BERDHARMATULA DENGAN UMAT HINDU PURA EKA BHAKTI, SAPTOSARI, GUNUNGKIDUL

Gunungkidul-(SHD), Minggu  11 Februari 2017,  dilaksanakan Dharma Tula oleh panitia Nyepi D.I. Yogyakarta Tahun Baru Saka 1939 di Pura Eka Bhakti, Pucung,  Planjan,  Saptosari, Gunungkidul.  Dharma Tula yaitu suatu metode atau cara  untuk menanamkan nilai-nilai agama hindu melalui berdialog ,  kegiatan ini dilaksanakan bertujuan untuk menjalin rasa kekeluargaan dan persaudaraan diantara umat Hindu, menjalin komunikasi antar umat Hindu dalam mendalami ajaran agama Hindu .

Kegiatan dharma tula merupakan kegiatan yang sangat penting dilakukan terkhusus dittujukan untuk pada kaum pemuda dan mahasiswa yang akan menjadi generasi penerus Hindu kedepannya. Karena melihat banyaknya kasus yang terjadi yaitu pemuda Hindu yang pindah ke agama lain, sehingga sangatlah perlu pelaksanaan kegiatan diskusi atau dharma tula yang akan memberikan motivasi spiritual kepada kaum muda dan mahasiswa maupun sesepuh terutama  yg ada didaerah Pucung ini agar mereka mempunyai keyakinan yang kokoh akan agama yang di anutnya yaitu Hindu. Kegiatan  sangat membantu para mahasiswa dan pemuda untuk mengetahui kesaksian akan kebenaran Dharma di dalam Hindu seperti yang dibawakan oleh pemateri. Karena sasaran dari kegiatan ini bukan hanya bagi mahasiswa Hindu tetapi juga bagi Umat Hindu dan Pemuda yang ada di daerah Pucung, Saptosari.

Kegiatan dharma tula ini dilaksanakan dalam rangka menyambut Hari Nyepi Tahun Baru Saka 1939, yang dilaksanakan oleh Panitia Nyepi DIY yaitu dengan pemateri I Ketut Sandiada,S,Sos dan Budi Sanyoto.S.Pd.H beliau memberikan penjelasan tentang jadwal atau rangkaian Hari Raya Nyepi Tahun Baru Saka 1939 selain itu beliau juga memberikan pembinaan umat memberikan penjelasan bagaimana sejarah hindu bali, makna dari dharmatula itu sendiri dan yang paling menarik ialah masyarakat antusias dengan Dharmatula ini para sesepuh dan pemuda memberikan pertanyaan “apakah makna dari padmasana”.

I Ketut Sandiada dan Budi sanyoto memberikan penjelasan bahwa “Sebelum kura-kura di paling bawah adalah yoni yang merupakan bangunan berbentuk tepas yang disebut pradana dan prakerti. Di atas yoni ada bunga teratai yang merupakan simbol stana Dewa Brahma (Brahma Bhaga). Dewa Brahma disimbolkan sebagai Bunga teratai karena dalam Kitab Purana (Brahma Purana, Wisnu Purana dan Siwa Purana), disebutkan Dewa Brahma lahir dari Bunga Teratai yang keluar dari pusar Brahman.

Kura-kura (empas) Bhedawangnala

Bhedawangnala ini dililit oleh dua ekor naga.

Kura-kura merupakan simbol stana Dewa Wisnu (Wisnu Bhaga). Bhedwangnala berasal dari Bahasa Kawi, ‘bheda’ yang berarti lain, kelompok, selisih, dan ‘wang’. Artinya peluang, kesempatan, ‘nala’ artinya api. Jadi Bhedawangnala adalah sekelompok yang meluangkan adanya api. Pengertian api ini bisa berarti nyata sebagai api bumi alias magma, dan bisa bermakna simbol dari energi kekuatan hidup. Karena letaknya di bawah maka Bhedawangnala ini bermakna sebagai kekuatan bumi ciptaan Hyang Widhi yang perlu dijaga dan ditumbuh-kembangkan.

Naga 2 ekor

Kedua naga ini, Naga Anantabhig dan Basuki, membelit kura-kura.

sebenarnya ada 3 naga dalam padmasana yaitu Naga Anantabhoga sebagai simbol dari tanah dan batu-batuan yang membungkus magma (Bhedawangnala). Lapisan berikutnya adalah lapisan air (air laut, danau sungai) yang disimbolkan dengan Naga Basuki. Sedangkan lapisan terakhir adalah udara yang di angkasa, disimbolkan sebagai naga yang memakai sayap.

Naga Anantabhoga dan Basuki membelit kura-kura, sedangkan Naga Taksaka (yang bersayap) digambarkan pada singgasana di bagian atas dari padmasana yang berbentuk menyerupai kursi, Untuk segi estetika Naga Taksaka ini dilukiskan 2 ekor, di kanan dan kiri kursi.

Naga Anantabhoga dan Basuki melambangkan alam bawah atau bhur loka. Badan padma termasuk singgasana melambangkan alam bwah dan madya loka sebagai atmosfer bumi. Sedangkan swah loka tidak dalam wujud bangunan tetapi pesimpen pedagingan.

Patung Garuda

Terletak di bagian belakang padmasana.

Merupakan kendaraan Dewa Wisnu, simbol Hyang Widhi dalam manifestasi sebagai pemelihara.

Patung Angsa

Terletak di bagian belakang padmasana.

Merupakan simbol Sang Hyang Saraswati bermakna sebagai ilmu pengetahuan, ketelitian, kewaspadaan, ketenangan dan kesucian.

Karang Gajah, Karang Boma, Karang Buun, dll

Hiasan ini merupakan simbol keanekaragaman alam semesta.” jelasnya.

Jadi dari semua uraian di atas, kita bisa simpulkan bahwa padmasana merupaan stana Hyang Widhi Wasa yang dengan kekuatanNya telah menciptakan manusia sebagai makhluk utama dan alam semesta sebagai pendukung kehidupan, senantiasa perlu dijaga kelanggengan hidupnya. (Ayu Made**)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*