BATAS SAKRAL KATA

Oleh

Ida Made Windya

Dalam beberapa bahasa di dunia ini, kata-kata dikelompokkan berdasarkan jenis kelaminnya. Pada umumnya ada kata-kata berjenis kelamin laki-laki (maskulin), berkelamin perempuan (feminim) dan berkelamin netral. Klasifikasi berdasarkan jenis kelamin ini menunjukkan bahwa kata-kata dalam bahasa-bahasa tersebut dipandang hidup seperti manusia. Dengan jenis kelamin yang berbeda, manusia bisa mengembang-biakkan diri mereka. Berbeda dengan bahasa, jenis kelamin itu tidak dipergunakan untuk mengembang-biakkan kata-kata, tapi untuk mengetahui bentuk-bentuk perubahan yang akan dialami oleh kata-kata tersebut. Teorinya, beda jenis kelamin maka berbedalah bentuk perubahan yang akan dialami oleh kata.

            Bahasa Sansekerta adalah salah satu contoh bahasa yang mengelompokkan kata berdasarkan jenis kelamin sebagai salah satu indikatornya. Kata-kata itu seperti “hamba”, ada laki-laki, ada perempuan, ada banci atau dihaluskan dengan sebutan netral. Dalam pandangan-dunia Hindu, para hamba itu mengabdi dan tunduk pada penguasanya yang berjenis kelamin perempuan, yaitu Dewi Saraswati. Selanjutnya dalam pandangan-dunia itu, Sang Dewi yang perempuan itu mengabdikan seluruh kesaktian kata-katanya kepada “suami” yang berjenis kelamin laki-laki yaitu Dewa Brahma. Sepasang suami-istri penguasa Pengetahuan dan Kata itu ternyata tidak mutlak. Di atas mereka ada Pengendali yang lebih berkuasa, yaitu Shiwa. Pada umumnya Shiwa dikenal berjenis kelamin laki-laki. Namun dalam konsep Paramashiwa, ia bukan laki bukan perempuan. Apakah ia Netral? Tidak juga. Karena netral adalah sebutan untuk satu sifat. Paramashiwa disebutkan ada di luar dari apa yang bisa disifatkan. Ia tidak bisa disifatkan.

            Apa relevansi pandangan-dunia Dewa-Dewa yang sistematis itu dengan Kata? Pandangan-dunia Hindu itu menunjukkan bahwa jutaan Kata yang ada, yang pernah ada, dan yang akan ada, adalah hasil evolusi yang panjang dari “sesuatu” yang tidak dapat disifatkan. Sesuatu itu berevolusi, dan pada evolusi yang kesekian terbentuklah Pengetahuan dan Kata yang dapat disifatkan. Semakin berevolusi Pengetahuan dan Kata itu maka semakin berkembang dan kompleks sifat-sifatnya. Oleh karena itu, sering dikatakan bahwa sesuatu yang memiliki sifat tidak akan bisa dimasuki oleh sesuatu yang tidak memiliki sifat. Dengan ungkapan berbeda sering dikatakan bahwa ITU tidak bisa dikatakan dengan kata-kata, tapi karena Itu manusia bisa berkata-kata. Maksudnya, Kata adalah satu konstruksi yang memiliki keterbatasannya.

            Keterbatasan kata terletak pada sifat-sifat yang dimilikinnya. Kata sebagai Saraswati adalah Shakti, yang penuh (siddhi) dan menyebar ke mana-mana tanpa ada yang tidak disusupinya (wisesa). Kata sebagai Brahma adalah Widya, yaitu pengetahuan. Shakti, siddhi, widya, adalah sifat-sifat yang mengikat justru oleh ke-penuh-annya dan kemenyusupan-nya. Namun terlepas dari keterikatan dan keterbatasan itu, pandangan-dunia itu menunjukkan bahwa Kata adalah sakral. Dengan Katalah orang akan sampai pada sifat kepenuhan dan kemenyusupan itu. Untuk sampai  pada Yang Itu, sifat-sifat Kata dilepaskan. Pandangan sakral itu tidak membedakan Kata dengan Tubuh. Tubuh adalah juga evolusi yang kesekian. Tubuh penuh oleh sifat-sifatnya. Dengan sarana Tubuh orang akan bisa mencapai apa yang di atas disebut shakti, siddhi, widya itu. Pesan ajarannya, bila berhasil melepaskan sifat-sifat tubuh itu, maka akan sampai pada ITU.  Bagaimana keadaannya di situ? Itulah yang tidak bisa dikatakan dengan kata-kata. Karena kata-kata hanya sampai pada yang bisa disifatkan. Sakral adalah sifat.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*