50 SARATI BANTEN IKUT PEMBINAAN PEMBUATAN PRAKTEK UPAKARA

Swarahindu.com, Agama Hindu merupakan agama yang sangat yang lekat dengan ritual. Dalam melaksanakan sebuah ritual selalu menggunakan sajen atau sesaji, biasa disebut dengan banten oleh masyarakat bali. Untuk meningkatkan pemahaman tentang sesaji/banten maka, Bimas Hindu Kanwil Kementerian Agama D.I.Yogyakarta melaksanakan kegiatan Pembinaan Praktek Upakara Keagamaan Hindu. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada hari Jumat, 22 April 2016, bertempat di pura Bhakti Widhi, Dusun Bendo, Desa Beji, Kec. Ngawen, Kab.Gunungkidul. Pelaksanaan kegiatan pembinaan tersebut diikuti oleh 50 orang peserta, mereka adalah para sarathi banten yang bertugas untuk membuat sarana upakara.

IMG_3983 IMG_3873 IMG_3941 IMG_3957

Tujuan dilaksanakan kegiatan pembinaan praktek upakara keagamaan Hindu adalah untuk mengimplentasikan ajaran agama Hindu khususnya dalam hal upacara yadnya. Memberikan pengetahuan dan pemahaman tentang arti dan makna dari sarana upakara yang mereka praktekkan sehingga ketika membuat sarana upakara para sarathi mampu menularkan pengetahuannya pada umat Hindu yang lain.

IMG_4144 IMG_4146

Selanjutnya pada kegiatan tersebut dihadiri Pembimas Hindu Kanwil Kemenag D.I.Yogyakarta bapak Ida Bagus Wika Krishna, S.Ag, M.Si, Romo Pendande Puja Brata Jati dan ketua Lembaga Pendidikan Sarathi Ibu A.A. Widhiati. Kemudian pada acara tersebut, Ida Bagus Wika Krishna, S.Ag, M.Si memberikan sambutan sekaligus memberikan materi pada peserta yang hadir dalam kegiatan Pembinaan tersebut. Dalam sambutannya beliau menyampaikan pada peserta agar kegiatan tersebu sebagai tempat untuk belajar dan saling berkomunikasi yang nantinya peserta dapat menambah wawasan tentang sarana upakara.  Peserta diharapkan agar  meningkatkan dirinya dalam hal pembuatan sarana upakara dengan mengakulturasikan dengan upakara – upakara yang sudahada, dan apabila ada kekurangan dalam pembuatan upakara, maka bisa saling melengkapi. Sehingga umat Hindu yang ada di wilayah Gunungkidul semakin meningkat ketika umat melaksanakan ritual keagamaan, tanpa merubah ritual yang sudah berjalan di daerah itu.  Astungkara……

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*