap Panca Kumara, tetapi gagal menemukannya.

60.Tetapi dia berjumpa dengan seorang lelaki sedang bertengkar dengan saudara lakinya. Mereka dia lahap. Kemudian dia bersumpah. ‘Siapapun bertengkar saat matahari tenggelam (sandhya-kala),’ Dia berkata, ‘Akan aku lahap’ Itulah sumpahnya.

61.Malam tiba dan Bh. Kala melanjutkan pencariannya terhadap Panca Kumara. Tengah malam tiba. Saat itu adalah hari tumpek wayang. Sekarang, ada seorang dalang yang sedang mempertunjukkan (sebuah pertunjukan wayang kulit). Dalangnya bernama Mpu Leger. Dia sudah menempatkan wayang tersebut didepannya dan para penabuh sudah memainkan redep (gender). Dalang ini memiliki suara yang indah.

62.Panca Kumara tiba di tempat tersebut. Bh. Kala telah berada dekat dengan Panca Kumara, yang sedang menangis dengan iba, mencari tempat perlindungan kepada dalang. Dia menundukkan kepalanya masuk ke pangkuan dalang. Mpu Leger terkejut. ‘ Bhattara apa ini yang memasukkan kepalannya ke pangkuan ku?’ dia bertanya.

63.‘Namaku Panca Kumara’, anak itu menjawab. ‘Saya putra dari Bh. Guru. Hidupku dalam bahaya. saya mohon kamu membantu saya. Saya akan dilahap oleh kakak saya, Bh. Kala, yang sudah diberikan hak oleh Sang Hyang Kasuhun Kidul untuk makan setiap orang yang lahir pada wuku wayang. Saya lahir pada Saniscara-kliwon-wara wayang. Itulah alasannya saya mohon perlindungan pada mu’.

64.‘Anakku tercinta’, kata Mpu Leger, ‘ Saya merasa sangat terharu pada mu. Saya akan melindungimu’. Kemudian dia mengambil Panca Kumara dan memasukkannya ke dalam salah satu selongsong bambu gender. Kemudian Mpu leger melanjutkan pertunjukan tersebut.

65.Selama pertunjukan berlangsung, S. H. Kala tiba-tiba muncul. Lapar dan haus, dia tiba-tiba menyambar sesajen tersebut yang ada. Dia memakan semua sesajen yang berupa bebangkit (lihat KBNW dbk IV 1070b). Dia tidak meninggalkan sedikitpun sesajen tersebut, yang sudah dipersembahkan untuk pertunjukan wayang tersebut.

66. Para penabuh buyar dalam kepanikan. Para penonton melarikan diri dalam pandangan S. H. Kala. Dia menjadi hormat. Seorang raksasa, amat tinggi, dengan muka hitam, rambut merah yang kusut, mata berapi-api seperti bintang berwarna merah tembaga.

67.‘Tuan Bh. Kala, Ada apa kira-kira?’, tanya Mpu Leger. ‘Bukan hanya engkau sudah melahap sesajenku, tetapi saya belum menyelesaikan pertunjkukan ini. Dari mana lagi saya bisa memperoleh sesajen seperti iotu ?’

68.Berikan padaku Panca Kumara, dengan demikian saya bisa melahapnya’, pinta Bh. Kala. ‘Saya baru saja melihatnya. Itulah sebabnya saya melahap sesajenmu. dan juga, kamu bukan dalang yang semestinya !’

69.‘Mengapa’, kata Mpu Leger, haruskah saya memberikannya padamu sebelum engkau memintanya ? Buruanmu, Panca Kumara, menyelamatkan hidupnya dengan berlindung kepadaku. bila ada permintaanmu terlebih dahulu, wajar kami bemberikan atau tidak memberikan. Karena belum ada permintaan kepadaku, kamu sudah melahap sesajenku, Bh. Kala salah. sesuai dengan Dharma Sastra, yang dinyatakan kepada kita oleh Bh. Manu. Ganti segera sesajenku ! Kamu, Bh. Kala engkau tidak berada pada posisi benar. Perhatian ! Tuhan, untuk mengurangi kesulitan orang, telah memberikan kewenangan kepada ku untuk menganugrahi keselamatan manusia. Ketahuilah bahwa dimasa depan akan ada Purvaka (peraturan) yang merupakan kesepakatan dengan mu : Jika orang lahir pada wuku wara wayang memenuhi kewajiban kepadamu, dengan memberikan sesaji bebangkit lengkap kemudian engkau tidak akan melahap mereka. Jika, mereka tidak memenuhi kewajiban mereka terhadapmu, kemudian kamu boleh melakukan sesuai kehendakmu. Seperti halnya saudaramu Panca Kumara, engkau akan membiarkan dia bebas. Dan sebagaimana yang dianugrahkan kepadaku, yang harus dicatat, sehingga hal ini akan diketahui sampai akhir jaman. Sekarang, bila engkau melihat saudaramu Panca Kumara, saya harap engkau akan mematuhi peraturan tersebut’. Mpu Leger kemudian mengeluarkan Panca Kumara.

70.Bh. Kala merasa puas.

71. dan Panca Kumara penuh dengan kegembiraan. Dia telah mendengar kata-kata Mpu Leger selama dalam persembunyian. Mereka ada untu kebaikan dunia dan untuk kebaikan dirinya sendiri. Kemudian Panca Kumara lenyap. Dia telah kembali ke sorga.

72. Mpu Leger dan Bh. Kala melanjutkan pembicaraannya. ‘Ayah, Empu dalang, atau vidu nama lain’, kata Bh. Kala, ‘setiap orang harus tahu tentang hal itu, dalam mengemban tugas Dalang, itu berarti bahwa engkau memiliki kwalitas tertinggi, bahwa engkau mencintai manusia, itu adalah alammu menjadi jiwa yang tinggi, bahwa engkau yang paling mengembangkan persahabatan dan membangkitkan keharuan diantara makhluk hidup, khususnya terhadap saudaraku, dan engkau mengukir sebuah persahabatan dengan ku. Saya menerima semua apa yang engkau katakan dan menegaskan bahwa engkau adalah dalang yang mengemban DHARMA PAVAYANGAN. Biarkan itu diingat selamanuya bahwa engkau adalah orang yang menyiapkan (toya panglukatan untuk semua orang dan (t.)panyuda-malan, sehingga sampai akhir zaman mereka akan di bersihkan dengan panglukatan Mpu Leger. Biarkan ini menjadi sesajen-sesajen . . . . . . . seperti yang lama.

1. Sekarang kita berbicara mengenai Panca Kumara yang segera menghilang menuju ke soraga, dia sudah mencapai lngit ketika dia perjumpa dengan ayah ibunya yang menunggangi sapi putih. Bh. Siva menyhambut Panca Kumara dan mengajak menunggangi sapi putih. Kemudian mereka menghilang dan menuju ke Siva-loka. Disambut oleh vidyadhara dan vidyadhari. Bh. Guru memberikan penghormatan kepada Panca Kumara. Kemudian upacara pembersihan dilakukan kepada ketiganya. Semua pelanggaran dan kekotoran-kekotoran dibersihkan. Sifat-sifat mereka sebelumnya dikembalikan kepada mereka.
Sesajen-sesajen pembersihan seperti yang diselenggarakan oleh Mpu Leger :

2. Memasang sanggah tutwan : didalamnya ada dua sesajen suci (untuk para Dewa); masing-masing suci harus lengkap.

3. Dibawah sanggah tutwan letakkan satu set bebangkit, dengan semua keterkaitannya dan 4.500 kepeng.
4. Dibawah senggah tutwan : sata manca warna, olah sesuai urip tulangnya dibuat layang-layang; segehannya sesuai urip amanca-desa;
5. Tesajen panebasan bagi yang lahir: sebuah tempat dengan tiga sudut, yang digabung dengan satu set sesajen suci, dan seekor itik mabe tutu; sebuah suci lengkap, dengan 1.700 kepeng.
6. Persembahan yang ada ditanah (untuk bhuta-kala) terdiri dari : penek putih 5, dengan seekor ayam putih yang diatur seperti masih hidup (winangun urip).
7. Dua sanggah cucuk, ditempatkan di sudut kain wayang (kelir), dengan lamak dan gantung-gantungan diatasnya letakkan tumpeng sebagai pemberian untuk dalang, kembang pahyas, lenge wangi, burat wangi, sesuai dengan keperluan.
8. Sesajen untuk dalang : satu buah suci lengkap dengan segalasesuatunya; itik betutu, pula gembal, sekar setaman, satu pajegan, canang pangkonan, daksina 4, masing-masing berisi 500 kepeng; pras panyeneng, dan segehan agung.
9. Tempat tirta panglukatan sang Mpu Leger, sangku sudha mala di atas beras; benang, dengan 225 kepeng, bunga sebelas warna, svahan, dan rwi-rwi dan samsam wija kuning.
10. Sekarang kita berbicara mengenai Bh. Kala dan percakapannya dengan Empu Leger. ‘Bh. Kala’, kata Empu Leger, ‘sesajen yang saya gunakan adalah untuk memuaskan kemarahanmu terhadap adikmu Panca Kumara. Fungsinya adalah sebagai pembersih terhadap kekotoran tersebut’. Sampai akhir zaman hal ini akan begitu ketika seorang anak lahir pada wuku wara wayang. Tanpa upacara kelahiran (karena meninggal), sesajen penebusan sang jiwa akan dipersembahkan untukmu, dan hari kelahiran itu harus diupacarakan dengan pertunjukan wayang dengan upacara penglukatan yang dilakukan oleh Empu Leger.
11. ‘Jika hal ini diabaikan, Bh. Kala, Engkau akan bebas untuk melakukan putusanmu. Kamu boleh menyakiti. Engkau mungkin bahkan melahap, atau memberikan penderitaan. Dan sesuai dengan kutukanmu, akan tergantung akan lahir kembali sebagai manusia ataupun tidak, atau apakah roh-roh mereka akan menjadi kahikik (sejenis pisang yang tumbuh di hutan)’.
12. ‘Tetapi, Bh. Kala, untuk itu bagi siapapun upacara pembersihan sudah dilaksanakan sesuai dengan instruksi Empu Leger, kamu tidak boleh menyakiti mereka, tidak juga kamu boleh melahap mereka’. Itulah perjanjian yang Empu Leger buat kepada beliau Bh. Kala.
13. Untuk semuanya ini, Bh. Kala setuju. ‘Tetapi, Empu Dalang’, dia berkata, ‘Ketahuilah bahwa jika ada rang yang berjalan pada siang hari tepat matahari diatas kepala, atau pada petang hari (sandhya-kala), atau bepergian ditengah malam, adalah dalam kekuasaanku dan akan menjadi korbantku. Ini adalah hak yang diberikan kepadaku oleh Sang Hyang Kasuhun Kidul’. Begitulah kata Bh. Kala.
14. ‘Sesuai dengan apa yang engkau katakan, Bh. Kala’, Jawab Empu Dalang.
15. Jadi itulah perjanjian diantara mereka.
16. Bh. Kala menghilang menuju ke alamnya dahulu.
17.Empu Leger menyelesaikan pertunjukan wayangnya dan kemudian para penonton pulang kerumahnya masing-masing.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*