GELIAT UMAT HINDU BANGUNTAPAN

Banguntapan secara harfiah berarti membangun pertapaan atau membangkitkan tapa. Banguntopo. Nama yang membuat bulu roma merinding. Bisa juga di artikan kalau disini tempatnya membangun pengendalian diri, sebagai arti lain dari Banguntapan.

Setiap hari, ada saja umat atau warga yang sembahyang di pura ini. Pura ini merupakan salah satu dari puluhan pura yang ada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta.

Khususnya, setiap minggu, Paguyuban  Ibu-ibu Banguntapan melaksanakan pertemua rutin mingguan sebagai wahana komunikasi antar warga, yang diisi dengan sembahyang bersama, membaca dan mendengarkan notulen kegiatan mingguan mereka, pendidikan agama atau Dharma tula, arisan, pengumpulan iuran warga, simpan pinjam, dan bahkan pengumpulan iuran sukarela kalau ada salah satu warga yang kena musibah, serta penyampaian informasi terkait lainnya di masyarakat.

Minggu Sore, sekitar pukul 16.30 saya tiba di Pura Jagadnatha. Pura Jagadnatha terletak di Desa Sorowajan, Banguntapan, di jalan Pura. Salah satu kegiatan rutin mingguan saya adalah berkunjung ke sini. Setiap minggu, paling tidak satu kali dalam sebulan saya memastikan hadir di pura ini. Mereka seperti orang tua buat saya. Saya belajar banyak di sini, belajar membuka dengan bahasa Jawa, menutup dengan bahasa Jawa dan bahkan saya belajar mengucapkan kalimat Jawa sebagai modal saya untuk berkomunikasi dengan warga Jawa. Dalam setiap pertemuannya Paguyuban ini dihadiri sekitar 30-40 orang dari tiga blok, yakni Plumbon, Sanggrahan dan Sorowajan serta dari daerah lain seperti Bangunjiwo.

Kali ini, sudah ada Bapak Wasi Achir Murti Adhiwiyono disana. Setelah menyampaikan salam, dan bersalaman dengan sebagian ibu ibu yang berada didekat saya, saya juga menyampaikan salam kepada bapak Wasi, seraya menjabat tangan beliau.

Duduk, dan melempar senyum kearah ibu ibu yang ada yang disambut dengan senyum ramah mereka. Setelah beberapa saat, ibu Mujirah memulai perbincangan dilanjutkan dengan membaca susunan acara.

Setelah sembahyang, membaca notulen dan di lanjutkan dengan Pembinaan agama. Bu Mujirah mempersilahkan bapak wasi untuk memberikan Dharma tula. Menarik. Beliau menyampaikan dharma tulanya dalam bahasa Jawa. Yang sebagian besar tidak saya tahu artinya. Tapi saya paham maksudnya. Tidak jauh.

Dari pemahaman saya, beliau menyampaikan bagaimana menjadi Hindu yang baik. dalam penyampaiannya bapak wasi menguraikan pengalamannya ketika mengikuti Workshop Kepanditaan di Bali selama dua minggu. Bapak wasi menceritakan bahwa kita semua adalah Hindu Nusantara, tidak ada Hindu Jawa, Bali. Kalau di Indonesia namanya Hindu Nusantara. Selanjutnya bapak wasi juga menyampaikan bahwa dalam berbhakti kepada Tuhan kita perlu memulainya dari rasa cinta, cinta atau senang terhadap apa yang kita lakukan yang tentunya sesuai dengan ajaran Dharma. Contohnya persembahan kita berupa  Daun, bunga, Buah dan Air.

Kalau merujuk kata Banguntapan, maka hal ini memang sesuai dengan situasi disana. Umat Hindu membangun pertapaan dengan cinta kasih, untuk kepuasan Ida Sang Hyang Widdhi. Cinta bhakti yang kita persembahkan kepada Tuhan merupakan ukuran buat kita untuk hidup damai, sejahtera lahir dan batin.

Pertemuan rutin ibu ibu di Banguntapan merupakan sarana pemupuk Sradha dan Bhakti kepada Ida Sang Hyang Widdhi. Sradha atau keyakinan dipupuk melalui pembinaan keagamaan berupa pembacaan satu sloka Bhagawad Gita ataupun Kitab lainnya, diulas berdasarkan situasi dan mengajak mereka untuk menerapkannya dalam kehidupan sehari hari sehingga berangsur-angsur bhakti mereka kepada Ida Sang Hyang Widdhi akan meningkat.

Memang perlu ditingkatkan dan pantaslah Banguntapan sebagai tempat yang Mantap untuk membangun pertapaan. Om tat sat.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*