ESTETIKA HINDU DALAM DRAMA ARJA

Oleh

I Nyoman Suardika

Drama Tari Arja

Drama Arja merupakan salah satu kesenian Bali yang cukup kompleks. Dikatakan kompleks karena pada dramatari arja terdapat unsur seni yang berupa seni tari, seni musik, seni suara, seni rupa dan seni sastra. Seni tari pada dramatarai arja tertuang dalam gerakan ritmis yang mencerminkan ekspresi tokoh; seni musik tercermin melalui gambelan yang mengiringi gerakan tari; seni rupa tercermin pada tata rias, busana; seni sastra tercermin dari dialog-dialog yang digunakan saat interaksi dan interalasi antartokoh. Kekompleksan unsur seni yang terdapat pada dramatari arja membuat genre seni tradisional Bali ini dapat dikaji dari berbagai aspek, salah satunya adalah aspek keindahan yang terkandung dalam kesenian Drama Arja.


(Penokohan Penasar padasalah satu penari Arja)
Sumber; Dokumentasi Pribadi

Seni dalam Drama Arja  merupakan sebuah ungkapan bakti, segala bentuk keindahan serta keiklasan bersatu padu di dalam benda-benda yang memiliki simbol yang disebut Upakara, pada intinya merupakan cara pandang mengenai rasa keindahan yang diikat oleh nilai-nilai agama Hindu yang didasarkan atas ajaran-ajaran suci Weda. Ada beberapa konsep yang menjadi landasan penting dari estetika Hindu, dan konsep estetika yang terdapat di dalam ajaran agama Hindu ini telah tertuang Drama Arja. Konsep yang dimaksud antara lain ; kebenaran (satyam), kesucian (sivam), dan keseimbangan (sundaram).

1)    Kebenaran (satyam) mencangkup nilai kejujuran , ketulusan, dan kesungguhan yaitu  Sesuai dengan ajaran agama Hindu, persembahan atau yajña yang mereka lakukan harus berdasarkan kejujuran, ketulusan, dan kesungguhan. Ekspresi konsep kebenaran ini memancarkan makna estetika yang secara mendalam mulai dari pembuatan UpakaraUpakara yang terkait hingga  ketulusan serta kesungguhan dalam mengimplementasikan ajaran-ajaran agama Hindu pada saat mementaskan Drama Arja  di Sanggar Seni Citta Usadhi, Desa Mengwitani, Kabupaten Badung. .

2)    Sivam  (Ekspresi konsep kesucian) merupakan sebuah konsep estetika yang terbentuk dari nilai-nilai kesucian. Kaidah-kaidah yang berlaku dalam sebuah pementasan Drama Arja serta tujuanya mengambarkan fungsi kesucian, terlebih tujuan utama dalam Drama Arja ini bertujuan untuk menyucikan raga rohani dari mendiang. Begitu pula UpakaraUpakaranya memiliki simbol penyucian dan pengembalian unsur Panca Mahabutha.

3)    Sundaram (Ekspresi konsep keindahan) merupakan konsep estetika utama di dalam konsep ajara Hindu, estetika ini menunjukan bahwa ekpresi pada saat pementasan Drama Arja, serta sarana dan prasaran digunakan secara keseluruhannya didasari oleh keindahan karena awal mula terbentuknya sebuah pementasan  ialah ekspresi jiwa serta ketulusan dalam mengaturkan yajña atau persembahan kepada yang ingin dituju.

            Berdasarkan hal tersebut dalam pementasan Drama Arja terdapat 3 unsur seni yang paling menonjol yaitu unsur seni rupa, seni gerak dan seni suara. Unsur seni rupa dapat diamati pada busana, dan properti yang digunakan oleh penari sekaa Arja dalam pelaksanaan upacara piodalan atau pementasan pada saat PKB yangmerupakan aspek dari perwujudannya. Busana memiliki arti dan maksud tersendiri di dalam pemakaiannya yang diwujudkan melalui warna, bentuk pakean yang menjadi kehasan tersendiri dan menjadi identitas dari sekaa Drama Arja.  Penari sekaa Drama Arja pada umumnya menggunakan busana sesaputan.  Sorang penari sekaa Drama Arja menggunakan busana yang sama dalam mengekspresikan berbagai karakter dari berbagai tingkatan strata dan status sosialnya.

(Penari Arja) Sumber; Dokumentasi Pribadi

Unsur seni gerak, merupakan salah satu unsur paling sederhana pada tari sekaa Drama Arja, sikap tari jauk, loncat-loncat, dangkrat-dingkrit  kadang-kadang nayog  seperti tari durga atau rangda. Seperti telah dijelaskan diatas bahwa yang menjadi tujuan dari pelaksanaan pementasan Drama Arja ini bukan pada sajian estetikanya tetapi kehadirannya merupakan kelengkapan dari pada upacara maka gerakannya sangat sederhana dalam artian tidak terdapat gerak-gerak yang rumit dan tidak tertata sebagai layaknya sajian tari dan unsur seni suara dapat diamati pada iringa musik yang mengiringinya, tembang dan ucapan dalam pementasan Drama Arja.

 (Gerak Tetangisan salah satu penari Arja)
Sumber; Dokumentasi Pribadi

Berdasarkan hal tersebut dalam kaitannya dengan pementasan Drama Arja, filsafat estetika yang terkait dalam pelaksanaan ini ialah kegiatan manusia khususnya sebagai pengetahuan dan kehendak yang diamati secara langsung oleh indera dan bentuk sarana serta prasarana yang digunakan di dalam kegiatan pementasan Drama Arja ini juga memiliki fungsi dan makna estetikanya tersendiri. Paling tidak ada dua kajian dalam ilmu estetika yang menjadi dasar dari makna estetika yang terkait dalam pementasan Drama Arja ini, yakni estetik formil, dan estetik ekspresionalis.

  1. Estetik formil banyak berhubungan dengan seni klasik dan pemikiran-pemikiran klasik. Artinya bahwa mitologi disuatu daerah tertentu dapat dimasukan dalam ranah estetika ini. Terkait dengan makna estetika yang terdapat dalam pementasan Drama Arja yang dilangsungkan oleh sanggar seni, yakni saat pementasan Drama Arja selain bertujuan untuk menghibur masyarakat yang menonton juga untuk melestarikan kesenian arja tersebut, selain itu pada saat pementasan pementasan Drama Arja juga sering menyampaikan pesan-pesan berupa kritik yang membangun dan nasehat-nasehat yang terkait perkembangan di era globalisasi saat ini.
  2. Estetik espresionis menyebutkan bahwa keindahan tidak selalu terjelma dari bentuknya tetapi dari maksud dan tujuan atau ekspresinya. Berkaitan dengan pementasan Drama Arja ini berkaitan dengan keindahan saat masyarakatbergotong-royong melaksanakan upacara tersebut, bentuk ekspresi dari masyarakat memunculkan seni interaksi social tersendiri dan hal itu memiliki nilai-nilai estetika serta ekspresi-ekspresi yang dihasilkan menjadikan gaya tarik menarik antara satu masyarakat yang berbeda latar belakang pekerjaan dan menjadi satu padu dalam tradisi tersebut.

Secara umum dalam hal manusia sebagai objek kajian dari pengamatan, maka secara jelas tergambar keindahan dari sebuah rasa bakti yang mendalam, perasaan haru, dan tidakan-tindakan social dari masing-masing masyarakat mencerminkan saling terikatnya manusia terhadap manusia lain.  Begitulah makna estetika yang terbentuk pementasan Drama Arja. Dari keseluruhan upacara ini mengandung makna estetika yang sangat kompleks, yang merupakan usaha manusia dalam mempersembahkan hal yang terbaik kepada Tuhan, orang tua, dan masyarakat di sekitarnya. Hal ini secara tidak langsung mengambarkan tatanan kemasyarakatan yang sangat erat sehinga terbentuk keharmonisan diantara sesamanya.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*