KAJENG KLIWON DALAM AGAMA HINDU

SHD. Com, Agama memiliki peran yang amat penting dalam kehidupan umat manusia. Agama juga menjadi pemandu dalam upaya untuk mewujudkan suatu kehidupan yang bermakna, damai dan bermartabat. Agama Hindu berdasar pada system kepercayaan dengan mengacu pada kitab suci Veda. Kitab suci Veda merupakan jiwa dan intisari kebenaran Agama Hindu, yang dijadikan pedoman dalam konteks sosioreligius oleh umat Hindu yang divisualisasikan dalam nilai kerangka dasar Agama Hindu.

Kajeng kliwon merupakan hari yang perhitungannya jatuh pada Tri wara, yaitu Kajeng dan panca wara, kliwon. Pertemuan antara kajeng dengan Kliwon, diyakini sebagai saat energy alam semesta yang memiliki unsure dualiatas bertemu satu sama lainnya.”Energi dalam alam semesta yang ada di Bhuana Agung semuanya terealisasi dalam Bhuana alit atau Tubuh manusia itu sendiri.”

Energy itu ada yang baik dan buruk. Bagaimana caranya agar yang buruk ini tidak berpengaruh maksimal dalam kehidupan manusia, maka disinilah kita perlu melakukan sebuah upaya Nyomia. Atau dengan kata lain menetralisirnya, bukan menghilangkannya sebab dalam kehidupan ini dua kutub energy harus selalu ada dan senantiasa berdampingan satu sama lainnya.

Secara spesifik dalam hari kajeng kliwon inilah, penguasaan energy positif dan negative yang dalam Hindu disebut sebagai Prawerti dan juga Niwerti melakukan sebuah Pemurtiaan, dan dari sana beliau juga akan menganugrahi manusia keselamatan. Untuk menyeimbangkan hal tersebut, maka di hari kajeng kliwon, kita harus melakukan Bhuta Yadnya yang terkecil, yakni menghaturkan segehan.

Rahina kajeng kliwon diperingati setiap 15 hari sekali, dan dapat dibagi menjadi tiga, yakni: kajeng kliwon Uwudan, kajeng kliwon Enyitan dan kajeng kliwon Pamelastali. Kajeng kliwon Uwudan adalah kajeng kliwon yang jatuh setelah terjadinya purnama, sedangkan kajeng kliwon Enyitan adalah kajeng kliwon yang dilaksanakan setelah bulan mati atau tilem. Sementara kajeng kliwon Pamelastali adalah kajeng kliwon yang dilaksanakan setiap hari minggu pada wuku Watugunung, dilaksanakan setiap enam bulan sekali.

Pada setiap hari kliwon umat Hindu di Bali mengadakan upakara di rumah maupun di beberapa tempat sesuai adat masing-masing. Ada pun penjelasannya diambil dari Lontar Cundarigama yang menyebut ‘Mwah ana manut pancawara kliwon ngaran, samadhin bhatara Siwa,kawenangnia anada wangi ring sanggah, mwang luhuring haturu, meneher aheningana cita, wehana sasuguh ring natar sanggar mwah dengen, dening’ maksudnya, segehan kepel kekalih dadi atanding, wehana pada tigang tanding. Ne ring natar sambat Sang Kala Bhucari, ring sanggar sambat sang bhuta bucari, ring dengen sambat durga bhucari,.’ikang wehana laba nangken kliwon, saisinia, dan sama hanemu rahayu, paripurna rahasya’ yang artinya, pada hari pancawara, yakni setiap datangnya Hari kliwon adalah saat beryog bhatara siwa, sepatutnya pada saat yang demikian, melakukan penyucian dengan menghaturkan wangi-wangian bertempat di pemerajan, dan di atas tempat tidur.

Yang patut disuguhkan di halaman rumah, segehan kepel dua kepel menjadi satu tanding, dan setiap tempat tersebut disguhkan tiga tanding, yakni di halaman sanggar kepada Bhuta Bhucari, di dengen kepada Durga Bhucari, untuk di halaman rumah kepada Kala Bhucari. Adapun maksud memberikan laba setiap kliwon, yakni untuk menjaga pekarangan serta keluarga semuanya mendapat perlindungan dan menjadi bahagia.

‘Kunang ring byantara kliwon,prakrtinia kayeng lagi, kayeng kliwon juga, kewala metambehing sege warna, limang tanding, ring samping lawang ne ring luhur canang wangi-wangi, burat wangi, canang yasa, astawakna ring hyang Durgadewi, ne ring sor, sambat Sang Durga Bhucari,kala Bhucari, Bhuta Bhucari, phalania rahayu paripurna wang maumah. Yen tan samangkana ring Bhatara Durgadewi angrubeda ring wang adruwe umah, angadeken ring wang adruweh umah, angadeken gring mwang angundang desti, teluh, sasab mrana, amasang pamunah, pangalak ring sang maumah, mur sarwa Dewata kabeh, wehaken manusa katadah dening wadwanira Sang Hyang Kala, pareng wadwanira Bhatara Durga. Mangkana pinatuhu, haywa alpa ring ingsung.

Maksudnya, lain lagi pada hari kajeng kliwon, pelaksanaan widhiwidananya, seperti halnya pada hari kliwon juga, hanya tambahannya dengan segehan warna 5 tanding, yang disuguhkan pada samping kori sebelah atasnya, ialah canang wangi-wangi, burat wangi, canang yasa dan dipuja adalah Durgadewi. Yang disuguhkan dibawahnya, untuk Sang Durga Bhucari, kala Bhucari, Bhuta Bhucari yang maksudnya berkenan memberikan keselamatan kepada penghuni rumah. Sebab, kalau tidak dilakukan sedemikian rupa, maka Sang Kala Tiga Bhucari akan memohon lelugrahan kepada Bhatari Durga dewi, untuk merusak penghuni rumah, dengan jalan mengadakan atau menyebarkan penyakit, dan mengundang para pengiwa, segala merana-merana, mengadakan pemalsuan-pemalsuan, yang merajalela di rumah-rumah, yang mengakibatkan perginya para Dewata semua. Dan, akan memberikan kesempatan para penghuni rumah disantap oleh Sanghyang Kala bersama-sama dengan abdi Bhatari Durga.

Rahina kajeng kliwon diperingati sebagai hari turunnya para Bhuta untuk mencari orang yang tidak melaksanakan Dharma agama. Pada hari ini pula para Bhuta muncul menilai manusia yang melaksanakan dharma. Pada kajeng kliwon hendaknya menghaturkan segehan mancawarna, tetabuhannya adalah tuak atau arak berem. Di bagian atas, di ambang pintu gerbang (lebuh) harus dihaturkan canang burat wangi dan canang yasa. Segehan dihaturkan di tiga tempat yang berbeda, yaitu halaman sanggah atau merajan, atau di depan pelinggih pangaruman, dan ini di tujukan pada Sang Bhuta Bhucari. Kemudian di halaman rumah atau pekarangan rumah tempat tinggal, ditujukan kepada Sang kala Bhucari. Kemudian yang terakhir adalah dihaturkan di depan pintu gerbang pekarangan rumah atau di luar pintu rumah yang terluar. Ini ditujukan kepada Sang Durga Bhucari.

Banten segehan/blabaran di haturkan di bawah, di tujukan kepada penghuni alam bawah, baik manusia, hewan, tumbuh-tumbuhan maupun para gumatat-gumitit, para bebhutan. Bhuta kala yang kasat mata. Tipat dampulan yang biasa dipersembahkan alasnya memakai sebuah ceper atau tamas, di atasnya di letakkkan sebuah ketupat dampulan, rarasmen, dilengkapi ulam telur mateng, raka-raka dan sebuah sampian plaus atau kepet-kepetan berisi plawa, porosan, uras sari, bunga, rampai dan boreh miyik. Tipat dampulan adalah sejenis ketupat dengan bentuk kura-kura yang terbuat dari janur, setelah lengkap, barulah tipat dampulan tersebut diletakkan dan siap untuk dihaturkan.

Segehan kajeng kliwon, kata segehan, berasal dari kata “sega” berarti nasi (bahasa jawa:sego). Oleh sebab itu, banten segehan ini isinya di dominasi oleh nasi dalam berbagai bentuknya, lengkap beserta lauk pauknya. Bentuk nasinya ada berbentuk nasi cacahan (nasi tanpa diapa-apakan), kepelan (nasi di kepal), tumpeng (nasi di bentuk krucut) kecil-kecil atau dananan. Wujud banten segehan berupa alas taledan (daun pisang atau janur), di isi nasi, beserta lauk-pauknya yang sangat sederhana seperti ‘bawang merah, jahe, garam’ dan lain-lainnya. Dipergunakan juga api takep(dari dua buah sabut kelapa yang di cakupkan menyilang, sehingga membentuk tanda + atau Swastika), bukan api dupa, disertai beras dan tetabuhan air, tuak, arak serta berem. Segehan yang biasanya di gunakan saat kajeng kliwon adalah, segehan cacah, segehan ini adalah segehan dengan nasi putih yang dibuat sedemikian rupa dengan 5 tanding dengan ulamnya adalah irisan bawang dan jahe, kemudian diberi sedikit garam, segehan panca warna , yakni segehan yang tatacaranya sama persis yang terdapat dalam segehan cacah, namun warna nasinya lima macam dan di tanding dengan lima tempat yang berbeda.

Maksud dan Tujuan menghaturkan segehan ini merupakan perwujudan Bhakti dan sradha umat kepada Hyang Siwa (Ida Sang Hyang Widhi Wasa) telah mengembalikan (Somya) sang Tiga Bhucari.’berarti kita mengembalikan keseimbangan alam niskala dari alam bhuta menjadi alam Dewa (penuh sinar). Pada dasarnya kajeng kliwon merupakan hari yang sangat keramat, karena kekuatan negative dari dalam diri maupun dari luar manusia, amat mudah muncul dan mengganggu kehidupan manusia. Jadi, dapat diambil kesimpulan adanya peringatan dan upacara yadnya pada hari kajeng kliwon ini, dengan harapan bahwa baik secara niskala dunia ataupun alam semesta ini tetap menjadi seimbang.

Sebagaimana dijelaskan pula bahwa saat malam kajeng kliwon sering dianggap sebagai malam sangkep (rapat) leak di bali. Pada malam kajeng kliwon ini para penganut aji pangliyakan akan berkumpul mengadakan puja bhakti bersama untuk memuja shiva,durga, dan Bhairawi.’ritual kajeng kliwon ini biasanya dilaksanakan di Pura Dalem, Pura Prajapati atau Kuburan atau ulining setra,penuwunan. Seperti yang diketahui rerainan kajeng kliwon di Bali begitu ditakuti dan dikeramatkan. Karena pada hari ini adalah hari yang dipergunakan untuk berbuat Ugig (sejenis pengeleakan,teluh dan sebagainya).

Di bali penestian atau pengeleakan di hidupkan atau dilakukan pada waktu rerainan kajeng kliwon, karena pada saat itulah bangkitnya para Bhuta Kala (Bhebutan). Anggapati yang menghuni tubuh manusia dan makhluk lainnya. Sebagai makanannya, maka dia boleh memangsa atau mengganggu manusia apabila keadaannya sedang melemah atau dikuasai oleh nafsu angkara murka. Maka tidaklah mengherankan apabila ada orang sampai gelap mata membunuh saudara,teman,Ibu,Bapak,anak dan yang lainnya. Karena pada saat itu ia dikuasai nafsu angkara murka. Dalam keadaan itu dia di kendalikan oleh Bhuta kala.

Untuk menetralisir hal tersebut, maka umat Hindu dianjurkan untuk melakukan pengendalian diri berupa meditasi dan tapa brata, yoga dan Samadhi. Banten segehana/blabaran adalah salah satu sarana untuk menetralisir kekuatan negative. Disamping itu tentunya dengan mendalami ajaran-ajaran agama dan menerapkan dalam kehidupan sehari-hari. Mrajapati merupakan penghuni kuburan dan perempatan agung. Sebagai makanannya, maka ia berhak memangsa bangkai mayat yang ditanam melanggar waktu (hari-hari yang dilarang oleh kala) dan kecaping aksara/padewasaan. Dia juga boleh memakan, mengganggu orang yang member hari/padewasaan yang bertentangan dengan ketentuan melanggar serta melakukan upacaranya.

Banaspati merupakan penghuni sungai-sungai dan batu-batu besar. Sebagai makanannya adalah orang-orang yang lewat atau berjalan ataupun tidur pada waktu-waktu yang terlarang oleh Kala. Misalnya pada waktu tengah hari/sandikala. Sedangkan Banaspati Raja merupakan penghuni kayu-kayu besar,misalnya pohon kepuh,randu, beringin, dan pohon kayu yang dianggap angker. Dia punya kuasa mengganggu/memangsa orang yang menebang pohon kayu atau naik pohon pada waktu yang terlarang oleh kala Kecaping Aksara (dewasa).

Menurut lontar Kanda Pat Bhuta, keempat Bhuta tersebut adalah perwujudan dari ‘sang catur sanak’ yaitu; ketika seorang anak manusia/Bayi dilahirkan didunia, dia disertai oleh saudara empatnya berupa; I Jelahir, I Mekahir, I Selabir, dan I Mokahir, I jelahir berada dibarat, I mekahir berada di timur, I selabir berada di selatan dan I mokahir berada di Utara. Setalah bayi dewasa ‘nyama niskala itupun berubah namanya’ I jelahir menjadi Anggapati, I mekahir menjadi Prajapati, I selabir menjadi Banaspati dan I mokahir menjadi Banaspati Raja. Memurtinya atau penjelmaan ke empat sanak itu adalah Anggapati memurti menjadi Pertiwi (zat padat), Mrajapati memurti menjadi Apah(zat cair), Bhanaspati mamurti menjadi Teja (cahaya sinar panas), Bhanaspati Raja memurti menjadi Bayu(waha,angin) sedangkan sang anak manusia itu sendiri menjadi Akasa(ether,kosong,hampa,sunya) inilah yang disebut ‘sang panca maha bhuta’.

Para wiku, para pinisepuh dan para orang wikan senantiasa menganjurkan agar seorang jangan sampai melupakan saudara empatnya. Karena jika hal ini dilalaikan, maka kekuatan saudara empat itu akan dimanfaatkan oleh orang jahat untuk menyakiti pada hari kajeng kliwon. Maksudnya jika ada orang yang sakitnya menahun, maka sakit itu bisa dibuang dengan cara menghaturkan segehan/blabaran di penataran agung atau di pertigaan agung, lengkap dengan banten yang telah ditentukan. Biasanya dipilih pada hari kajeng kliwon pamelestali(5 hari sebelum piodalan Sang Hyang Haji Saraswati), yang disebut watugunung Runtuh. Pada dasarnya hari kajeng kliwon merupakan hari yang sangat keramat karena kekuatan negatifnya dari dalam diri maupun dari luar manusia amat mudah muncul mengganggu kehidupan manusia.

  • Penulis: Ida Bagus Tristusta Amitaba
  • Penyuluh Agama Hindu Non PNS DIY.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*