PAGUYUBAN IBU-IBU PURA JAGADNATHA LAKSANAKAN PEMBINAAN DI DESA WISATA FLORY, SLEMAN

Sleman-(SHD), Pura Jagadnatha Banguntapan Bantul Yogyakarta sebagai Pura pusat segala aktifitas umat Hindu di Yogyakarta. Hampir  setiap waktu ada aktifitas keumatan Hindu Yogyakartayang diselenggarakan di Pura ini. Tentunya dari segala aktifitas tersebut sebagian melibatkan peran Parisada, Penyungsung dan kelompok Paguyuban umat Hindu Banguntapan. Sebagai bagian dari Paguyuban umat Banguntapan, Ibu-Ibu mengambil peran dalam kegiatan keagamaan.Sebuah organisasi yang menjadi cikal bakal dan sebagai kelompok Paguyuban Hindu yang paling tua di Yogyakarta, Paguyuban Ibu-Ibu Pura Jagadnatha Banguntapan Bantul Yogyakarta terus melakukan aktifitas keagamaan dan keumatan .

Menjadi kelompok Paguyuban yang sudah cukup lama maka perlu kiranya diadakan sebuah kegiatan penyegaran dan sekaligus pembinaan untuk seluruh anggota Paguyuban Ibu-Ibu Pura Jagadnatha Banguntapan Bantul Yogyakarta yang di selenggarakan pada hari Minggu tanggal 15 Oktober 2017 bertempat di Bali Deso Kampung Flory Tridadi Sleman. Semangat dan rasa keguyuban nampak dari jumlah peserta yang mengikuti acara tersebut. Lebih tepatnya acara ini kami selenggarakan sebagai sarana pembinaan dan yang utama kami dedikasikan untuk para Ibu-Ibu sepuh yang sungguh luar biasa dengan penuh semangat mengikuti pertemuan yang diselenggarakan setiap hari Minggu sore pukul !6.00 Wib sampai dengan pukul 18.00 Wib.

Acara yang diikuti oleh 100 peserta yang terdiri dari anak, dan ibu muda maupun Ibu-Ibu sepuh tersebut diisi dengan berbagai acara . Diawali dengan menghaturkan kekidungan Puspa Hati dan Wedharingtyas dilanjutkan mengaturkan Puja Trisandya dipimpin oleh Jero Gede Achir Murti Adiwiyono. Pembacaan kilas balik adanya Paguyuban Ibu-Ibu Pura Jagadnatha Banguntapan Bantul Yogyakarta disampaikan oleh Ibu Siswo Diharjo yang menyampaikan bahwa Paguyuban itu ada sejak tahun 1969 yang dengan anggota 60 orang dan tempat pertemuan yang masih diselenggarakan dirumah umat sekitar. Kemudian sekitar tahun 1975 sudah berdiri Pura Banguntopo maka kegiatanpun diselenggarakan di Pura tersebut dan mulailah terbentuknya Paguyuban. Secara resmi segala kegiatan yang berkaitan dengan Kewajiban anggota, simpan pinjam dan arisan diadakan sekitar tahun 1980 hingga saat ini dengan nama Paguyuban Ibu-Ibu Pura Jagadnatha Banguntapan Bantul Yogyakarta.

Dalam kesempatan itu juga mengundang Pembimas Hindu Kementerian Agama Daerah Istimewa Yogyakarta Bapak Ida Bagus Wika Krishna sebagai nara sumber untuk menyampaikan pembinaan dengan tema “ Peran Ibu-Ibu dalam meningkatkan Sradha dan Bakti Sebagai Umat Hindu Di Pura Jagadnatha Banguntapan Bantul Yogyakarta”. Pada kesempatan itu beliau menyampaikan bahwa Paguyuban Ibu-Ibu Pura Jagadnatha Banguntapan sebagai kelompok Paguyuban Hindu Yang paling tua di Yogyakarta untuk tetap menjaga eksistensinya hingga masa yang akan datang. Melihat semangat ibu-ibu Paguyuban dalam melakukan pelayanan dalam setiap kegiatan keagamaan sebagai pelayanan yang tidak terlihat orang lain dengan spirit pelayanan yang tulus iklas dan harus memerankan sebagai ibu, dalam pengabdian, dan juga ketika harus menjaga keluarga. Maka konsep wanita dalam Hindu memiliki posisi yang sangat penting sebagai istri dan ibu dari penerus Dharma. Bahwa jika seorang ibu ditempatkan sebagai perintis kecemerlangan, kemakmuran,kesejahteraan  didalam keluarga maka dimuliakan dan dibahagiakanlah keluaraga itu, dan peran ibu menentukan kebahagiaan di dalam sebuah keluarga. Dharma seorang wanita dan ibu adalah dimulai ketika menentukan pasangan , ketika mengandung, ketika harus menjelaskan sesuatu kepada anak, ketika tidak mampu dan harus bersandarkan kepada anak, ketika mengharap anaknya kelak dapat menuntun kedalam sebuah cahaya.

Sebagai penghargaan atas dedikasi para Ibu-Ibu sepuh menerima cinderamata dari Paguyuban Ibu-Ibu Pura Jagadnatha Bangutapan berupa Jarik batik jogja sebagai simbol untuk terus melestarikan  budaya yang di implementasikan dalam ajaran agama Hindu untuk diteruskan kepada generasi yang lebih muda, termasuk tradisi keguyuban yang sudah terjalin selama ini.

Pesan yang paling mendalam adalah untuk para Ibu-Ibu sepuh yang masih bisa mengenang perjuangan mereka ketika ingin bangkit untuk kembali kepada ajaran Sanathana Dharma di Bumi Mataram ini, dan tugas yang paling utama untuk kami generasi penerusnya adalah menjaga terus kelestarian Sanathana Dharma dengan dilandasi rasa keguyuban dalam sebuah organisasi tradisional Paguyuban Ibu-Ibu Pura Jagadnatha Banguntapan bantul Yogyakarta. (Mujirah**)

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*