Hari Suci Nyepi (Harmonisasi Manusia dan alam Semesta)

Hindu Sebagai agama tertua meyakini bahwakehidupan manusia di dunia, mempunyai kewajiban untuk membangun harmonisasi diri dengan Hyang Widhi (Prajapati), membangun harmonisasi dengan manusia disekitarnya (Praja), dan membangun harmonisasi dengan alam semesta (Kamadhuk). Harmonisasi Manusia dengan alam semesta beserta seluruh kehidupan inilah yang menjadi Tujuan utama hari raya Nyepi. Melakukan penyucian terhadap Bhuwana Alit (Microcosmos) dan Bhuwana Agung (Macrocosmos).

Hari Raya Nyepi merupakan perayaan tahun Baru Saka, yang pada tahun ini jatuh pada tanggal 31 Maret 2014, atau dalam perhitungan tahun saka merupakan tahun ke 1936. Apabila ditilik dari umur tahun, tampak ajaran Hindu umurnya masih sangat muda, walaupun sesungguhnya ajaran Hindu telah berkembang semenjak ribuan tahun sebelum masehi, era dimana Kitab Suci Weda mulai diwahyukan kepada para Maharsi.

Apabila ditilik secara Historis, tonggak awal tahun Saka bersandar pada kejayaan Raja Kaniskha (dinasti Saka) di India, yang telah berhasil menyatukan seluruh suku-suku yang ada di India pada saat Itu. Kejadian penting ini terjadi pada tahun 78 Masehi. Sejak itu sistem kalender Saka digunakan terus menerus hingga saat ini yang disebut Tahun Saka. Itulah sebabnya sistem kalender Hindu “seolah-olah terlambat” 78 tahun dari kalender Masehi. Kalender Saka merupakan sebuah penanggalan ‘candra surya’ atau kalender lunisolar, menggunakan periode bulan mengelilingi bumi untuk satuan bulan dan daur perputaran matahari. Tahun Baru saka atau perayaan Hari Raya Nyepi disebut pula Pratipada Sukla Wisaka dimana bulan, matahari tegak lurus di garis khatulistiwa.

Penggunaan kalender Saka dan perayaan Hari Raya Nyepi di Nusantara dimulai ketika pada tahun 456 M (atau Tahun 378 S), datang ke Indonesia seorang Pendeta penyebar Agama Hindu yang bernama Aji Saka dari India. Beliau mengembangkan Agama Hindu dan sekaligus mengajarkan sistem kalender Saka pada murid-muridnya. Ketika Majapahit berkuasa, sistem kalender Tahun Saka dicantumkan dalam Kitab Nagara Kartagama. Sejak itu Tahun Saka resmi digunakan di Nusantara.

Dalam menyambut Hari Raya Nyepi, umat Hindu melaksanakan serangkaian prosesi ritual keagamaan. Rangkaian upacara dalam pelaksanaan Hari raya Nyepi pada intinya bertujuan untuk membersihkan alam semesta (memarisudha bhumi), menjadikan alam semesta ini bersih, serasi, selaras dan seimbang. Rangkaian Ritualnya antara lain :

A. Melasti

Melasti berasal dari kata Mala = kotoran/ leteh, dan Asti = membuang/ memusnahkan. Lontar Sanghyang Aji Swamandala menyebutkan tujuan melasti sebagai berikut: “anglukataken laraning jagat, paklesa letuhing bhuwana”. Artinya: melenyapkan penderitaan masyarakat, melepaskan kepapaan, dan kekotoran alam. Dalam Lontar Sundarigama menyebutkan:
“amet sarining amertha kamandalu ring telenging sagara, manusia kabeh ngaturaken prakerti ring prawatak dewata” . Artinya: mencari sari kehidupan di tengah-tengah laut, dan manusia menghaturkan bhakti kepada Hyang Widhi.
Mekiis atau Melasti dilakukan sebelum Hari Raya Nyepi. Upacaranya adalah melakukan penyucian segala sarana dan prasarana perangkat alat-alat yang dipergunakan dalam rangka persembahyangan dan meditasi Dilaksanakan dengan jalan mengarak ramai-ramai sarana dan prasarana perangkat peralatan yang dipergunakan untuk sembahyang dan meditasi ke laut untuk dibersihkan.

Bagi umat Hindu, laut adalah lambang pembersih segala kotoran di mana Hyang Widhi dalam wujud Varuna (Baruna) siap untuk membersihkan dan menyucikan manusia dengan air suci ”thirta”.

B.Tawur Agung

Tawur artinya membayar atau mengembalikan sari-sari alam yang telah dihisap atau digunakan manusia. Agar terjadi keseimbangan, sari-sari alam itu dikembalikan dengan upacara Tawur. Upacara Tawur menurut Lontar Ekapratama, dipimpin oleh Sadaka-Sadaka (Pendeta) yang berpaham Siwa, berpaham Boddha, dan berpaham Bujangga masing-masing dengan tugas: Sadaka-sadaka Siwa menyucikan Akasa (Swahloka) dengan Agniangelayang, Sadaka-sadaka Boddha menyucikan Atmosfir (Bhuwahloka) dengan Agnisara, dan Sadaka-sadaka Bujangga menyucikan sarwaprani (Bhurloka) dengan Agnisinararasa. Tawur Agung Kesanga atau Mecaru dilakukan sehari sebelum Hari Raya Nyepi. Secara Khusus untuk umat Hindu di wilayah Yogyakarta dan Jawa Tengah dipusatkan di Candi Prambanan.

C. Nyepi

Pada penanggal apisan (tanggal 1) Sasih Kadasa, yaitu esok hari setelah Tawur Kasanga, tibalah hari raya Nyepi. Dalam Lontar Sundarigama disebutkan: “enjang nyepi amatigni tan wenang sajadma anyambut karya sakalwirniya agnigni saparaniya tan wenang, kalinganiya wenang sang wruh ring tattwa gelaraken samadi, tapa, yoga ametitis kesunyataan”, artinya: Pada saat Nyepi, tidak menghidupkan api, tidak dibolehkan manusia bekerja apapun, atau berapi-api dalam bentuk apapun, sebaliknya turutilah petunjuk Hyang Widhi, gelarkan samadi, tapa, dan yoga.

Ada 4 (empat) pantangan selama Nyepi, yaitu : 1. Amati Gni (tidak menghidupkan api), 2. Amati Karya (tidak bekerja), 3. Amati Lelungaan (tidak bepergian), dan 4. Amati lelanguan (tidak bersenang-senang). Selain melaksanakan tapa, yoga, dan samadi, baik sekali dilaksanakan juga brata, yaitu berpuasa dan mengekang nafsu. Tujuan brata penyepian adalah menguasai diri (mengendalikan sad ripu: nafsu, lobha, marah, mabuk, sombong, dengki, dan iri hati). Menuju kesucian hidup.Melaksanakan dharma untuk menyeimbangkan adharma.

D. Ngembak Geni.

Ngembak Ngembak Geni dilakukan sehari setelah Hari Raya Nyepi di mana umat kembali menjalankan tugas dan kewajiban sehari-hari sebagaimana biasanya. Mulai hari ini, umat dapat melakukan sima karma atau/ dan dharmasanti, bersilaturahmi satu sama lain. Ini dilaksanakan sebagai rangkaian terakhir upacara Hari Raya Nyepi.

Pada Dasarnya seluruh rangkaian ritual Hindu pada saat Hari Raya Nyepi merupakan aplikasi terhadap nilai ajaran Hindu tentang pentingnya keseimbangan hidup manusia dengan Hyang Widhi, Manusia, dan alam semesta beserta isinya. Keseimbangan dan Harmony dalam\ kehidupan terbangun ketika manusia sebagai Bhuwana alit mampu membangun kesucian dalam diri dan hidup selaras dengan alam semesta (Bhuwana agung).

  • Penulis: Ida Bagus Wika Krishna, S.Ag, M.Si
  • Pembimas Hindu Kanwil Kemenag D.I.Yogyakarta

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*