Ardhanareswari (Siwa-Uma)

Di dalam ajaran Siwattwa, Tuhan disebut Bhattara Siwa, merupakan satu-satunya kebenaran abadi, larut dan kuasa atas alarn semesta. Beliaulah yang menjadi inti hakekat dan sang “ADA” dan diberikan gelar atas kuasa yang dimilikinya oleh “ada” lainnya. Dalam Mytologi Hindu di dalam melaksanakan proses penciptaan yang tiada awal akhir, Beliau ditemani oleh saktinya (Uma atau Durga), dari sinilah muncul konsep “Ardhanareswari” yang merupakan gabungan dan sifat maskulin dan feminim. Konsep Ardhanareswari ini pun masuk dan memberi jiwa dalam ajaran Hindu di Nusantara dan ditegaskan dalam lontar Padma Bhuwana yang menyebutkan:

Yan ring Siwa, mangga Siwa Uma, yan ring Budha mangga adwaya adwayajnana, Sanghyang prajna parimitam. Ida paragyan Ardhanareswari, maraga rwa bhineda, akasa pratiwi, sor lawan luhur, toya aghni, pasuk wetu, pradhana purusa, akretti prakretti, rumaga bapebu, sakala niskala (Padma Bhuwana, 2b).

Artinya:
Apabila dalam ajaran Siwa, berwujud Siwa Uma, bila dalam ajaran Budha berwujud adwaya adwayajnana, Sang hyang prajna panimitam. Beliaulah wujud Ardhanareswani, berwujud Rwabhineda, langit bumi, bawah dengan di atas, air api, masuk keluar, pradhana purusa, prakretti, berwujud bapak ibu, sekala niskala.

Pada tatanan bentuk Beliau digambarkan sebagai dua asas yang sangat bertentangan namun tersimpul dalam jalinan yang tak mungkin terpisahkan, perbedaan ini hanya diadakan guna pemahaman manusia karena sesungguhnya Beliau adalah satu, sebagai ilustrasi “Bumi tiada tanpa langit dan begihi pula sebaliknya langit tiada tanpa bumi”. Secara lebih sistematis peranan Ardhaneswari dalam teori penciptaan di dalam lontar Purwaka Bhumi dikisahkan sebagai berikut;

“Ketika semesta masih kosong awal mula yang “ADA” hanyalah Sang Hyang, hakekat pertama adalah Sang Hyang Widhi Wisesa tanpa bentuk, tanpa warna dan tanpa teman maka timbullah keinginan Beliau untuk menciptakan Dewata, yang pertama lahir seorang wanita bernama Ni Canting Kuning (Bhattari Uma), yang kedua seorang putra bernama Kursika (Bhattara Iswara) kemudian Sang Garga (Bhattana Brahma), Sang Metri (Bhattara Mahadewa), Sang Krusya (Bhattara Wisnu) dan yang terakhir adalah Sang Pretanjala (Bhattara Siwa). Lalu diperintahkan Dewa yang empat oleh Sang Hyang Widhi (Sang Kursika, Garga, Metri dan Sang Kurusya) untukmenciptakan dunia, namun ditolak oleh keempat Dewa tersebut dan mereka akhirnya dikutuk menjadi Bhuta. Kemudian Ni Canting Kuning (Bhattari Uma) dan Sang Pretanjala (Bhattara Siwa) diperintahkan hal yang sama dan beliau berdua menyanggupinya sehingga terciptalah alam semesta. Suatu saat datang menghadaplah keempat saudara. Beliau yang sudah dikutuk memohon agar di ruwat kembali dan beranji akan selalu mentaati perintah. Beliau berdua kemudian menghadap Sang Hyang Widhi Wisesa menyampakan permohonan saudara-saudaranya, besabdalah Sang Hyang Widhi Wisesa:

Sang Hyang Widhi wisesa, lingira; “Sira sang hyang Siwa, arepa rama nira, anuddha mala sanak ira sadaya, anin sira kinon ingulun, arabya rabi laki nin Bhatari Uma, maka Ardhanareswari, maka gurune sanak ira sadaya, mapan sanak ira kawenang atemu lawan insun”. (Purwaka Bhumi).

Artinya:
Sang Hyang Widhi Wisesa bersabda “Sang Hyang Siwa, ramandamu hendak meruwat segala kekotoran semua saudaramu, tapi engkaulah yang aku perintahkan, agar mengambil istri dengan Bhatari Uma, sebagai Ardhanareswari, sebagai guru semua saudaramu, karena semua saudaramu tidak boleh bertemu dengan Aku.

Semenjak itulah Siwa-Uma di sebut Ardhanareswari (Bhattara Guru) yang menjadi gurunya para Dewa karena keempat dewa (Iswara, Brahma, Mahadewa, Wisnu) tidak diijinkan bertemu dengan Sang Hyang Widhi Wisesa hanya boleh menyampaikan kepada Bhatara Guru, setelah keempat saudaraNya diruwat sehingga menjadi dewa kembali dan menempati posisinya masing-masing, kemüdian bersamasama beliau menciptakan isi dunia guna meramaikan dan menyemarakkan alam yang didalamnya termasuk manusia.
Muwah anresti san hyang kabeh;
Bhatara iswara anadakaken paksi,
Bhatara Brahma andakaken sarpa,
Bhatara Mahadewa angadakaken
Bhatara Wisnu anadakaken mina,
Bhatara Ardhanareswari anadakaken sarwa tumuwuh. (Purwaka Bhumi)

Artinya:
Kemudian para Dewa lagi mencipta Bhatara Iswara menciptakân bangsa burung, Bhatara Brahma menciptakan binatang, Bhatara Mahadewa menciptakan Bhatara Wisnu menciptakan bangsa ikan, Bhattara Ardhanareswari menciptakan segala jenis makhluk hidup.

Setelah alam semesta diramaikan oleh ciptaan para Dewa yang salah satunya adalah manusia, maka berpesanlah para Dewa kepada manusia sebagai mahluk yang tertinggi karena telah dibekali akal dan pikiran sebagai pemimpin ciptaan lainnya dan dijawab pula oleh manusia sebagai kalimat pertama yang diucapkan kepada para Dewa.

Lingira Bhatara samuha; “E kita wisesa ring Bhuwana, amogha sakti kita, tan hana madani, sakwehing pada tumuwuh, kita misesa ringrat, haywa kita tan ri wiwitanta nuni, den bhakti ring kawitanta, iku Ia marga fling wisesa”, (Purwaka Bhumi).

Artinya:
Bersabda Bhatara semua :“Hai (manusia) engkaulah yang berkuasa di dunia, semoga memiliki kesaktian yang tak tertandingi oleh sekalian mahiuk hidup. Engkaulah yang memerintah di dunia. Namun jangan engkau lupa pada asal mulamu dahulu, bhaktilah pada leluhurmu. Itulah jalan terbaik, “Pakulun Bhatara Bhatari, ri asihnira, tontonana pangabhakti ning ulun, ring padanira Bhatara mwang Bhatari”, mangkana ligng ning manusya (Purwaka Bhumi).

Artinya:
“Oh yang mulia Bhatara Bhatari, oleh karena demikian kemurahan hati yang mulia, maka lihatlah bakti hamba kehadapan Bhatara dan Bhatari’ demikianlah kata-kata manusia.

Demikianlah konsep Ardhanareswari dalam mytologi Hindu Bébagai dua kepribadian, narnun intinya satu, yang mengadakan alam seznesta beserta isinya termasuk manusia sebagai rnakhluk tertinggi diantara ciptaan lain tanpa menghilangkan keagungan ciptaan Iainnya. Kalimat pertama yang diucapkan manusia penting sekali kiranya disimak secara mendalam khususnya dewasa ini ditengah kegalauan dan kebingungan manusia mencari arah tujuannya, karena merupakan janji hati untuk selalu berbhakti dan ingat kepada karunia Bhatara-Bhatari sebagai bukti bhakti. Di tengah kalutnya zaman kali ini adakah diantara kita untuk mengingat dan melaksanakan janji tersebut???

  • Penulis: Ida Bagus Wika Krishna, S.Ag, M.Si
  • Pembimas Hindu Kanwil Kemenag D.I.Yogyakarta

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*