JANGAN PERNAH BERPIKIR UNTUK MENINGGALKAN YADNYA

Yajna-dana-tapah-karma na tyajyam karyam eva tat

Yajno danam tapas caiva pavanani manisinam

“Perbuatan korban suci, kedermawanan dan pertapaan tidak boleh di tingglakan; kegiatan itu harus di lakukan. Roh-roh yang mulia sekalipun di sucikan oleh korban suci, kedermawanan dan pertapaan.” (Bg. 18. 5)

Srila Prabhupada menjelaskan bahwa para yogi hendaknya  melakukan perbuatan demi kemajuan masyarakat manusia. Ada banyak proses penyucian  supaya manusia maju sampai kehidupan rohani. Misalnya, upacara pernikahan dianggap sebagai salah satu diantara korban-korban suci tersebut. Korban suci manapun yang dimaksudkan untuk kesejahteraan manusia sebaiknya tidak pernah di tinggalkan.  Segala korban suci di maksudkan untuk  mencapai kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu, pada tingkat tingkat yang lebih rendah, korban suci hendaknya tidak pernah di tinggalkan. Begitu pula, kedermawanan di maksudkan untuk menyucikan hati. Kalau sumbangan di berikan kepada orang yang tepat, sebagaimana di uraikan sebelumnya, maka kedermawanan membawa seseorang sampai tingkat maju dalam kehidupan rohani.

Selanjutnya Sri Krishna menyatakan bahwa Segala kegiatan itu harus dilakukan tanpa ikatan maupun harapan untuk mendapatkan hasil. Kegiatan tersebut harus dilakukan sebagai kewajiban.

Srila Prabhupada menjelaskan bahwa walaupun segala korban suci menyucikan, hendaknya seeorang jangan mengharapkan hasil apapun dengan pelaksanaan korban suci itu. Dengan kata lain, segala korban suci yang bertujuan mencapai  kemajuan material dalam kehidupan hendaknya  ditinggalkan, tetapi, korban-korban suci yang menyucikan kehidupan seseorang dan mengangkat dirinya sampai tingkat rohani hendaknya jangan di hentikan. Segala sesuatu yang membawa seseorang pada tingkat Bhakti Rasa atau Sadar kepada Tuhan Yang Maha Menarik harus di kembangkan.  Dalam Srimad Bhagawatam juga di nyatakan bahwa kegiatan apapun yang membawa seseorang sampai bhakti kepada Tuhan  hendaknya di terima. Itulah patokan tertinggi kegiatan keagamaan.  Seorang penyembah Tuhan hendaknya menerima segala jenis pekerjaan korban suci maupun kedermawanan yang akan menolong dirinya  dalam pelaksanaan bhakti kepada Tuhan.

Dibagian lain lagi dinyatakan oleh Penyabda Bhagawad Gita bahwa tugas kewajiban hendaknya tidak pernah di tinggalkan. Kalau seseorang meninggalkan tugas kewajiban yang telah di tetapkan  karena khayalan, dikatakan bahwa pelepasan ikatan seperti itu bersifat kebodohan.

Pekerjaan  demi kepuasan material harus di tinggalkan, tetapi Tuhan menganjurkan kegiatan yang mengangkat diri seseorang  sampai kegiatan rohani, misalnya masak untuk Tuhan dan mempersembahkan makanan kepada Tuhan, kemudian menerima makanan itu. Masak untuk diri sendiri tidak boleh tapi masak untuk Tuhan diperbolehkan.

Hal ini sesuai dengan Bab  Sembilan sloka 27 yakni:

Yat karosi yad asnasi yaj juhosi  dadasi yat

Yat tapasyasi kaunteya tat kurusva mad-arpanam

“apapun yang engkau lakukan, apapun yang engkau makan, apapun yang engkau persembahkan atau berikan sebagai sumbangan serta pertapaan dan apapun yang engkau lakukan – lakukanlah kegiatan itu sebagai persembahan kepada-Ku, wahai Putera Kunti.” (Bg. 9.27)

Kewajiban  semua orang ialah untuk membentuk kehidupannya dengan cara sedemikian rupa agar tidak akan lupa kepada Krishna Penyabda Bhagawad Gita dalam keadaan manapun.

  • Penulis: I Gede Suardana
  • Penyuluh Agama Hindu DIY

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*