GALUNGAN DI PETILASAN KI AGENG MANGIR

Yogyakarta-(SHD), Hari raya Galungan adalah hari kemenangan Dharma (kebaikan) melawan Adharma (keburukan). Maka dari itu umat hindu merayaka  hari raya Galungan. Hari raya Galungan yang jatuhnya setiap Budha klliwon Wuku Dungulan. Galungan setiap 210 hari , Hari Raya Galungan jatuh setiap Bhuda Kliwon Dungulan ( wuku Dungulan hari rabu kliwon).

Menurut lontar Purana Bali Dwipa, Hari raya Galungan pertamakali dirayakan purnama kapat (Budha Kliwon Dungulan) ditahun 882 Masehi atau tahun saka 804. Lontar tersebut berbunyi “ punang aci Galungan ika ngawit, Bu, Ka Dungulan Sasih kacatu, tanggal 15, isaka 804. Bangun Indria Buwana ikang Bali rajya”.Artinya: perayaan ( upacara) Hari Raya Galungan itu pertama-tama adalah hari rabu kliwon wuku Dugulan, sasih kapat tangal 15, tahun 804 saka, keadaan bali bagaikan indra Loka.

Jadi, inti Galungan  adalah menyatukan kekuatan rohani agar mendapat pikiran dan pendirian yang terang. Bersatunya rohani dan pikiran yang terang inilah wujud dharma dalam diri.  Sedangkan segala kekacauan pikiran itu (byaparaning idep) adalah wujud adharma.

Galungan tahun ini jatuh pada tangal 05 april 2017. Kami sekeluarga merayakan Galungan dengan bersembahyang ke candi / ke tempat suci yang belom begitu terkenal seperti tempat – tempat suci lainya. Seperti petilasan Ki Ageng manggir. Yang dulu sempat ngeteglinggih dan sempat odalan nya besar seperti pura pada umum nya di Jogjakarta yang istimewa ini.  Tetepi sekarang ini odalanya sudah tidak seperti tahun-tahun yang lalu.

Kondisi dan suasana Petilasan Ki Ageng manggir saat galungan. Yang sebelah kanan itu pelingihnya Siva ( lingga). Di bawah / diluar pagar  itu ada Lingga Yoni. Yang  linga yoninya ini  ada umat yang rutin memuja nya setiap malam. (Kadek Dw.**)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*