CANDI BAHASA

Oleh

Ida Made Windya

MENARIK direnungkan jalan pikiran pengarang sastra Jawa Kuno ketika mereka menggubah sebuah karya. Beberapa di antara mereka mengatakan apa yang sedang mereka lakukan adalah membangun sebuah candi-bahasa. Bermula dari adanya pengakuan seperti itulah akhirnya berkembang pendapat bahwa sebuah karya sastra tak beda dengan sebuah candi bahasa. Dari masa ke masa pendapat itu semakin melembaga. Sehingga daripada melihat perbedaan antara keduanya, pikiran kita menghubungkan keduanya berdasarkan persamaan-persamaan yang ada.

            Kalau ada candi yang dianggap sakral, ada pula karya sastra yang disakralkan. Bila candi dan tata ruangnya merepresentasikan jagat, sastra pun mengajarkan baik bhuwana agung maupun bhuwana alit. Di depan candi orang sembahyang memusatkan pikiran, di hadapan karya sastra pun orang mesti memusatkan pikiran seperti sembahyang. Bila sejarah berkabar tentang peradaban budaya, misalnya melalui candi Prambanan dan candi Borobudur, sejarah pun berpesan tentang peradaban batin melalui karya Bharatayuddha dan karya Ramayana misalnya. Candi berhubungan dengan pendeta, dan sastra pun demikian juga. Pada candi “ada” dewa, pada sastra juga ada.

            Itulah lebih kurang persamaan candi dengan sastra. Yang satu berbahan batu, yang satunya lagi berbahan bahasa. Batu dan bahasa juga tidak beda. Orang yang tahu bahasa, dan yang sekaligus tahu batu, belum tentu paham bahasa batu, yaitu bahasa tertinggi justru ketika subjek bebas dari bahasa. Kita tidak usah bertengkar tentang batu dan bahasa. Karena apa yang dikatakan di atas adalah ilustrasi untuk menggambarkan betapa dekatnya candi dengan sastra. Penggambarannya tentu akan berbeda bila pikiran kita arahkan ke perbedaan antara keduanya.

            Apa “tidak-samanya” antara candi dengan dengan sastra? Kalau dicari-cari tentu banyak perbedaannya. Salah satu ketidaksamaannya, yang paling krusial, justru karena yang satu dibenarkan oleh yang lainnya. Tepatnya, sastra adalah pembenar candi dan segala yang berhubungan dengan candi itu, misalnya upacara. Jika sastra itu diacu untuk membenarkan, maka sastra pulalah yang diacu ketika mesti “menyalahkan”.

            Candi itu ibarat bangunan-pikiran yang berlapis-lapis sebagai yantra yang mempercepat terjadinya sandhi (pertautan) antara yang memusatkan pikiran dengan IA yang menjadi tujuan pemusatan pikiran itu. Dalam candi ada lapis sakral seperti Dewa yang di-sthana-kan, ada pancadatu (lima jenis permata) yang ditanam, ada upacara, upakara, mantra, mudra, dan seterusnya. Pada candi juga ada lapis sosial seperti warga penyungsung, lembaga kesulinggihan, pemangku, awig-awig, dresta, sima dan selanjutnya. Tentu masih ada lapis-lapis lain yang akan berkepanjangan bila dibicarakan di sini. Semua lapis itu dapat dipandang sebagai suatu monumen kesepakatan yang sifatnya mengikat. Pada sastra orang mencari penjelasan dan termasuk mencari pembenar atas semua kesepakatan itu. Sehinga sastra menjadi sangat strategis dalam hubungan dengan candi dan lapis-lapisnya itu. Sastra adalah kuasa, khususnya ketika sastra itu menentukan apa yang boleh dan apa yang tidak boleh.

            Yang namanya “kesepakatan”, apalagi kesepakatan budaya, umumnya dibangun berdasarkan persamaan-persamaan. Sepanjang persamaan-persamaan itu masih ada, selama itu pula kesepakatan budaya masih bisa bertahan. Bila persamaan-persamaan itu berubah menjadi perbedaan, maka kesepakatan budaya itu terancam. Terlebih lagi bila kesepakatan-budaya itu terjadi di masa lalu yang dkabarkan kepada kita oleh babad misalnya, dan, atau, bentuk sastra lainnya.

            Misalnya, para leluhur membuat kesepakatan budaya tentang banyak hal yang berhubungan dengan tata ritual, tata sosial, dan tata-tata lainnya. Mereka bersepakat karena adanya persamaan pijakan, pandangan, dan orientasi. Persamaan juga namanya ketika yang satu mengikuti yang lain. Ketika jaman berubah, pikiran generasi berkembang, dan kesepakatan luhur itu terancam karena pandagan tidak lagi sama. Di sinilah salah satu permasalahannya yang sangat krusial. Untuk menjelaskan dan membenarkan ketidaksamaan pandangan itu, orang-orang dimungkinkan membuat tafsir baru. Bahkan mungkin juga mengadakan sastra yang berbeda.

            Sastra yang beda bisa diadakan dengan cara memodifikasi sedemikian rupa sastra yang sudah ada. Modifikasi bisa dilakukan dengan menambahkan dengan hal-hal yang diambil dari sana sini. Bisa pula dengan cara mengurangi, menyesuaikan, “meluruskan” bila mereka berpikir sastra yang ada itu bengkok, dan mungkin juga dengan cara menggantinya. Sehingga akhirnya agak memperihatinkan bila untuk satu buah canang orang menjadi bingung karena banyaknya sastra yang mengatur. Itulah salah satu perbedaan candi dengan sastra. Ketika para Kawi mengatakan diri mereka sedang membangun sebuah candi-bahasa, apakah mereka maksudkan candi bahasa itu “bangunan” personal? Jika “ya” maka pembenarnya bukan lagi sastra yang sudah ada. Pembenarnya adalah berhasil-tidaknya pembangunan candi bahasa itu mengantarkan mereka pada pada “pertautan dengan Yang Tak Terpikirkan” (sandhi ning acintya).

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*