Dialog ‘Kematian’

Pembimas Hindu Yogyakarta (I.B Wika Krishna) bersama Ibu Hartni Moerdiono

Pagi hari yang cerah 25 september 2013. Suasana Tk Sari Mekar, Banguntapan, Bantul, Yogyakarta tampak ramai dan riuh oleh suasana canda dan tawa anak-anak Tk Sari mekar karena menerima kunjungan dari Paud Kumara Siddhi, Gunung Kidul Yogyakarta. Dua tempat pendidikan usia dini berbasis keagamaan Hindu sedang melaksanakan program rintisan awal untuk saling mengunjungi. Tujuannya tiada lain untuk media saling berbagi untuk para gurunya, sekaligus menjalin kebersamaan dan persaudaraan diantara anak-anak Hindu yang nantinya menjadi pewaris Dharma. Kegiatan Bermain bersama sangat dnikmati oleh anak-anak Tk dan PAUD, tampak jelas keceriaan mereka menikmati setiap kegiatan dan permainan yang telah dipersiapkan oleh para Guru.

Disela Hirukpikuk kegiatan bersama itulah tampak wajah renta namun sumbringah penuh semangat, ikut mempersiapkan berbagai keperluan acara. Beliau Tiada lain adalah Ibu Hartini Moerdiono, istri dari almarhum Pak moerdiono, sesepuh Umat hindu dimasa-masa awal. Ibu Mur… Panggilan yang biasa digunakan untuk memanggil sosok panutan yang dahulu demikian lama mengabdikan dirinya di TK Sari Mekar.

Beberapa saat terjadi percakapan antara Pembimas Hindu Yogyakarta (Ida bagus Wika Krishna) dengan Ibu Hartini Moerdiono, Ibu Mur mengungkapkan kebahagiaannya dengan perkembangan pendidikan anak-anak Hindu, apa Lagi sekarang telah tumbuh pula PAUD Kumara Siddhi di Gunungkidul. Acara bermain bersama ini membangkitkan kembali semangatnya untuk hadir dan melihat anak-naka hindu. Usia yang telah melewati 70 Tahun tidak menghentikan langkahnya untuk ikut berpartisipasi.

Ibu Mur : Pak Pembimas… saya sangat bahagia melihat keceriaan anak-anak Hindu, lega hati saya melihat perkembangan TK ini sekarang dengan berbagai fasilitasnya. Tentu Jauh dari masa-masa susah dahulu. Bahagia hati menyaksikan keberlanjutan pada generasi penerus Hindu. Beberapa tahun ini saya sudah mendengar perkembangan pembinaan dan kemajuan umat Hindu. Tampak demikian bersemangat, pembinaan dari Usia dini, remaja, pemuda hingga para Pinandita. Namun ada Satu Hal yang bapak lupakan…. Pembinaan pada orang-orang seperti saya, membina para lansia UNTUK MENGHADAPI KEMATIAN. Setidaknya kami harus sudah bersiap-siap diri untuk menghadap Hyang Widhi. Apa yang Harus kami lakukan dalam menyambut ‘KEMATIAN’ ?

Sebuah pertanyaan yang dilandasi oleh kesungguhan hati dalam beragama Hindu, sesuatu hal yang mungkin demikian sering kita lupakan. Yaa… Mereka umat hindu yang umurnya sudah beranjak senja, perlu juga sebuah media diskusi atau pencerahan, bagaimana mereka seharusnya menyambut Kematian.

Terimakasih ibu Mur… atas segala pengabdiannya kepada benih-benih hindu yang tidak mengenal lelah, dan tentu saja telah mengingatkan satu sisi yang sering dilupakan dalam pembinaan keagamaan. Mendiskusikan ‘APA ITU KEMATIAN’ DAN ‘BAGAIMANA MENYAMBUT KEMATIAN’.

Jayalah Hindu….

1 Comment

  1. Bu Mur, guru saya ini…
    Pertengahan tahun 80.an saya belajar di TK sari mekar. Saya masih bisa mengenang betapa masa.masa itu begitu menyenangkan buat usia dini saya dan kawan.kawan sebaya waktu itu. Konsep bermain dan belajar sangat baik tertata waktu itu, lingkungan pura yang asri, sejuk (saya masih bisa rasak ) secara tidak sadar membawa suasana belajar menjadi menyenangkan. Sosok seperti Bu Mur harus diteladani, dan dedikasinya patut untuk dihargai dalam bentuk keberlanjutan generasi penerus yg bisa mengabdikan diri untuk pendidikan usia dini. Harus ada bu Mur.bu Mur yang selanjutnya disana.

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*