“ARISAN BERUK” (Kearifan Lokal dalam Kebertahanan Umat Hindu Di Gunung Kidul)

beruk

Gunung Kidul merupakan salah satu kabupaten yang berada di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta, secara administratif terdiri dari 18 kecamatan. Di kabupaten inilah salah satu basis umat Hindu yang ada di Yogyakarta, hampir 40 persen dari jumlah umat Hindu yang ada di yogyakarta merupakan warga asli Gunung Kidul. Demikian pula dengan tempat suci Pura, dari 26 Pura yang ada di Yogyakarta maka 15 diantaranya berada pada wilayah Gunung Kidul.

Secara Geografis, Gunung Kidul merupakan wilayah berkarang dan tandus, Jauh berbeda dengan Kabupaten/Kota yang ada di Yogyakarta. Kondisi kehidupan yang keras menyebabkan pola kehidupan masyarakat dan secara khusus umat Hindu  menata hidupnya untuk bertahan. Dalam sebuah perjalanan Pembimas Hindu (Ida Bagus Wika Krishna), Ketua PHDI Gunung Kidul (Purwanto), dan Penyuluh Hindu (Dwi Winarto) menyambangi kegiatan ibu-ibu umat Hindu yang berpusat di dua Pura, yaitu Pura Eka Bhakti dan Pura Derpo Kusumo. Dari dua kelompok arisan ibu-ibu ini ada hal menarik didalam menjaga solidaritas dan kebertahanannya.

“Arisan Beruk” mungkin bisa dipinjam untuk dilekatkan pada dua kelompok arisan ibu-ibu Umat Hindu ini. Beruk merupakan batok kelapa yang telah kering dan digunakan sebagai alat pengukur. Dimulai dari 4 tahun yang lalu, setiap orang mengumpulkan beras sejumlah satu beruk penuh. Dari kumpulan inilah dimulai simpan pinjam beras. Setiap individu yang meminjam beras dengan ukuran satu beruk penuh maka nantinya harus dikembalikan dengan bunga satu cangkir beras. Hingga kini masing-masing kelompok telah memiliki kas sejumlah 5 kuintal beras.

Kegiatan ini tentu saja menjadi penting dalam proses kebertahanan umat Hindu, selain kegiatannya yang dilaksanakan di pura maka sebelum memulai diawali dengan persembahyangan dan ceramah keagamaan. Selain itu pula, kegiatan yang dilaksanakan pada kamis paing dan kamis legi ini mencerminkan bhakti umat Hindu di Gunung Kidul kepada Hyang Widhi ditengah Himpitan kehidupan. Apabila menjelang Hari Raya keagamaan maka Bunga beras yang terkumpul akan diserahkan ke Pura untuk dijadikan bahan persembahan Yadnya.

Pada kesempatan tersebut, ibu-ibu memberikan salah satu beruk yang telah digunakan sebagai alat ukur beras kepada pembimas Hindu. Beruk ini secara simbolik mewakili rasa Bhakti, Solidaritas dalam mempertahankan Kehinduan di dalam diri. Sebuah spirit kehinduan yang patut di teladani. (7/2/2013, GW)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*